<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MuseumOlahragaNasional &#8211; Rumah #InspiraThur</title>
	<atom:link href="https://thurneysensimanjuntak.com/tag/museumolahraganasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thurneysensimanjuntak.com</link>
	<description>Ruang Berbagi Lewat Tulisan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Dec 2019 13:48:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.2.21</generator>

<image>
	<url>https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2021/02/cropped-Thur-Sketsa-1-32x32.jpg</url>
	<title>MuseumOlahragaNasional &#8211; Rumah #InspiraThur</title>
	<link>https://thurneysensimanjuntak.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Masuklah Lorong Waktu, Temukan Kehebatan Bangsa Kita</title>
		<link>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/12/04/masuklah-lorong-waktu-temukan-kehebatan-bangsa-kita/</link>
				<comments>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/12/04/masuklah-lorong-waktu-temukan-kehebatan-bangsa-kita/#respond</comments>
				<pubDate>Wed, 04 Dec 2019 13:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Thurneysen]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[MuseumOlahragaNasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://thurneysensimanjuntak.com/?p=222</guid>
				<description><![CDATA[Air matanya terus mengalir. Tatapannya lekat pada sang Merah Putih, saat menyaksikan bendera kebanggaan dinaikan seraya diiringi lagu Indonesia Raya. Air mata itu adalah air <a href="https://thurneysensimanjuntak.com/2019/12/04/masuklah-lorong-waktu-temukan-kehebatan-bangsa-kita/" class="read-more-link">[more...]</a>]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image"><img src="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/12/Museum.jpg" alt="" class="wp-image-223" srcset="https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/12/Museum.jpg 599w, https://thurneysensimanjuntak.com/wp-content/uploads/2019/12/Museum-300x252.jpg 300w" sizes="(max-width: 599px) 100vw, 599px" /></figure>



<p>Air matanya terus mengalir. Tatapannya lekat pada sang Merah Putih, saat menyaksikan bendera kebanggaan dinaikan seraya diiringi lagu Indonesia Raya. Air mata itu adalah air mata bahagia. Pasalnya, Susi Susanti berhasil mengakhiri “kutukan” tanpa medali emas di ajang olimpiade sejak bergabung dari tahun 1952. </p>



<p>Walau Susi sempat tertinggal pada set pertama, tidak membuat
semangatnya surut. Dengan gaya yang tenang dan mental juara yang dimilikinya, Susi
Susanti berhasil membalikkan kedudukan. Bang Shoo Hyun pemain “top” asal Korea
Selatan akhirnya takluk pada set kedua dan ketiga.</p>



<p>Hari itu, sorak gempita ada di mana-mana. Semua anak bangsa larut
dalam bahagia. Tak terkecuali keluarga kami. Walau hanya menyaksikan melalui siaran
langsung layar kaca hitam putih 17 inch, namun tidak mengurangi euforia
kemenangan. </p>



<p>Itulah sepenggal kisah dari Olimpiade Barcelona 1992. Kini, peristiwa itu telah menjadi kenangan dan sejarah. Sejarah kejayaan olahraga bangsa kita. Bagi generasi sepertiku, tidak sulit merekonstruksi peristiwa tersebut. Setidaknya, memori kemenangan itu, masih terekam dengan baik. Tapi, bagaimana dengan generasi masa kini? Mereka tidak pernah menyaksikannya secara langsung. Mungkinkah mereka bisa merekonstuksi peristiwa tersebut?  Bagaimana euforia kemenangan itu dihidupkan kembali?  </p>



<p>Kita beruntung. Setidaknya pemerintah telah mencoba memfasilitasi
sebuah Museum Olahraga Nasional yang luas, lengkap dan “instagramable” (istilah
kekinian sebagai tempat yang menarik untuk berpose). Kita berharap, kehadiran
museum menjadi sarana yang dapat menginspirasi dan memotivasi generasi muda
untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa, terutama dalam bidang olahraga.</p>



<p>Rekan pembaca, sebelum panjang lebar berbicara tentang Museum
Olahraga, ada baiknya kita kembali mengulas hakikat museum. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring, museum itu adalah gedung yang
digunakan sebagai tempat pameran tetap benda-benda yang patut mendapat
perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan
barang kuno.</p>



<p>Sementara Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66
Tahun 2015 tentang Museum (Pasal 1 ayat 1) menyatakan bahwa Museum adalah
lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan
mengomunikasikannya kepada masyarakat.</p>



<p>Nah, dari kedua sumber tersebut, setidaknya ada persamaan
hakikat dari museum. Museum hadir untuk kebutuhan dan kepentingan masyarakat umum.
Sementara pembedanya, museum itu dapat berlaku sebagai tempat dan sebagai lembaga.
</p>



<p>Museum sebagai tempat, berfungsi sebagai sarana pameran
benda-benda, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan
barang kuno. Sementara sebagai lembaga berfungsi untuk melindungi,
mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikannya kepada
masyarakat.</p>



<p>Merujuk pada kedua sumber, maka sesungguhnya tidak jauh beda dengan
defenisi Museum Olahraga. Hanya, Museum Olahraga lebih fokus sebagai tempat
memamerkan benda-benda, dokumen maupun informasi yang berkaitan dengan
olahraga, seperti sejarah olahraga, filosofi olahraga, jenis olahraga, perjuangan
bangsa dalam berbagai kegiatan olahraga baik nasional maupun internasional, memamerkan
alat olahraga dan penghargaan berupa medali dan piala para atlet yang telah mengharumkan
nama bangsa, dan lain sebagainya.</p>



<p style="text-align:center" class="has-background has-medium-font-size has-vivid-green-cyan-background-color"><strong>Museum Olahraga sebagai Lorong Waktu</strong></p>



<p>Setiap memasuki libur semester sekolah, saya pasti meluangkan
waktu membawa anak berkunjung ke museum. Liburan kali ini, kami pun sepakat
berkunjung ke Museum Olahraga Nasional yang ada di Taman Mini Indonesia Indah
(TMII). Sebagai orangtua, berharap dengan kunjungan ini, anak kami memperoleh
berbagai informasi berharga dan berupaya merekonstruksi kejayaan olahraga
bangsa kita di masa lalu. Sehingga tumbuh sikap menghargai setiap usaha dan
prestasi para atlet, serta tertanam rasa nasionalis dan patriotis di dalam
dirinya.</p>



<p>Sesungguhnya, bukan perkara mudah untuk mengajak anak kami yang
berasal dari generasi Z (generasi yang lahir antara 1995-2010). Sepertinya, mereka
kurang tertarik dengan urusan benda-benda dan dokumen masa lalu. Sangat berbeda
antusiasnya ketika diajak ke tempat-tempat pameran yang ada berhubungan dengan
komputer dan smartphone. Sebagai orangtua, hal ini menjadi tantangan tersendiri.
Orangtua harus memiliki pendekatan khusus kepada generasi Z agar mereka mau
belajar ke museum tanpa harus merasa terpaksa.</p>



<p>Tapi, kenyataannya pengalaman kali ini berbeda. Ketika
memasuki halaman depan Museum Olahraga Nasional yang berada di atas tanah
seluas 1,5 ha dengan bangunan 3.000 m2 itu, mampu menarik hati anak saya. Dia
penasaran dengan bangunan museum yang berbentuk bola. Bahkan, dia berkali-kali meminta
dirinya untuk diabadikan dengan latar bangunan museum. Kalau anak-anak “zaman
now” bilang, bangunan seperti itu, lumayan “instagramable”.</p>



<p>Dengan bermodalkan rasa penasarannya, saya mencoba membantu menjelaskan
beberapa informasi tentang Museum Olahraga tersebut berdasarkan literasi yang
pernah saya baca.&nbsp; Misalnya, informasi
tentang pembangun museum. Bahwa museum ini sudah mulai dibangun sejak tahun
1987 atau ketika masa kepemimpinan Menteri Muda Urusan Pemuda dan Olahraga (Menpora)
Abdul Gafur. Untuk peresmiannya sendiri, dilakukan oleh Presiden Soeharto pada
tanggal 20 April 1989. Kemudian baru mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 7
Mei 1989. Semenatara untuk penjelasan informasi yang lainnya, saya langsung mengajaknya
menuju lobi dan lantai satu museum. Tentu setelah membeli tiket terlebih
dahulu.</p>



<p>Nah, apa saja yang bisa kami saksikan di lobi dan lantai satu
ini? Pengunjung akan menyaksikan lobi yang “colourfull”, ada tulisan motto yang
mencerminkan nilai hakiki olahraga yakni sportivitas dan perjuangan, hingga sebuah
patung atlet renang nasional, Zoraya Perucha (1973-1977), dengan adegan loncat
indah.</p>



<p>Setelah bergerak dari lobi, kami menuju pintu masuk “Ruang
Sejarah Olahraga”. Di sana akan ada sapaan yang terdengar dari sebuah TV
monitor, “Selamat datang di Museum Olahraga, di sini Anda akan melintasi waktu
dari saat sejarah olahraga dimulai hingga legenda para juara olahraga di
Indonesia”. Sapaan itu sepertinya sedang mempersiapkan kami untuk berpetualang
melalui sebuah lorong waktu, yang siap mengantarkan kami ke masa lalu. </p>



<p>Tidak jauh dari TV monitor pertama, kami menemukan TV monitor
yang kedua. Pada TV monitor yang kedua kami menyaksikan dan mencoba mengenang orang-orang
yang berjasa dalam kemajuan olahraga di tanah air, yakni para menteri olahraga
yang pernah menjabat di negeri ini. Mulai dari menteri olahraga yang pertama
hingga yang sekarang.</p>



<p>Ketika menyusuri lantai satu, ada banyak “insight” dari
tulisan yang ada di dinding. Salah satu tulisan yang penting menurutku, bahwa
olahraga adalah sebuah dunia multidimensi. Sesungguhnya olahraga tidak pernah
berdiri sendiri, tetapi selalu berkaitan dengan aspek hidup manusia lainnya.
Olahraga tidak lagi hanya bicara untuk mendapatkan tubuh yang sehat, tetapi
telah bergeser menjadi ajang silaturahmi, pergaulan, saling berbagi info, dan
sosialisasi. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya membentuk komunitas sesuai
bidang olahraga yang diminati. </p>



<p>Setelah menikmati suasana lantai satu yang berisi tentang
filosofi olahraga, sejarah olahraga antar bangsa, sejarah olahraga nasional, tokoh
yang berkecimpung di bidang olahraga, perjuangan bangsa Indonesia dalam
mengikuti kegiatan olahraga internasional seperti Olimpiade dan Asian Games, permainan
olahraga tradisional, pernak-pernik olahraga, kami pun beranjak menuju lantai
dua.</p>



<p>Ternyata di lantai dua tidak kalah menariknya. Kami dapat menyaksikan
pameran dari berbagai alat olahraga dan penghargaan berupa medali dan piala
para atlet yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Bagi yang tertarik
dengan sejarah perkembangan sepakbola nasional, lantai ini sangat cocok untuk
Anda, karena di sini koleksinya sangat lengkap.</p>



<p>Nah, saatnya beranjak ke lantai ketiga. Ternyata di lantai
tiga “aroma” Sang Juara pun sangat kentara. Di sini kita akan dapat menyaksikan
sosok atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa serta peninggalan yang pernah mereka
gunakan dalam bertanding, seperti racket tenis dan badminton, busur panah, sepatu
dan yang lainnya. </p>



<p>Setelah puas menikmati dan menjalani ketiga
lantai, kami akhirnya dapat menyimpulkan dua hal. <strong>Pertama,</strong> Museum Olahraga adalah sebuah lorong waktu untuk masuk ke
masa lalu yang dapat membantu merekonstruksi sejarah olahraga bangsa. Imajinasi
pun mulai mempertemukan kami dengan orang-orang yang melegenda di negeri ini
dan merasakan bagaimana usaha dan pengorbanannya untuk bangsa. <strong>Kedua</strong>, kalau ada yang beranggapan bahwa
museum identik dengan sesuatu yang kuno, maka itu keliru. Museum Olahraga Nasional
mematahkan pendapat tersebut. Barang-barangnya memang boleh dari masa lalu,
tapi cara menampilkannnya sangat kekinian. </p>



<p>Lihat saja bagaimana Museum Olahraga
Nasional menunjukkan tampilan dan teknologi sesuai selera generasi terkini,
seperti “Automatic Display Slider” yang dapat digunakan untuk menjelajah banyak
hal tentang olahraga nasional dengan berinteraksi melalui monitor yang telah
disediakan museum. Bahkan siapa pun pun dapat menjelajah Museum Olahraga dengan
menggunakan aplikasi &#8220;SiJi&#8221; yang terlebih dahulu &nbsp;diunduh (download) dari Google Playstore
secara gratis. Menarik bukan?</p>



<p>Akhirnya, untuk urusan teknologi, Museum Olahraga memang keren dan terdepan. Pasti menjadi daya pikat bagi pengunjungnya. Tidak terkecuali dari generasi Z, seperti anak saya. Sekarang tugas kita bersama, yuk ajak generasi muda berkunjung ke museum dan menggali “harta terpendam” yang ada di sana demi kejayaan bangsa kita. Salam Olahraga.</p>



<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>



<p>*)Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Essay yang diselenggarakan Museum Olahraga Nasional</p>



<p></p>



<p>Sumber
Referensi :</p>



<p><a href="https://kbbi.web.id/museum">https://kbbi.web.id/museum</a></p>



<p><a href="http://kemenpora.go.id/index/preview/berita/2319">http://kemenpora.go.id/index/preview/berita/2319</a></p>



<p><a href="http://www.tamanmini.com/pesona_indonesia/museum-museum/museum-olahraga">http://www.tamanmini.com/pesona_indonesia/museum-museum/museum-olahraga</a></p>



<p><a href="https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/05/PP_NO_66_2015_2.pdf">https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/05/PP_NO_66_2015_2.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://thurneysensimanjuntak.com/2019/12/04/masuklah-lorong-waktu-temukan-kehebatan-bangsa-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 0/89 objects using memcache
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching using redis

Served from: thurneysensimanjuntak.com @ 2024-07-02 21:28:10 by W3 Total Cache
-->