<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menulis &#8211; Rumah #InspiraThur</title>
	<atom:link href="https://thurneysensimanjuntak.com/category/menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thurneysensimanjuntak.com</link>
	<description>Ruang Berbagi Lewat Tulisan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 Nov 2019 00:01:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.2.20</generator>

<image>
	<url>https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2021/02/cropped-Thur-Sketsa-1-32x32.jpg</url>
	<title>Menulis &#8211; Rumah #InspiraThur</title>
	<link>https://thurneysensimanjuntak.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>11 Kesan yang Membuatku Makin Sayang Kompasiana</title>
		<link>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/09/11-kesan-yang-membuatku-makin-sayang-kompasiana/</link>
				<comments>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/09/11-kesan-yang-membuatku-makin-sayang-kompasiana/#respond</comments>
				<pubDate>Sat, 09 Nov 2019 23:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Thurneysen]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[#11TahunKompasiana]]></category>
		<category><![CDATA[#BeyondBlogging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://thurneysensimanjuntak.com/?p=161</guid>
				<description><![CDATA[Sejak 4 tahun silam, tepatnya 29 April 2015, saya resmi memiliki akun di Kompasiana. Kalau mengenang kembali, maka alasan utamaku membuat akun di Kompasiana adalah <a href="https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/09/11-kesan-yang-membuatku-makin-sayang-kompasiana/" class="read-more-link">[more...]</a>]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<ul class="wp-block-gallery aligncenter columns-1 is-cropped"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana1.jpg" alt="" data-id="162" data-link="https://thurneysensimanjuntak.com/?attachment_id=162" class="wp-image-162" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana1.jpg 960w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana1-300x225.jpg 300w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana1-768x576.jpg 768w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana1-320x240.jpg 320w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana1-100x75.jpg 100w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption>Kompasianer Bareng  Prof. Dr. Bambang P. S. Brodjonegoro, Menteri PPN/Bappenas</figcaption></figure></li></ul>



<p>Sejak 4 tahun silam, tepatnya 29 April 2015, saya resmi memiliki akun di Kompasiana. Kalau mengenang kembali, maka alasan utamaku membuat akun di Kompasiana adalah sebagai tempat menuangkan gagasan dan pengalaman.</p>



<p>Sebenarnya waktu itu, saya sudah memiliki blog pribadi,
tetapi kurang tertata dengan baik, sehingga pengunjungnya pun sepi. Bisa dibayangkan,
kalau kita sudah menulis tapi tidak ada yang baca, rasanya sia-sia deh menulis
panjang lebar.</p>



<p>Tentu berbeda kalau di Kompasiana, selain karena sudah
memiliki segmen pembaca karena sudah “punya nama”, saya pun tidak perlu capek
untuk menata blog-nya. Karena kita tahu bahwa Kompasiana itu sendiri sudah
memiliki template standar.</p>



<p>Bisa dibayangkan dengan blog pribadi, sering merasa
tidak puas dengan template dan tampilannya, akhirnya waktu lebih banyak buat utak
atik blog daripada nulisnya.</p>



<p>Nah, setelah bergabung di Kompasiana, lambat laun saya
mulai menulis dan lama kelamaan semakin sayang dengan Kompasiana. Bahkan
sekarang, jauh lebih sayang lagi dari sebelumnya. </p>



<p>Mau tahu kenapa? </p>



<p>Pada tulisan ini, setidaknya saya akan merangkumkan 11 kesanku dengan Kompasiana, yang sekaligus menjadi alasanku untuk semakin sayang dengan Kompasiana pengusung slogan <strong><a href="https://www.kompasiana.com/">#BeyondBlogging</a></strong></p>



<p>#1 <strong>Kompasiana Membuatku Percaya Diri untuk Menulis</strong></p>



<p>Setelah lama vacuum menulis, maka tahun 2014 adalah
awal kebangkitanku&nbsp; untuk menulis
kembali. Ternyata saudara, tidak mudah lho untuk membangkitkan percaya diri kembali
dengan menampilkan tulisan ke ruang publik. </p>



<p>Ini mungkin efek terlalu lama “tidur “ di dunia tulis menulis.
Walau sudah mencoba beberapa kali, tetapi untuk urusan percaya diri itu masih tetap
saja minim.</p>



<p>Tetapi setelah bergabung dan mulai menulis di Kompasiana,
sepertinya saya baru mendapat “terapi percaya diri”. Kog bisa? Ternyata tulisan
pertamaku di Kompasiana mampu menembus tingkat keterbacaan sampai 500-an kali. </p>



<p>Bagi “newbie” seperti saya, ini adalah satu hal yang mustahil bila disbanding dengan blog sebelumnya. Walau tulisan pertama belum berhasil menggugah admin Kompasiana memberi label “pilihan” atau “artikel utama”, setidaknya dari sesama Kompasianer ternyata ada beberapa orang yang memberikan penilaian “menarik” dan “inspiratif”. Bagiku, itu cukup berhasil membuatku semakin bersemangat menulis.</p>



<p>#2 <strong>Kompasiana Membuatku Terbiasa dan Makin Terampil Menulis</strong></p>



<p><strong>“</strong>Alah
bisa karena biasa” begitu kata pepatah. Setelah memiliki akun di Kompasiana.
Akhirnya saya lambat laun makin terbiasa untuk menulis. Kalau melihat statistik
terakhir di Kompasiana, sekarang saya sudah menulis sekitar 317 tulisan, belum
lagi di blog pribadi lainnya. </p>



<p>Dari 317 tulisan tersebut, terdapat 226 tulisan yang
masuk kategori pilihan. Sementara 9 tulisan masuk kategori artikel utama.</p>



<p>Nah, untuk keterampilan menulis sendiri, saya pribadi mampu merasakan perkembangannya dari waktu ke waktu. Semakin mudah mengolah gagasan dan merangkainya dalam tulisan. Kalau dulu, mau menulis perlu butuh waktu panjang untuk memulai sebuah tulisan, sekarang sudah berbeda jauh.</p>



<p>#3 <strong>Kompasiana Memperluas Pertemananku</strong></p>



<p>Jujur, ketika belum bergabung dengan Kompasiana, saya
tidak memiliki banyak teman yang memiliki ketertarikan di dunia tulis menulis.
Tetapi setelah bergabung, saya menemukan orang-orang yang sangat antusias
menulis dengan berbagai latar pengalaman . Ada yang masih “newbie” seperti
saya, ada pula yang sudah melanglang buana di berbagai media.</p>



<p>Intinya, kehadiran mereka telah menjadi “bahan bakar” yang
dapat menggerakkanku untuk terus menulis. </p>



<p>Setiap bertemu dengan para Kompasianer di berbagai even, motivasi dan inspirasi tidak berhenti mengalir dari mereka.</p>



<ul class="wp-block-gallery aligncenter columns-1 is-cropped"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana2-1.jpg" alt="" data-id="164" data-link="https://thurneysensimanjuntak.com/?attachment_id=164" class="wp-image-164" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana2-1.jpg 960w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana2-1-300x225.jpg 300w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana2-1-768x576.jpg 768w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana2-1-320x240.jpg 320w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana2-1-100x75.jpg 100w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption>Nangkring pertamaku di Kompasiana bersama PALYJA</figcaption></figure></li></ul>



<p>#4 <strong>Kompasiana Menambah Pengetahuan dan Pengalaman Baru</strong></p>



<p>Setelah hampir setahun di Kompasiana (2016), saya baru
tahu kalau Kompasiana itu ternyata sering mengadakan even, seperti nangkring,
visit, ngoplah, dan dan masih banyak lagi. Ternyata melalui kegiatan seperti
ini, banyak pengetahuan dan informasi baru yang didapat diperoleh dari
narasumber.</p>



<p>Kemudian dari setiap pengetahuan dan informasi baru
tersebut, sangat membantu saya untuk tetap konsisten menulis di Kompasiana.
Bahkan dari berbagai pengetahuan dan informasi yang disampaikan narasumber, dapat
menjadi perbendaharaan gagasan untuk menulis pada beberapa tulisan berikutnya.
Bagaimana? Beruntung bangat ya kalau ikut even?</p>



<p>Sekedar mengenang kembali, bahwa even Kompasiana yang pertama sekali saya ikuti adalah Nangkring Bersama PALYJA di Instalasi Pengolahan Air (IPA 1) di PALYJA Pejompongan (21/3/2016) yang mengusung tema #BersamaDemiAir. </p>



<p>#5 <strong>Kompasiana dan Pihak yang Bekerjasama Menghargai Tulisanku</strong></p>



<p>Kompasiana ternyata bukan saja aktif menyelenggarakan
even seperti yang telah saya utarakan di atas, tetapi setelah mengadakan even
tersebut umumnya akan diajak menulis, dan tulisan tersebut pun dilombakan dalam
bentuk “Blog Competition” atau “Review”. Ada yang tertutup bagi peserta yang
hadir saja, ada pula yang terbuka untuk keseluruhan Kompasianer.</p>



<p>Nah, hingga sekarang, dari berbagai tulisanku yang pernah
diikutsertakan pada even lomba menulis di Kompasiana, setidaknya sudah pernah
menang lomba sebanyak 14 kali. </p>



<p>Adapun tulisan pertamaku yang menang lomba adalah hasil review dari kegiatan Nangkring Kompasiana – PALYJA (21/3/2016) dan yang terakhir dari Blog Competition yang diselenggarakan Kompasiana – Bank Indonesia baru-baru ini.</p>



<p>#6 <strong>Karena Kompasiana, Orang Lain Mengakuiku sebagai Penulis</strong></p>



<p>Harus diakui, bahwa salah satu hal positif dari menulis
di Kompasiana, ternyata mampu memberi nilai tambah pada diri. Misalnya, orang
di sekitarku bahkan di tempat lain, ternyata ada yang memberikan pengakuan kalau
saya adalah seorang penulis. </p>



<p>Pengaruhnya banyak lho! Salah satunya, saya pernah
dipercaya menjadi narasumber untuk “Training Menulis” dan Pembimbing
Ekstrakurikuler Menulis. Tidak sedikit pula yang pernah menghubungiku secara
pribadi untuk berkonsultasi seputar tulis menulis. Baik dari kalangan pelajar
maupun profesional.</p>



<p>Intinya, melalui dunia tulis menulis ini, saya bersyukur pada akhirnya bisa menjadi berkat dan menginspirasi orang lain. </p>



<p>#7 <strong>Kompasiana Pernah Memberikan Kesempatan untuk Ikut Liputan Eksklusif</strong></p>



<p>Ketika aktif menulis, ternyata ada banyak cara yang
dilakukan oleh Kompasiana untuk menghargai dan mengembangkan para Kompasianer.
Salah satunya yang pernah saya rasakan adalah ketika dipercaya beberapa kali
untuk ikut melakukan Liputan Eksklusif.</p>



<p>Bagiku, kesempatan ini sangat langka dan berharga. Selain mampu membangkitkan semangat menulisku, ternyata menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk terus mengepakkan sayap.</p>



<p>#8 <strong>Kompasiana Menguji “Adrenaline” Menulisku dengan Flash Blogging</strong></p>



<p>Flash Blogging adalah sesuatu yang baru untukku. Saya
baru pernah mencobanya setelah bergabung dengan Kompasiana. Ini benar-benar
menguji “adrenaline” dalam menulis. </p>



<p>Penulis pun ditantang dengan waktu yang sangat singkat
dengan topik yang baru diberitahu saat even mau berlangsung. Benar-benar
menegangkan, butuh fokus dan konsentrasi.</p>



<p>Nah, salah satu even Flash Blogging yang pernah
diadakan Kompasiana, dan sangat berkesan bagi saya pribadi adalah dalam rangka
menyambut HUT RI 72, Agustus 2017. </p>



<p>Berharap uji nyali seperti ini sering-sering dilakukan oleh Kompasiana, karena dapat melatih kemampuan untuk menulis cepat disaat situasi yang menegangkan.</p>



<p>#9 <strong>Kompasiana Mempertemukanku para Kompasianer di Ajang Akbar, Kompasianival</strong></p>



<p>Bagi Kompasianer,
Kompasianival adalah ajang dapat mempertemuakan (kopdar). Saya sendiri sudah
pernah mengikuti ajang ini sebanyak dua kali. Pertama ketika diadakan di SMESCO
(2016) dan kedua di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan (2017). </p>



<p>Ternyata seru juga lho! Selain dapat mengikuti berbagai aktivitas bermanfaat, dapat juga menjadi ajang silaturahmi dan berkenalan dengan para Kompasianer.</p>



<ul class="wp-block-gallery aligncenter columns-1 is-cropped"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana3.jpg" alt="" data-id="165" data-link="https://thurneysensimanjuntak.com/?attachment_id=165" class="wp-image-165" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana3.jpg 960w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana3-150x150.jpg 150w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana3-300x300.jpg 300w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana3-768x768.jpg 768w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Kompasiana3-100x100.jpg 100w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption>Penulis bersama Pak Tjip (Kompasianer yang menetap di Australia)</figcaption></figure></li></ul>



<p>#10 <strong>Kompasiana Mempertemukanku dengan Para Menteri</strong></p>



<p>Saya tidak pernah terbayang bisa bertemu orang hebat
sekelas menteri kalau bukan karena berada di Kompasiana. Hebatnya, Kompasiana
ternyata mampu mendatangkan para menteri di tengah-tengah kesibukannya yang
sangat padat.</p>



<p>Misalnya, selama periode Kabinet Indonesia Kerja (2009-2014), saya pernah bertemu dengan dengan Thomas Lembong, Bambang P. Brojpnegoro, Retno Marsudi dan Sri Mulyani, pada acara nangkring Kompasiana dan juga di Kompasianival.</p>



<ul class="wp-block-gallery columns-1 is-cropped"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/menteri.jpg" alt="" data-id="166" data-link="https://thurneysensimanjuntak.com/?attachment_id=166" class="wp-image-166" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/menteri.jpg 600w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/menteri-300x251.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure></li></ul>



<p>#11 <strong>Berkesempatan Merayakan Ulang Tahun Kompasiana Ke-11</strong></p>



<p>Nah ini dia kesan yang paling akhir, baru kali ini bisa ikut merayakan syukuran <strong><a href="https://www.kompasiana.com/">#11TahunKompasiana</a></strong>. Tepatnya, pada acara Kumpul Rame Sore-Sore (KURSOR) &nbsp;bareng Kompasianer Oktober lalu. </p>



<p>Saya pun turut meluapkan kegembiraan saat itu, apalagi baru meneriman penerimaan penghargaan dari Blog Competition yang dilaksanakan Kompasiana dengan Bank Indonesia, hehehe&#8230;</p>



<p>Akhir kata, saya mengucapkan selamat Ulang Tahun ke-11 Kompasiana dan saya akan menutup dengan pantun. </p>



<p><em><strong>Naik angkot ke terminal Amplas Lewat jalan Menteng Raya Selamat ulang tahun kesebelas Semoga Kompasiana makin jaya </strong></em></p>



<p><em><strong>Cari kayu bakar di hutan rimba Ketemu kancil di balik semak Selamat ulang tahun Kompasiana Semoga platformnya tetap semarak </strong></em></p>



<p><strong><em>*****</em></strong></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/09/11-kesan-yang-membuatku-makin-sayang-kompasiana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>Merajut Asa: Anak Didik Jadi Sastrawan dan Ilmuan Terpandang</title>
		<link>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/06/merajut-asa-anak-didik-jadi-sastrawan-dan-ilmuan-terpandang/</link>
				<comments>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/06/merajut-asa-anak-didik-jadi-sastrawan-dan-ilmuan-terpandang/#respond</comments>
				<pubDate>Wed, 06 Nov 2019 12:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Thurneysen]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://thurneysensimanjuntak.com/?p=153</guid>
				<description><![CDATA[Siang itu, sebelum sesi ekstrakurikuler dimulai, seorang peserta didik datang menghampiriku. Wajahnya terlihat gembira. Sepertinya sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar penting. Ia pun mulai <a href="https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/06/merajut-asa-anak-didik-jadi-sastrawan-dan-ilmuan-terpandang/" class="read-more-link">[more...]</a>]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/ekskul-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-154" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/ekskul-1024x768.jpg 1024w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/ekskul-300x225.jpg 300w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/ekskul-768x576.jpg 768w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/ekskul-320x240.jpg 320w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/ekskul-100x75.jpg 100w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/ekskul.jpg 1060w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>



<p>Siang itu, sebelum sesi ekstrakurikuler dimulai, seorang peserta didik datang menghampiriku. Wajahnya terlihat gembira. Sepertinya sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar penting. Ia pun mulai membuka pembicaraan.</p>



<p>&#8220;Pak Thur, kemarin saya dapat email dari penyelenggara Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan Bank Indonesia.&#8221; Ujar Rionanda.</p>



<p>&#8220;Isinya tentang apa Nak?&#8221; tanyaku penasaran.</p>



<p>&#8220;Bank Indonesia meminta ijin agar artikel yang kutulis ikut dibukukan.&#8221; Sembari Rionanda membuka email di laptopnya.</p>



<p>&#8220;Katanya, buku itu setelah dicetak akan dibagikan untuk kalangan internal Bank Indonesia sebagai bagian dari kebanggaan Indonesia menjadi tuan rumah IMF-WBG Annual Meetings 2018, serta ke berbagai perguruan tinggi sebagai sarana pembelajaran mahasiswa dan masyarakat.&#8221; Begitu Rionanda melanjutkan informasinya.</p>



<p>&#8220;Wah hebat sekali kamu nak, tidak sia-sia perjuanganmu selama ini. Selamat ya Rionanda! Tetap giat berlatih dan terus menginspirasi teman-temanmu.&#8221; Sambil ikut membaca email dari pihak penyelenggara.</p>



<p>Rionanda adalah salah seorang peserta Ekstrakurikuler Menulis. Rionanda mulai bergabung sejak awal tahun ajaran 2018/2019, tepatnya setelah duduk di bangku kelas XII. &nbsp;Sebelumnya, Rionanda adalah anak Ekstrakurikuler Olimpiade Sain Nasional (OSN). Ekstrakurikuler tersebut telah digelutinya sejak duduk di bangku kelas X dan XI. Tapi pada tahun ajaran 2018/2019, Ekstrakurikuler OSN akan melakukan regenerasi. Alasannya karena tahun ajaran ini, OSN sudah tidak mungkin lagi diikuti oleh siswa kelas XII. Rionanda pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Ekstrakurikuler Menulis. “Hitung-hitung mencoba tantangan baru”. Begitulah alasan Rionanda.</p>



<p>Tidak lama berselang, setelah bergabung dengan Ekstrakurikuler Menulis, Rionanda menunjukkan prestasi yang cemerlang. Tidak kalah dengan prestasinya ketika masih aktif di Ekstrakurikuler OSN. Salah satunya, seperti yang sudah diceritakan diawal. Sebuah artikel yang dikerjakan di kelas ekstrakurikuler ternyata mendapat apresiasi dari pihak penyelenggara Lomba Menulis Artikel Bank Indonesia. Walau tidak berhasil menjadi juara, tapi setidaknya karya tersebut menjadi artikel pilihan yang turut dibukukan oleh pihak penyelenggara lomba. Tentu hal ini tidak lepas dari kualitas dan kebermanfaatan tulisannya bagi khalayak umum.</p>



<p>Disamping itu, Rionanda juga memiliki berbagai prestasi lainnya. Rionanda pernah menjuarai Lomba Penulisan Esai Tingkat SMA/Sederajat Se-Jabodetabek sebagai Juara Ketiga. Lomba ini diselenggarakan oleh Museum Nasional Perumusan Proklamasi (Munasprok) dalam rangka menyambut HUT RI Ke-73.&nbsp;Sebagai Juara Ketiga Lomba Karya Jurnalistik Humas Kabupaten Bekasi dalam rangka menyambut hari jadi Kabupaten Bekasi yang ke-68. Juara pertama Lomba Esai yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bekasi yakni dalam rangka memaknai momentum sejarah Sumpah Pemuda bagi generasi milenial. Serta Juara Pertama Lomba Esai Sejarah yang bertema Generasi Milenial sebagai Pahlawan Masa Kini yang diselenggarakan di SMA 5 Tambun, Bekasi. Bahkan hingga sekarang Rionanda semakin gemar menulis di sosial blog seperti Kompasiana dan Qureta.</p>



<p>Selain Rionanda, ada juga temannya yang berprestasi di Ekstrakurikuler Menulis. Diantaranya, Michael CB, Rebecca dan Verga. Michael CB pernah menjadi juara harapan dua ketika mengikuti lomba di Munasprok serta juara dua pada Lomba Menulis Esai di SMA 5 Tambun, Bekasi. Sementara Rebecca dan Verga berhasil menulis buku antologi yang bertemakan &#8220;Cinta Sejatiku&#8221; yang telah diterbitkan oleh sebuah penerbit indie di Kediri.</p>



<p>Itulah sebagian prestasi dari peserta Ekstrakurikuler Menulis di tahun ajaran yang sedang berjalan, 2018/2019. Sementara di tahun ajaran sebelumnya, 2016/2017 dan 2017/2018, prestasi peserta didik Ekstrakurikuler Menulis juga tidak kalah dengan prestasi peserta didik tahun ajaran ini. </p>



<p>Tapi bagiku sebagai pembimbing, prestasi peserta didik seperti juara lomba, bukan tujuan utama dari Ekstrakurikuler Menulis. Walaupun penting sebagai gambaran perkembangan peserta didik. Tapi, ada satu hal yang jauh lebih penting dari hal itu. Perubahan yang terjadi pada peserta didik. Misalnya, dari seluruh peserta didik, ternyata ada peserta didik yang telah memiliki inisiatif dan kemandirian dalam menulis. Artinya, tanpa penugasan pun sudah dengan senang hati menulis di luar kegiatan ekstrakurikuler. Ada juga yang semakin senang mendiskusikan hal-hal yang berbau literasi. Serta ada juga yang kemampuan menulisnya semakin berkembang. Inilah kebahagianku sebagai pembimbing.</p>



<p><strong>Berawal dari Training di Rumah Perubahan</strong></p>



<p>Mungkin pembaca ada yang ingin bertanya, bagaimanakah proses lahirnya Ekstrakurikuler Menulis di tempatku mengajar? Apa peranku dalam mengembangkan ekstrakurikuler tersebut? Oh iya, sebelumnya saya mau memberitahu kalau saya mengajar di SMA Dian Harapan Lippo Cikarang. Sekolah ini adalah salah satu sekolah swasta yang ada di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.</p>



<p>Sekitar tiga tahun yang lalu, tepatnya di awal tahun 2016, saya pernah berdiskusi dengan kepala sekolah agar menambah Ekstrakurikuler Menulis. Mengingat hal tersebut merupakan kebutuhan peserta didik yang memiliki minat dan bakat menulis. Saya sendiri melihat bahwa ada potensi tersebut di kalangan peserta didik ketika mengadakan berbagai penugasan dalam pembelajaran di kelas. Bahkan aku pernah memberikan tantangan penugasan kepada siswa kelas XII untuk mengirimkan karyanya di harian nasional. Ternyata tantangan tersebut disanggupi oleh beberapa orang siswa. Tidak tanggung-tanggung, karya mereka dimuat di harian Kompas cetak pada waktu itu. Ada juga yang dimuat di majalah.</p>



<p>Menurut saya, peserta didik yang memiliki minat dan bakat di bidang penulisan tentu butuh bimbingan, motivasi dan inspirasi. Berharap mereka berani dan mau disiplin untuk menulis. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kepala sekolah akhirnya menerima saran yang saya ajukan dan diberikan kesempatan membuka Ekstrakurikuler Menulis. Saya sendiri yang dipercaya menjadi pembimbing dari ekstrakurikuler tersebut.</p>



<p>Keberanian menerima tantangan dan tanggung jawab menjadi pembimbing ekstrakurikuler bukan tanpa alasan atau sekedar coba-coba. Setidaknya saya memiliki semangat yang kuat untuk mengembangkan diri terlebih dahulu. Bahkan sebagai guru yang harus “ing ngarso sung tulodo” saya harus memberikan contoh. Sebelum memberi tugas menulis kepada anak, maka saya harus terlebih dahulu menulis. Sebelum berharap anak disiplin dan konsisten menulis, maka saya harus terlebih dahulu disiplin dan konsisten menulis. </p>



<p>Teman pembaca, saya ingin menceritakan bagaimana titik balik kebangkitanku dalam menulis. Setelah puluhan tahun vacum dari dunia tersebut.</p>



<p>Diakhir bulan Februari 2011, saya mendapatkan kesempatan mengikuti sebuah training menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Perubahan yang didirikan oleh Prof. Rhenald Kasali, PhD. Training tersebut bertema &#8220;Guru Bisa Menulis &#8212; Anak Didik Jadi Sastrawan dan Ilmuwan Terpandang&#8221;. </p>



<p>Saya tidak menyangka kalau ternyata memiliki kesempatan mengikuti training sehebat itu. Berkat usaha penyelenggara mencari beberapa sponsor, maka training tersebut akhirnya dapat dinikmati para guru tanpa dikenakan biaya sepeser pun. Padahal kalau dihitung dari segi biaya, maka training menulis seperti itu tentu berbiaya mahal. Jika aku bandingkan dengan penyelenggara training menulis di tempat yang lain, maka training tersebut diperkirakan biayanya sampai mencapai tiga jutaan. Apalagi training ini diselenggarakan oleh pihak yang profesional dan kompeten di bidangnya.</p>



<p>Sesudah dua hari mengikuti training tersebut, saya memiliki cara pandang berbeda tentang dunia kepenulisan. Kalau sebelumnya, saya menganggap menulis itu hanyalah menjalankan hobi semata, tapi kali ini perlu lebih serius menekuninya dan dikembangkan secara maksimal. Kalau dulu saya memiliki kemampuan menulis yang cetek, sekarang saatnya untuk diperdalam. </p>



<p>Saya pun mulai menyadari sebagai seorang guru, sudah saatnya memengaruhi dan menginspirasi peserta didik untuk mau menulis. Bukan hanya sekedar, tapi lebih serius menekuninya. Untuk itulah, penulis terbilang sering “memprovokasi” peserta didik agar menulis. Sering aku gunakan jurus pamungkas dari Pramudiya Ananta Tour, &#8216;Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak <em>menulis,</em> ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Berharap dengan penggalan kalimat tersebut, peserta didik terguguh untuk menekuni dunia kepenulisan.</p>



<p>Tentang itu, saya pun memiliki kisah menarik. Seorang mantan peserta didikku yang sedang mengambil program doktoral (PhD) di Belanda, pernah mengirimi pesan singkat. Ia berkata bahwa kebiasaannya menulis saat ini, tidak luput karena “provokasi” yang pernah saya sampaikan di kelas puluhan tahun yang lalu. </p>



<p>Selanjutnya, saya pun ingin melunasi hutang komitmenku. Harus menjadi guru yang menularkan semangat menulis kepada peserta didik, karena saya sendiri sudah mendapatkan ilmu yang banyak dari Rumah Perubahan tersebut. </p>



<p>Akhirnya, saya berharap untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti ini, banyak peserta didik yang memiliki kesadaran untuk giat dalam hal literasi. Melalui ekstrakurikuler menulis ini tumbuh dan berkembang semangat, disiplin dan konsistensi peserta didik untuk menulis. Setidaknya itulah tujuan jangka pendeknya. Sementara untuk jangka panjangnya, seperti tema dari training yang penulis pernah ikuti yakni “Anak Didik Jadi Sastrawan dan Ilmuwan Terpandang”. Berharap mereka menjadi insan yang senang berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui tulisan-tulisan di masa depan mereka kelak.</p>



<p>*) Pengalaman menjadi pembimbing ekstrakurikuler di SDH LC</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/06/merajut-asa-anak-didik-jadi-sastrawan-dan-ilmuan-terpandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 0/116 objects using memcache
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching using redis

Served from: thurneysensimanjuntak.com @ 2024-06-13 13:42:31 by W3 Total Cache
-->