Kalau Hutan Sumber Pangan, Masih Tegakah Merusaknya?

Sejak kecil, hutan sudah tidak asing bagiku. Pasalnya, di belakang sekolahku (waktu sekolah dasar di Rahutbosi) terdapat sebuah hutan. Saat jam istirahat atau sepulang sekolah, sesekali saya dan teman-teman masuk ke dalam hutan tersebut.

Hutan itu memberikan kami udara segar dan kesejukan disaat teriknya matahari. Selain itu, melalui daun dan tumbuhan yang ada di hutan, kami dapat menikmati berbagai permainan kreatif.

Setidaknya ada satu permainan yang masih terekam dalam benakku hingga sekarang. Mau tahu jenis permainannya? Namanya, “marpulung-pulungan”.

Marpulung-pulungan adalah sebuah permainan yang berusaha mengumpulkan berbagai jenis daun. Caranya, setiap orang akan berkeliling di dalam hutan sambil mengambil berbagai jenis daun. Tentu areanya dibatasi agar tidak terlalu jauh ke dalam hutan, sehingga kami tidak ada yang kesasar.

Selanjutnya, setiap orang akan berusaha mengambil daun sebanyak mungkin, dengan catatan harus mengetahui nama daun yang diambil.

Terus, bagaimana menentukan pemenangnya?

Setelah selesai mengumpulkan daun, kami pun duduk membentuk lingkaran. Kemudian setiap orang mengeluarkan daun masing-masing dan mulai menyocokkan satu persatu kepada seluruh peserta permaianan.

Setiap daun yang sama dengan peserta lain, dikumpulkan di satu tempat. Sementara daun yang tidak dimiliki oleh peserta lain, sementara disisihkan atau disimpan dulu.

Pada akhir permainan, semua peserta akan berhitung jumlah daun yang disisihkan atau disimpan. Pemilik jenis daun terbanyak, dialah pemenangnya.

Permainan yang menyenangkan. Melalui permainan ini juga kami ternyata mendapat berbagai pengetahuan, mengenali jenis daun atau berbagai jenis pohon. Bisa dibilang, bermain sambil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Nah, selama menjalani permainan, adakalanya kami juga menikmati berbagai makanan berbentuk biji-bijian yang kami temukan di dalam hutan. Misalnya, “harimonting” (Bahasa Batak).

Pernah dengar “harimonting’? Harimonting atau yang dikenal dengan kemunting (Rhodomyrtus tomentosa) merupakan tanaman yang memiliki tinggi sekitar satu meter. Tanaman ini kalau sudah waktunya berbuah akan menghasilkan biji-bijian yang berukuran sebesar kelereng. Awalnya bijinya berwarna hijau, tapi kalau sudah matang warna menjadi kemerah-merahan. Kalau sudah kemerah-merahan, maka buah itu rasanya manis. Konon katanya, biji ini memiliki kandungan vitamin yang tinggi.

Begitulah pengalaman menarik tentang hutan ketika keluarga kami tinggal di Rahutbosi, Pangaribuan, Sumatera Utara.

Setelah kelas 6 SD, keluarga kami pindah ke Hutanabolon, Sibolga. Sebelas tahun berada di sana, membuatku semakin mengenal arti pentingnya hutan. Hutan sumber pangan yang dapat bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari.

Memang ada perbedaan hutan yang ada di Rahutbosi (Pangaribuan) dan Hutanabolon (Sibolga). Kalau di Rahutbosi, hutannya di dominasi pohon pinus dan kemenyan. Tetapi kalau di Hutanabolon, hutannya banyak ditumbuhi pohon yang menghasilkan sumber makanan, terutama buah-buahan.

Tidak jarang teman-teman mengajakku mengambil buah ke hutan. Dari berbagai jenis buah yang paling saya sukai adalah durian. Salah satu alasan yang membuatku menyukai buah durian adalah aromanya yang khas dan rasanya yang lezat.

Selain dimakan langsung, saya juga sering menjadikan duren sebagai pendamping ketan. Rasanya? “maknyus” loh, meminjam jargon almarhum Bondan Winarno.

Sahabat pembaca, ternyata bicara buah durian bukan semata bicara nikmat di mulut saja. Tetapi durian juga memiliki berbagai manfaat untuk tubuh kita. Mau tahu?

Berdasarkan sebuah sumber yang penulis baca, bahwa durian ternyata memiliki berbagai manfaat bagi tubuh. Alasannya, durian ternyata mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral yang tentunya dibutuhkan tubuh kita setiap harinya.

Secara spesifik, adapun kandungan 100 gram durian ternyata mengandung sekitar 27 gram karbohidrat, 1,5 gram protein, 5 gram lemak, 4 gram serat, vitamin A sebanyak 44 IU, magnesium 30 mg, fosfor 39 mg, vitamin C sekitar 20 mg dan mineral lainnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, ternyata banyak manfaatnya kalau kita konsumsi. Misalnya, dapat mencegah penyakit jantung. Alasannya, karena durian tersebut ternyata mengandung asam folat yang tinggi, bagus untuk kesehatan jantung.

Selain itu, durian juga sangat bagus untuk memperkuat otot, hal ini karena kandungan thiamin yang terdapat dalam durian tersebut.

Selanjutnya, karena memiliki kandungan potasium, maka durian ternyata mampu memperlancar peredaran darah.

Nah, bagi Anda yang memiliki permasalahan kesulitan tidur, barangkali durian bisa menjadi solusinya. Durian ternyata memiliki kandungan tritopan karena ampuh menimbulkan rasa kantuk.

Mengingat durian merupakan buah yang kaya serat, maka memakan durian akan membantu memperlancar pencernaan dan mencegah sembelit.

Berikutnya, dua zat penting dalam durian, seperti phytonutrient dan phytosterol, dipercaya mampu mematikan sel-sel penyebab kanker, memperbaiki reaksi anti tumor pada tubuh,

Itulah beberapa manfaat dari mengonsumsi durian. Bersyukurnya, ada banyak hutan di Indonesia yang ditumbuhi oleh pohon durian yang mampu menyediakan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kita pun tidak terlalu sulit menemukannya terutama disaat musim durian.

Selain buah durian, penulis juga sangat suka olahan makanan yang terbuat dari rebung. Rebung merupakan bahan makanan yang berasal dari akar bambu yang masih berupa tunas yang muda.

Dulu, semasa kecil di kampung, ibuku sering memasak rebung ini menjadi sayur bersantan. Selain itu, rebung juga enak kalau dimasak bersamaan dengan ikan mas atau yang dikenal dengan ikan mas arsik (masakan khas Batak).

Disamping karena rasanya nikmat, satu lagi alasanku yang membuat rebung ini enak karena tekstur yang renyah membuat sensasi tersendiri saat mengunyahnya di mulut.

Nah, kalau berbicara tentang makanan ini,  satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah manfaatnya kalau kita konsumsi. Sama halnya seperti durian yang sudah dipaparkan di atas.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita harus mengonsumsi rebung.

Rebung dapat menurunkan kadar kolesterol (LDL). Hal ini dapat terjadi karena rebung mengandung fitonutrien dan fitosterol yang dapat menurunkan kadar lemak buruk di dalam darah.

Selanjutnya, rebung dapat menurunkan berat badan. Kog bisa? Rebung ternyata memiliki kandungan serat yang tinggi, karena itu perut mudah terasa kenyang sehingga mempermudah untuk pengendalian nafsu makan.

Selain itu, kandungan gula dan lemak di dalam rebung sangat rendah. Bisa dibilang dalam 100 gram hanya terdapat sekitar 2,5 gram kandungan gula dan 0,49 gram kandungan lemak.

Rebung juga dapat mengatasi peradangan, hal ini karena rebung ternyata memiliki kandungan asam fenolik yang bermanfaat sebagai makananan anti-inflamasi yang baik.

Itulah beberapa manfaat dari mengonsumsi rebung, bahkan masih banyak manfaat lainnya yang bisa kita dapatkan dari rebung.

Sahabat pembaca, tentu memiliki berbagai pengalaman dengan hutan. Baik secara langsung atau tidak. Untuk itu, kita pasti sepakat bahwa hutan itu begitu penting bagi kehidupan.

Dulu, Ketika belajar di sekolah, pada pelajaran geografi, guru kami tidak pernah lupa menekankan arti pentingnya hutan bagi kehidupan. Mulai dari fungsi orologis (mencegah erosi), klimatologis (mengatur iklim), hidrologis (penyimpan air) dan estetika (tempat wisata).

Belum lagi seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Bahwa hutan itu bermanfaat sebagai wadah keanekaragaman hayati, yang tentunya merupakan tempat berbagai macam makanan dari hutan.

Itulah berbagai alasan pentingnya hutan selalu dijaga.

Tapi amat disayangkan, banyak orang tidak menyadari hal tersebut. Terlalu serakah dan tidak berpikir jangka panjang. Tidak sedikit yang merusak hutan, mengalihkan fungsinya, bahkan membakarnya demi kepentingan pribadi.

Sejenak mari kita perhatikan kembali data rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sejak 2014-2019. Tahun 2014 ada seluas 44.411,36 ha yang mengalami kebakaran, 2.611.411,44 ha (2015), 438.363,19 (2016), 165.483,92 ha (2017), 529.266,64 ha (2018) serta 1.592.010,00 ha (2019).

Menyedihkan bukan? Bisa kita bayangkan apa yang terjadi kalau kondisi ini terus berlanjut.

Saya jadi teringat dengan apa yang pernah disampaikan oleh Isaac Asimov.

Humanity is cutting down its forests, apparently oblivious to the fact that we may not be able to live without them.”

Umat manusia menebangi hutan-hutannya, jelas sekali lupa pada fakta bahwa kita tak mungkin bisa hidup tanpanya. Keprihatinan Isaac Asimov ini, sejatinya merupakan keprihatinan kita juga. Sebab hutan ini adalah milik kita bersama, jadi sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama juga.

Kita patut berterimakasih, masih ada yang terus peduli dan bersuara lantang akan keberlanjutan hutan. Salah satunya WALHI.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) merupakan sebuah organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia. WALHI secara aktif mendorong upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup di Indonesia.

Tentu hal itu sesuai dengan visi WALHI. ” Terwujudnya suatu tatanan sosial, ekonomi dan politik yang adil dan demokratis yang dapat menjamin hak-hak rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan.”

Nah, bagi sahabat pembaca yang ingin mendukung berbagai kegiatan WALHI, tentu kita dapat mendukungnya melalui donasi.

Dukungan ini tentu untuk kepentingan kegiatan WALHI seperti pendidikan, penguatan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat, pengembangan kapasitas penggiat lingkungan hidup, dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam upaya memastikan daya dukung lingkungan hidup terhadap kehidupan dapat berkelanjutan.

Akhir kata, mari tetap bersinergi untuk mendukung penyelamatan hutan. Kalau tidak bisa berbuat banyak, setidaknya kita tidak turut menambah barisan yang merusak hutan dan lingkungan.

Ingat! Kalau Hutan Sumber Pangan, Masih Tegakah Merusaknya?

Sumber Referensi :

  1. https://www.alodokter.com/ini-manfaat-durian-bagi-kesehatan-tubuh (diakses 8 Februari 2020)
  2. https://www.brilio.net/life/9-alasan-kenapa-kamu-harus-suka-makan-buah-durian-150726m.html# (diakses 9 Februari 2020)
  3. https://doktersehat.com/manfaat-buah-durian/ (diakses 9 Februari 2020)
  4. https://doktersehat.com/berbagai-manfaat-sehat-rebung-bagi-tubuh/ (diakses 9 Februari 2020)
  5. http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran (diakses 9 Februari 2020)
  6. https://walhi.or.id/visi-dan-misi (diakses 9 Februari 2020)

*)Tulisan ini diikutsertakan pada “Forest Cuisine Blog Competition” yang diselenggarakan WALHI dan Blogger Perempuan.

Related Post

4 Replies to “Kalau Hutan Sumber Pangan, Masih Tegakah Merusaknya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *