Ketika Tuhan yang Memanggil, Tuhan Buka Jalan

Pernah mendengar nama dr.Lie? Lengkapnya Lie Agustinus Dharmawan. Bagi sebagian orang, mungkin nama ini sudah akrab. Banyak media yang pernah mengangkat kisah kepeduliannya.

Beberapa waktu lalu (25/9/2019) kami warga Jemaat GKI Cikarang-Bekasi merasa beruntung dapat mendengar langsung kesaksiannya pada acara “Angkringan Theologi”.

“Sebagai seorang manusia, kita ingin hidup agar kita bisa berarti bagi orang lain. Kita hidup karena kita ingin melayani Tuhan. Bohong kalau kita mengatakan cinta pada Tuhan, tapi kita tidak mau mencintai dan mengasihi sesama kita.” Begitu beliau memulai talkshow-nya.

Kemudian beliau pun bercerita bagaimana beliau merasakan panggilannya menjadi dokter. Berawal dari cerita ibunya kepada dr.Lie tentang adiknya yang meninggal ketika berumur setahun (1948) akibat penyakit mencret yang mencapai hingga 30-40 kali.

Kesedihan atas kematian itu dirasakan ibunya selama bertahun-tahun. Bahkan ibunya selalu menangis bila mengenang peristiwa itu. Setelah mendengar hal itu, dr. Lie bejanji kalau sudah besar akan menjadi dokter. Berharap tidak ada lagi orang, terutama anak-anak yang meninggal karena kemiskinan.

Nah, baginya menjadi dokter bukan perkara mudah. Selain karena tak punya uang, banyak orang yang menyepelekan cita-citanya. Pertama, ketika di depan kelas bercerita tentang cita-citanya ingin menjadi dokter, teman-teman dan gurunya menertawainya. Kedua, ditolak menjadi mahasiswa kedokteran di Jakarta dengan alasan tidak berbakat menjadi dokter.

Oleh penolakan itu, beliau marah kepada Tuhan. Untung akhirnya menyadari kalau itu bagian rancangan Tuhan. Penolakan itu justru jawaban doanya. Dr. Lie ternyata selama ini berdoa agar kuliah kedokteran di Jerman. Bukan di Jakarta. “Seandainya saya diterima di sebuah sekolah kedokteran di Indonesia, bukankah doaku tidak terjawab?” Tuturnya.

Ketika pendidikannya di Jerman selesai, beliau mengabdi di sana selama duapuluh tahun. Tapi, Tuhan memanggilnya kembali ke Indonesia. Iman dan nasionalisnya membuatnya berespon.

Beliau terpanggil melayani saudara sebangsanya khususnya bagi yang kurang mampu. Sesuai pesan ibunya. “Kalau suatu saat jadi dokter, jangan peras orang miskin. Mereka akan membayarmu, tapi di rumah mereka menangis karena tidak mempunyai uang membeli beras.”

Sebagai wujud panggilannya, beliau mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA). Itu berawal ketika beliau bertemu seorang pasien berusia 8 tahun yang berpenyakit hernia femoralis inkarserata (2/09). Perjuangannya naik kapal tradisional selama tiga hari ke Pulau Kei tempat pelayanan dr. Lie, membuatnya terenyuh. Dia tidak habis pikir, jika tidak segera dilakukan operasi paling lama hingga 8 jam, maka dapat menimbulkan kematian jaringan. Tetapi mujizat Tuhan terjadi. Anak itu ternyata dapat melaluinya.

Sepulang ke Jakarta, dalam doa, mendengar suara yang lembut “maukah engkau melayaniku?” sambil terbayang wajah anak tersebut. Dalam hatinya berkata, “bukankah saya sudah melayaniMu?”. Keesokan harinya, lagi-lagi dalam doa malamnya pertanyaan itu muncul kembali. Itulah awal komitmennya melayani Tuhan hingga ke daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan RSA-nya.

Tantangan demi tantangan mulai dihadapi. Tetapi satu keyakinannya, kalau Tuhan yang memanggil, Tuhan pasti memimpin. Sekarang RSA sudah ada tiga kapal yang didukung DoktorShare. Organisasi ini pun telah memiliki dokter relawan sekitar 700 orang. Semakin hari semakin banyak saja yang mendukung pelayanan beliau.

Hampir dua jam mendengar kesaksiannya, terlihat ratusan warga jemaat GKI merasa terberkati. Berharap melalui kesaksiannya, semakin banyak yang peduli sesama dan peka mendengar panggilan Tuhan. (TS).

2 Replies to “Ketika Tuhan yang Memanggil, Tuhan Buka Jalan”

  1. Aku juga merasa terberkati lewat tulisamu ini ito. Dengan blog mu ini kita tahu pelayanan dokter Lie. Teruslah melayani lewat tulisanmu ito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *