Tangis Ibu Tati adalah Tangis Kita, Mari Peduli Hutan

Tiba-tiba, sesi bincang-bincang bersama empat narasumber mendadak hening. Isak tangis Ibu Tati mengundang haru. Kesedihan Ibu Tati bukan tanpa alasan. Kesedihannya berawal dari dokumenter berdurasi dua menit itu. Dokumenter yang menggambarkan kerusakan dan kehancuran bumi.

Sahabat pembaca, untuk dapat merasakan keresahan Ibu Tati, mari kita menyaksikan sejenak dokumenter yang membuat Ibu Tati bersedih.

Setelah menyaksikannya, tentu tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa tangis Ibu Tati adalah tangis kita. Keprihatinan Ibu Tati adalah keprihatianan kita juga.

Saya pun paham kalau Ibu Tati begitu geram dengan orang-orang yang membakar hutan seperti di Riau dan Kalimantan beberapa waktu lalu.

Dalam sesi bincang-bincang yang dilakukan pada Forest Cuisine Blogger Gathering yang digelar di Almond Zucchini, Jakarta Selatan (29/2/2020), Ibu Tati pun menyampaikan bagaimana cara mereka menjaga hutan di kampung halamannya (di Sumatera Barat).

“Hutan kita lestari, bagus, tidak ada yang mengganggu. Ibu-ibu di sana, bunda kandung, menjaga hutan bersama yang lain. Kalaupun ada yang membakar hutan kami, akan kami kejar kemana pun.” Paparnya.

Sesungguhnya, siapakah Ibu Tati tersebut? Berikut, saya mencoba memperkenalkannya secara singkat kepada sahabat pembaca.

Ibu Tati atau lengkapnya Sri Hartati adalah seorang sosok yang aktif  di Program Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan  Perempuan bersama WALHI Sumatera Barat dan Women Research Institute. Beliau begitu antusias mengembangkan produk olahan dari buah pala menjadi selai, sirup dan minuman segar. Karena itu, tidak salah kalau Ibu Tati terpilih menjadi WALHI Champion atas upaya-upaya yang telah dilakukannya.

Nah, kini terjawab sudah alasan kepedulian Ibu Tati pada hutan. Setelah membaca kisah singkat Ibu Tati, tentu kita dapat menarik benang merah antara usaha yang dikerjakan Ibu Tati dengan hutan. Bahwa bahan baku produk olahannya bersama ibu-ibu yang ada di sana tentu tidak mungkin tersedia tanpa adanya hutan.

Bagaimana dengan kita? Apakah masih memiliki cara pandang yang sama? “Kalau tidak ada hutan, maka kehidupan pasti terganggu”. Kalau cara pandang kita tidak lagi seperti itu, ada baiknya kita melakukan instopeksi diri dan belajar memahami fungsi hutan yang sesungguhnya.

Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan tentang fungsi hutan yang sesungguhnya. Atau, mengapa hutan harus dilindungi? Paparan tentang ini disampaikan oleh Mbak Alin secara gamblang. Mbak Alin sendiri adalah Perwakilan Eksekutif Nasional WALHI.

Mengawali paparannya dihadapan 30 orang Finalis Forest Cuisine Blog Competition, beliau menyampaikan bahwa selama ini ada kesesatan berpikir tentang hutan.

Kesesatan berpikir yang dimaksudkan adalah ketika “Hutan itu hanya dianggap sebagai onggokan pohon saja. Padahal hutan itu adalah ruang hidup. Di sana ada kesatuan ekosistem, ada pohonnya, ada satwa, ada tanaman obat, ada sumber pangan, ada kebudayaan.”

Selain itu, “di dalam atau di sekitar kawasan hutan, ada juga masyarakat adat yang tinggal, maka hutan sesungguhnya adalah identitas bagi masyarakat adat. Jadi kalau hutannya hilang, maka tidak ada lagi identitas masyarakat adatnya.”

Kesesatan berpikir berikutnya, ketika menganggap hutan itu tidak masalah kalau monokultur. Dalam hal ini, Mbak Alin berpendapat bahwa “Hutan itu adalah sesuatu yang beragam. Misalnya, kalau di sana hanya terdapat pohon akasia saja, itu bukan hutan, tapi kita bisa menyebutnya sebagai kebun kayu. Jadi jangan salah kaprah lagi, yang penting hijau kalau di pandang dari atas, padahal itu hanya pohon sawit. Sekali lagi, hutan itu bukan monokultur tapi keberagaman. Seperti halnya kehidupan sosial kita yang beragam, sesungguhnya itulah filosofi keberagaman alam.”

Nah, jika kita hubungkan dengan tema Blogger Gathering kali ini, Forest Cuisine, bahwa hutan itu adalah sumber pangan. Tetapi hal ini menjadi keprihatinan kita bersama. Mengingat banyaknya hutan yang telah dirusak di negeri ini, tentu hal itu berdampak pada sumber pangan manusia dari hutan yang semakin menipis.

Kalau melihat data dari media sosial WALHI, ada beberapa tumbuhan hutan yang bisa dimakan, tetapi terancam hilang. Dari beberapa tumbuhan tersebut ternyata ada yang sangat dekat dengan kehidupan saya, bahkan ada beberapa tumbuhan yang sering saya konsumsi. Bisa saya bayangkan kalau itu sudah tidak ada lagi. Saya tidak akan bisa mengkonsumsinya lagi.

Beberapa tumbuhan yang dimaksud seperti buah murbai, cantigi gunung, alang-alang, pohpohan, kecombrang, caplukan, semanggi, rane, lumut hati, berbagai jamur yang lezat (salah satu bahan yang digunakan pada cooking demo di event blogger gathering ini).

Akankah kita membiarkan tumbuhan itu hilang dan sama sekali tidak berbekas lagi? Mari kita renungkan bersama dengan sungguh-sungguh keberlanjutan hutan. Apalagi hutan itu begitu penting bagi kehidupan kita. Bukan saja karena menjadi sumber bahan pangan, tetapi karena hutan itu juga memiliki banyak fungsi lainnya.

Ada fungsi orologis (mencegah erosi), klimatologis (mengatur iklim), hidrologis (penyimpan air) estetis (tempat wisata) serta strategis (tempat berlindung).

Sahabat pembaca, sekarang saatnya kita beranjak dari pembahasan tentang fungsi hutan ke peran perempuan dalam mengelola hutan.

Menurut Mbak Alin, bahwa peran perempuan dalam mengelola hutan itu begitu penting. Perempuan adalah penjaga hutan, penyelamat hutan, penyelamat iklim. Mengapa? Alasannya karena perempuan melakukan peran-peran penyelamatan hutan yang berkelanjutan.

Jadi, kalau hutan terjaga dan masyarakat yang di kota merasakan manfaat hutan yang lestari itu karena pemanfaatan hutan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan oleh perempuan.

Salah satu peran nyata yang dilakukan oleh perempuan terlihat di Kalimantan Barat yang tetap konsisten mempertahankan Rimba Terakhir. Bukan itu saja, termasuk dua sosok WALHI Champion yang ikut meramakaikan Blogger Gathering yaitu Ibu Tati dan Mbak Tresna.

Kalau berbicara tentang peran perempuan dalam penyelamatan hutan yang berkelanjutan, tentu tidak terlepas dari kearifan perempuan memanfaatkan hutan sebagai bagian dari pangan keluarga, peran ekonomi, pemanfaatan untuk apotik keluarga, hingga pada sumber pengetahuan perempuan.

Produk-produk masyarakat (komunitas) binaan WALHI

Satu yang menjadi keyakinan Mbak Alin, “Kalau hutan dikelola oleh komunitas perempuan akan jauh lebih adil dan arif”. Tentu hal itu tidak terlepas dengan kerifan lokal, pengetahuan lokal dan bentuk identitas yang telah melekat selama ini dalam diri perempuan.

Ternyata hal itu dapat dibuktikan melalui peran hebat Mbak Tresna juga, salah seorang WALHI Champion yang hadir bersama para blogger.

Mbak Tresna adalah seorang sosok yang turut berjuang empat tahun terakhir agar pemerintah memberikan izin kepada komunitas atau masyarakat yang tinggal di sekitar hutan Kelurahan Sakuli, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, agar dapat mengelola hutannya sendiri. Bersyukurnya, saat ini perjuangan tersebut sudah memasuki tahap pengukuran lahan.

Sesungguhnya apa yang mendorongnya untuk memperjuangkan hal tersebut? Salah satunya karena hutan di sana banyak manfaatnya. Di sisi lain, banyak pemuda di daerah tersebut yang bangga dan bersemangat menjadi seorang petani, tetapi tidak memiliki lahan.

Berangkat sebagai cucu seorang petani membuat Mbak Tresna ingin mendukung penanaman pohon yang sudah mulai langka, seperti pohon sagu. Padahal sagu itu sendiri memiliki banyak manfaat, salah satunya bisa menjadi pengganti beras sebagai makanan pokok.

Sahabat pembaca, itulah beberapa perempuan yang peduli akan keberlanjutan hutan. Berharap, siapa pun kita, apa latar belakang kita, di mana kita berada, hendaknya memiliki semangat untuk mengikuti jejak mereka, berjuang demi keberlanjutan hutan.

Setelah selesai mengikuti sesi bincang-bincang bersama para narasumber, semua peserta mengikuti acara yang dinanti-nanti, cooking demo, bersama chef William Gozali.

Acara ini tentu sangat penting bagi peserta. Mengingat bahwa melalui cooking demo, diharapkan semakin tercipta kesadaran dan kepedulian akan kekayaan hutan Indonesia.

Bahkan lebih lagi, bersemangat menjadi agen sosialisasi “Forest Cuisine” di masyarakat melalui jalur literasi (tulisan). Bahwa hutan di Indonesia mampu menyediakan berbagai jenis bahan pangan. Untuk itu, mari semua berpartisipasi mendukung keselamatan hutan.

Nah, dalam cooking demo itu juga terlihat jelas pemakaian bahan pangan yang berasal dari hutan, seperti jamur yang begitu lezat. Apakah Anda termasuk penikmat jamur? Yuk dukung kelestarian hutan agar jamur-jamur terus berkembang biak di sana. Dan dengan keberadaan hutan anak-cucu kita dapat terus menikmatinya.

Akhir kata mari berkontribusi untuk mendukung penyelamatan dan perlindungan hutan demi kedaulatan pangan nasional.

Related Post

5 Replies to “Tangis Ibu Tati adalah Tangis Kita, Mari Peduli Hutan”

  1. Hutan ku jangan kau rusak

    Hutan bukan hanya punya kita tapi anak cucu untuk juga punya jatah.

    Tangisan ibu tati merupakan tangisan kita semua. Mari kejar bersama-sama itu orang yang membakar hutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *