<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Religi &#8211; Rumah #InspiraThur</title>
	<atom:link href="https://thurneysensimanjuntak.com/category/religi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thurneysensimanjuntak.com</link>
	<description>Ruang Berbagi Lewat Tulisan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2019 09:31:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.2.21</generator>

<image>
	<url>https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2021/02/cropped-Thur-Sketsa-1-32x32.jpg</url>
	<title>Religi &#8211; Rumah #InspiraThur</title>
	<link>https://thurneysensimanjuntak.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Tuhan yang Memanggil, Tuhan Buka Jalan</title>
		<link>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/01/ketika-tuhan-yang-memanggil-tuhan-buka-jalan/</link>
				<comments>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/01/ketika-tuhan-yang-memanggil-tuhan-buka-jalan/#comments</comments>
				<pubDate>Fri, 01 Nov 2019 02:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Thurneysen]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://thurneysensimanjuntak.com/?p=110</guid>
				<description><![CDATA[Pernah mendengar nama dr.Lie? Lengkapnya Lie Agustinus Dharmawan. Bagi sebagian orang, mungkin nama ini sudah akrab. Banyak media yang pernah mengangkat kisah kepeduliannya. Beberapa waktu <a href="https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/01/ketika-tuhan-yang-memanggil-tuhan-buka-jalan/" class="read-more-link">[more...]</a>]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image alignwide"><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto1.jpg" alt="" class="wp-image-111" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto1.jpg 544w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto1-300x274.jpg 300w" sizes="(max-width: 544px) 100vw, 544px" /></figure>



<p>Pernah mendengar nama dr.Lie? Lengkapnya Lie Agustinus Dharmawan. Bagi sebagian orang, mungkin nama ini sudah akrab. Banyak media yang pernah mengangkat kisah kepeduliannya. </p>



<p>Beberapa waktu lalu (25/9/2019) kami
warga Jemaat GKI Cikarang-Bekasi merasa beruntung dapat mendengar langsung
kesaksiannya pada acara “Angkringan Theologi”.</p>



<p>“Sebagai seorang manusia, kita ingin
hidup agar kita bisa berarti bagi orang lain. Kita hidup karena kita ingin
melayani Tuhan. Bohong kalau kita mengatakan cinta pada Tuhan, tapi kita tidak
mau mencintai dan mengasihi sesama kita.” Begitu beliau memulai talkshow-nya.</p>



<p>Kemudian beliau pun bercerita
bagaimana beliau merasakan panggilannya menjadi dokter. Berawal dari cerita
ibunya kepada dr.Lie tentang adiknya yang meninggal ketika berumur setahun (1948)
akibat penyakit mencret yang mencapai hingga 30-40 kali.</p>



<p>Kesedihan atas kematian itu dirasakan
ibunya selama bertahun-tahun. Bahkan ibunya selalu menangis bila mengenang
peristiwa itu. Setelah mendengar hal itu, dr. Lie bejanji kalau sudah besar
akan menjadi dokter. Berharap tidak ada lagi orang, terutama anak-anak yang
meninggal karena kemiskinan.</p>



<p>Nah, baginya menjadi dokter bukan
perkara mudah. Selain karena tak punya uang, banyak orang yang menyepelekan cita-citanya.
Pertama, ketika di depan kelas bercerita tentang cita-citanya ingin menjadi dokter,
teman-teman dan gurunya menertawainya. Kedua, ditolak menjadi mahasiswa
kedokteran di Jakarta dengan alasan tidak berbakat menjadi dokter.</p>



<p>Oleh penolakan itu, beliau marah
kepada Tuhan. Untung akhirnya menyadari kalau itu bagian rancangan Tuhan. Penolakan
itu justru jawaban doanya. Dr. Lie ternyata selama ini berdoa agar kuliah
kedokteran di Jerman. Bukan di Jakarta. “Seandainya saya diterima di sebuah
sekolah kedokteran di Indonesia, bukankah doaku tidak terjawab?” Tuturnya.</p>



<p>Ketika pendidikannya di Jerman
selesai, beliau mengabdi di sana selama duapuluh tahun. Tapi, Tuhan memanggilnya
kembali ke Indonesia. Iman dan nasionalisnya membuatnya berespon. </p>



<p>Beliau terpanggil melayani saudara sebangsanya
khususnya bagi yang kurang mampu. Sesuai pesan ibunya. “Kalau suatu saat jadi
dokter, jangan peras orang miskin. Mereka akan membayarmu, tapi di rumah mereka
menangis karena tidak mempunyai uang membeli beras.”</p>



<p>Sebagai wujud panggilannya, beliau mendirikan
Rumah Sakit Apung (RSA). Itu berawal ketika beliau bertemu seorang pasien
berusia 8 tahun yang berpenyakit hernia
femoralis inkarserata (2/09). Perjuangannya naik kapal tradisional selama tiga
hari ke Pulau Kei tempat pelayanan dr. Lie, membuatnya terenyuh. Dia tidak
habis pikir, jika tidak segera dilakukan operasi paling lama hingga 8 jam, maka
dapat menimbulkan kematian jaringan. Tetapi mujizat Tuhan terjadi. Anak itu
ternyata dapat melaluinya.</p>



<p>Sepulang ke
Jakarta, dalam doa, mendengar suara yang lembut “maukah engkau melayaniku?”
sambil terbayang wajah anak tersebut. Dalam hatinya berkata, “bukankah saya
sudah melayaniMu?”. Keesokan harinya, lagi-lagi dalam doa malamnya pertanyaan
itu muncul kembali. Itulah awal komitmennya melayani Tuhan hingga ke daerah
terpencil yang sulit dijangkau dengan RSA-nya.</p>



<p>Tantangan demi tantangan mulai dihadapi. Tetapi satu keyakinannya, kalau Tuhan yang memanggil, Tuhan pasti memimpin. Sekarang RSA sudah ada tiga kapal yang didukung DoktorShare. Organisasi ini pun telah memiliki dokter relawan sekitar 700 orang. Semakin hari semakin banyak saja yang mendukung pelayanan beliau.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto2-1-1024x484.jpg" alt="" class="wp-image-113" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto2-1-1024x484.jpg 1024w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto2-1-300x142.jpg 300w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto2-1-768x363.jpg 768w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/11/Foto2-1.jpg 1152w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Hampir dua jam mendengar
kesaksiannya, terlihat ratusan warga jemaat GKI merasa terberkati. Berharap
melalui kesaksiannya, semakin banyak yang peduli sesama dan peka mendengar
panggilan Tuhan. (TS).</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/11/01/ketika-tuhan-yang-memanggil-tuhan-buka-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
							</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 0/93 objects using memcache
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching using redis

Served from: thurneysensimanjuntak.com @ 2024-07-01 05:06:59 by W3 Total Cache
-->