Saatnya Pakai QR Standar, Transaksi Makin Lancar

“Maaf Pak. Kami tidak menyediakan pembayaran menggunakan aplikasi seperti yang ada di smartphone Bapak. Kami hanya menerima pembayaran dengan pemindai QR yang tersedia di depan”. Kata seorang kasir sambil menunjuk beberapa pemindai QR (QR Code) dari beberapa penerbit aplikasi pembayaran yang berjejer di depan kasir.

Hari itu memang saya tidak membawa uang cash yang cukup, berhubung baru saja melakukan “top up” saldo sebuah aplikasi di sebuah mini market.

Dengan berat hati, akhirnya saya membatalkan membeli buku di sebuah toko buku yang ada di Jakarta Selatan. Padahal, saya sangat berharap agar dapat membawa pulang buku tersebut dan segera melahapnya di rumah. Apalagi buku tersebut merupakan buku terbaru dari penulis favoritku.

Saya mulai berpikir, mengapa di era digital yang serba maju teknologinya, aplikasi yang ada di smartphone kita hanya dapat digunakan untuk pembayaran pada QR Code sesuai penerbit aplikasi di merchant? Bukankah hal seperti ini harusnya tidak menjadi masalah di era yang serba terkoneksi ini?

Jadi terbayang dengan sistem transaksi di mesin ATM. Kartu ATM yang berbeda dengan mesin ATM pun ternyata dapat melakukan transaksi. Sebagai awam, tentu hanya ingin mencoba membandingkan kedua hal itu. Sambil berharap suatu waktu bisa menjadi kenyataan, para pengguna aplikasi akan lebih mudah dan praktis dalam berbelanja di setiap merchant.

Ngomong-ngomong, pernahkah rekan pembaca mengalami hal serupa?

Saya sendiri dapat merasakan perasaan rekan pembaca jika hal itu benar-benar terjadi. Apalagi barang yang mau dibeli atau pembayaran yang dilakukan benar-benar sedang dibutuhkan atau mendesak. Tetapi terpaksa batal karena aplikasi pembayaran yang kita miliki tidak sesuai dengan QR Code yang ada di merchant.

Harus diakui, bahwa pergeseran dalam menggunakan pembayaran dengan aplikasi sudah tidak bisa dihindari lagi. Untuk itu, kemudahan dalam bertransaksi harus menjadi prioritas.

Silahkan simak data berikut! Bersadarkan sebuah data yang saya temukan, ternyata volume transaksi uang elektronik tumbuh pesat dalam 10 tahun terakhir. Bahkan sepanjang tahun 2018, volume transaksi mencapai sebanyak 2,92 miliar. Sementara untuk pertumbuhan nilai transaksinya juga melesat. Sepanjang 2018, nilai transaksi mencapai hingga Rp 47,19 triliun. (katadata.co.id)

Nah, saya sendiri merupakan salah satu di dalamnya. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, cara pembayaran yang saya lakukan pun sudah didominasi dengan pembayaran melalui aplikasi. Baik itu untuk tagihan rutin seperti internet dan tv kabel, pulsa smartphone, dan token listrik. Maupun yang tidak rutin seperti membayar transportasi online, berbelanja bulanan bersama keluarga di mall, memesanan makanan, dan masih banyak lagi.

Karena itu, saldo aplikasi di smartphone itu memang harus selalu sedia, harus di “top up”. Menurut hemat saya, pemanfaatan aplikasi ini memang sangat praktis, tidak perlu lagi membawa uang cash yang banyak di dompet. Jadi benar kata orang, sekarang itu “lebih baik ketinggalan dompet di rumah daripada ketinggalan smartphone”.

Selain itu, ada banyak keuntungan lain dari pembayaran melalui aplikasi tersebut, misalnya bebas dari permasalahan pengambalian uang (seringnya kita temukan di mini market diganti dengan permen), ternyata penerbit pembayaran juga berlomba-lomba menawarkan cashback atau poin yang bisa dimanfaatkan pengguna untuk berbagai pembayaran berikutnya.

Kembali pada inti permasalahan, ternyata maraknya instrumen pembayaran dengan QR Code dan  aplikasi yang ada di smartphone, tidak serta merta memunculkan kemudahan. Mengapa? Tentu alasannya jelas, seperti pengalaman pribadi yang sudah saya ceritakan di atas.

QR Code yang ada di smartphone, hanya bisa terbaca QR Code penerbit aplikasi tersebut. Jadi tidak jarang ini menimbulkan kendala bagi pengguna yang ingin membayar dengan aplikasi yang berbeda dengan yang disediakan merchant.

Bank Indonesia Menghadirkan Solusi

Rekan pembaca, permasalahan yang saya ceritakan di atas dan mungkin juga menjadi permasalahan sebagian pembaca dalam hal pembayaran daring selama ini, tidak akan lama lagi akan ada solusinya loh!

Bank Indonesia akan segera menerapkan sebuah Standar Nasional QR Code pembayaran yang dikenal dengan QRIS atau Quick Response Code Indonesia Standart. Adapun rencana penerapan QRIS tersebut akan dimulai tanggal 1 Januari 2020.

Peluncuran QRIS itu sendiri, sesungguhnya telah dilakukan Bank Indonesia bertepatan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI Ke-74.  Untuk proses peluncuran QRIS tersebut, dapat pembaca saksikan melalui video singkat berikut.

Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan QRIS tersebut?

Seperti yang sudah saya singgung di atas, QRIS itu merupakan Standar Nasional QR Code Pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk memfasilitasi pembayaran di Indonesia.

Dengan demikian, diharapkan keseluruhan pembayaran daring yang menggunakan QR Code selama ini, nantinya akan dapat menggunakan QRIS. Artinya, walaupun instrumen pembayaran yang digunakan sebuah merchant berbeda dengan  aplikasi yang dimiliki konsumen maka pembayaran melalui aplikasi tersebut akan dapat dibaca oleh QRIS.

Sekali lagi, dengan kehadiran QRIS tersebut, tidak akan ada lagi cerita gagal bertransaksi karena perbedaan aplikasi yang ada di smartphone dengan QR Code Pembayaran di merchant.

Jadi, penerbitan QRIS itu sendiri dilakukan agar sistem pembayaran cepat, aman dan praktis, yakni mempermudah komunikasi antar penerbit instrumen pembayaran, merchant dan konsumen pengguna aplikasi.

Nah, sebagai bentuk komitmen pelayanan terbaik dalam penerapan QRIS, maka Bank Indonesia pun mengusung sebuah tagline UNGGUL. Adapun yang menjadi akronim dari UNGGUL tersebut yakni Universal, Gampang, Untung dan Langsung.

  1. Universal maksudnya bahwa QRIS itu inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat. Dapat digunakan di domestik dan luar negeri. Singkatnya, bisa dipakai siapa saja dan diterima di mana saja.
  2. Gampang artinya transaksi dapat dilakukan dengan mudah dan aman dalam satu genggaman.
  3. Untung artinya efisien untuk satu QR Code untuk semua aplikasi.
  4. Langsung artinya transaksi cepat dan seketika mendukung kelancaran sistem pembayaran.

Untuk lebih jelasnya, pembaca dapat juga menyaksikan video berikut!

Kalau bicara tentang pertimbangan, maka apa sebenarnya yang mendesak Bank Indonesia untuk segera menerapakan QRIS tersebut?

Merujuk pada Peraturan Anggota Dewan Gubernur No.21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Respon Code untuk Pembayaran, maka pertimbangannya adalah untuk mendukung integrasi ekonomi dan keuangan digital nasional, apalagi peran sistem pembayaran ritel domestik dalam ekonomi dan keuangan digital telah meningkat pesat seiring dengan perkembangan inovasi teknologi dan model bisnis.

Kemudian mengoptimalkan potensi quick response code dalam ekosistem ekonomi dan keuangan digital, Bank Indonesia perlu menetapkan standar nasional quick response code untuk pembayaran guna memastikan efisiensi dan meminimalkan fragmentasi, penetapan standar nasional quick response code untuk pembayaran telah sejalan dengan tatanan kebijakan gerbang pembayaran nasional.

Nah, sekarang kita beranjak kepada kebermanfaatan. Kira-kira, apa yang menjadi manfaat dari penggunaan QRIS tersebut. Baik itu manfaat yang akan dinikmati merchant maupun pengguna (konsumen).

Bagi seorang pengguna yang menjadi manfaat dari penerapan QRIS tersebut yakni semakin fleksibelnya menggunakan aplikasi pembayaran di merchant. Selain itu, pengguna tidak perlu melakukan “top up” saldo di berbagai aplikasi seperti selama ini. Harus diakui dengan QR Code yang tidak standar, sangat merepotkan pengguna.

Sementara untuk merchant sendiri, meningkatnya kepraktisan dalam penerimaan pembayaran karena hanya menggunakan satu QR Code pembayaran, yakni QRIS. Apalagi dengan berlakunya QRIS, merchant tidak perlu lagi menjejer QR Code pembayaran di depan kasir. Cukup dengan satu QR Code pembayaran yakni QRIS. Selain itu, merchant juga sangat beruntung dari segi penghematan pembiayaan dan perawatan EDC. Setelah berlakunya QRIS, maka merchant hanya butuh sebuah stiker QRIS.

Nah, sebelum saya akhiri, ini ada informasi yang tidak kalah penting untuk rekan pembaca.

Bahwa untuk model penggunaan QR Code pembayaran yang diterapkan nantinya, akan menggunakan model MPM (Merchant Mode Mode. Maksudnya, stiker QR Code akan ada di merchant, alat ini nantinya yang membaca aplikasi yang ada di smartphone konsumen. Bukan sebaliknya. Sejauh ini kita tidak akan menggunakan CPM (Customer Presented Mode). Artinya, konsumen tidak perlu mengunduh aplikasi QRIS untuk mendapat QR Code.

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat bagi khalayak luas, dan menjadi penambah wawasan seputar QRIS. Bagi kita semua, selamat menantikan QRIS. Saatnya Pakai QR Standar, Transaksi Makin Lancar.

#TransaksiLancarPakaiQRStandar!

Sumber Referensi :

https://www.bi.go.id/id/peraturan/sistem-pembayaran/Pages/padg_211819.aspx

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/23/transaksi-uang-elektronik-melonjak-2098-pada-2018 (diakses 18 November 2019, pukul 21.00 WIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *