Perpustakaan: Pencarian Mutiara Terpendam

“Asik, kita belajar di perpustakaan”.

Begitu reaksi beberapa siswa di dalam kelas. Hari itu, saya sengaja mengajak para siswa untuk belajar dan mengerjakan tugas pelajaran Sosiologi di ruangan perpustakaan. Alasannya sederhana, mencari suasana belajar yang berbeda.

Selain itu, materi pelajaran Sosiologi yang saya ajarkan memang membutuhkan banyak sumber dari koran atau majalah dari perpustakaan. Karena itu, para siswa saya minta untuk mencari beberapa contoh berita yang bernuansa konflik. Tentu sesuai dengan materi pelajaran yang sedang mereka pelajari yakni Konflik Sosial.

Setelah di ruangan perpustakaan, saya mengamati keseriusan mereka. Mulai dari proses mencari berita, menggunting berita yang relevan, hingga mendiskusikannya dengan kelompok masing-masing.

Untuk mengarahkan proses pembelajaran ini, saya pun telah menyiapkan beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi kelompok. Kemudian pada tahap akhir, mereka membuat kesimpulan dalam bentuk poster untuk dipersentasikan pada pertemuan berikutnya di depan kelas.

Magnet perpustakan memang begitu kuat, para siswa mengerjakan tugasnya dengan penuh antusias. Begitulah kesimpulanku.

Nah, kalau bagi saya pribadi, sebagai seorang guru sekaligus penulis (blogger), keberadaan perpustakaan memang memiliki manfaat yang sangat penting. Di samping sebagai ruang untuk membaca dan mempersiapkan materi pembelajaran di kelas, tidak jarang kehadiran saya di perpustakaan mampu memunculkan ide dan inspirasi untuk tulisan-tulisan saya.

Beruntungnya, di sekolah tempatku mengajar memiliki fasilitas perpustakaan yang lumayan lengkap. Bukan saja buku-buku berbahasa Indonesia, tetapi ada juga yang berbahasa asing. Sarana komputer telah dilengkapi dengan internet dan ada wifi untuk pengunjung. Bagi yang senang membaca majalah dan surat kabar, perpustakan telah menyediakannya dalam dua pilihan, yang berbahasa Indonesia atau berbahasa Inggris.

Satu hal lagi yang penting, perpustakaan telah memfasilitasi setiap anggota perpustakaan untuk mengakses berbagai informasi, membantu pencarian buku, pemesan buku, memantau waktu peminjaman buku agar tidak terlambat pengembaliannya, melihat review buku yang ditulis orang yang pernah baca buku tersebut, dan sebagainya.

Semua aktivitas tersebut dapat dipantau secara online melalui akun masing-masing, kapan dan dimanapun. Inilah kemajuan perpustakaan “zaman now”.

Fungsi Perpustakaan

Di era yang semakin maju teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan teknologi digital, tidak menutup kemungkinan orang akan semakin meninggalkan perpustakaan. Banyak orang yang beranggapan bahwa kalau untuk sekedar mencari informasi, tidak perlu ke perpustakaan, cukup mencarinya dari internet.

Pertanyaannya, sesungguhnya masih relevankah perpustakaan bagi masyarakat di masa sekarang?

Untuk menjawab hal itu, kita perlu memahami apa makna sesungguhnya perpustakaan dan fungsinya.

Merujuk pada Undang-Undang No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Pasal 3, bahwa perpustakaan itu  berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Ternyata, sedemikian banyak rupanya fungsi dari perpustakaan tersebut. Kalau begitu, mudahkah kita untuk meninggalkan perpustakaan yang mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebuah bangsa?

Harus kita akui bahwa telah banyak orang yang berpendidikan sekarang ini telah menikmati keberadaan perpustakaan tersebut.

Permasalahannya sekarang, bagaimana seharusnya membuat masyarakat tetap tertarik dan merasakan manfaat dari perpustakaan tersebut. Ini yang menjadi tantangannya.

Perpustakaan Unsyiah

Perpustakaan Unsyiah adalah salah satu perpustakaan yang berupaya untuk menjawab tantang tersebut. Setidaknya ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk tetap menggaet mahasiswa dan masyarakat luas agar tetap peduli literasi dan menyenangi perpustakaan.

Pertama. Unsyiah setiap tahunnya selalu melakukan kegiatan yang melibatkan masyarakat. Misalnya melalui Unsyiah Library Fiesta 2020. Untuk ULF 2020 ini, Unsyiah masih melaksanakan kegiatan yang melibatkan masyarakat luas melalui kegiatan lomba akustik, blog, baca puisi, cipta puisi, debat, dan shelving.

Kegiatan seperti ini adalah kegiatan yang inklusif. Tidak hanya berlaku bagi internal kampus. Penulis sendiri, walaupun bukan mahasiswa Unsyiah dan lokasi tempat tempat tinggal (Bekasi) sangat jauh dari Unsyiah, tetapi tetap mendapat kesempatan untuk mengikuti event tersebut yakni melalui lomba blog. Bahkan ini adalah untuk yang ketiga kalinya saya ikuti.

Kedua. Melalui pemilihan Duta Baca, sesungguhnya perpustakaan Unsyiah sedang berupaya untuk menularkan minat baca dan ketertarikan masyarakat datang keperpustakaan.

Ketiga. Unsyiah terus mengembangkan layanan online yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas di mana dan kapan pun. Layanan online yang dimaksud seperti seperti layanan local content, jurnal dan teks.

Untuk layanan local content, seperti informasi e-thesis and disertations, OPAC, jurnal Unsyiah, google search, Unsyiah union cataloque, open acces, jurnal terakreditasi. Sementara melalui jurnal dan teks, seperti informasi IEEE, science direct, proquest, spinger link, PDQT open, dan e-resources.

Ngomong-ngomong, sahabat pembaca pernahkan mendengar atau berkunjung ke perpustakaan Unsyiah? Kalau belum penasaran ingin mengenal perpustakaan ini lebih dekat dan mengetahui gebrakan-gebrakan yang dilakukan?

Yuk, silahkan langsung menyaksikannya pada video berikut!

Dari video singkat tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa perpustakaan Unsyiah ternyata bukan semata untuk tempat membaca buku saja, yang walaupun selama ini perpustakaan identik dengan buku.

Seperti yang disampaikan oleh Taufiq Abdul Gani, Kepala UPT Perpustakaan Unsyiah, menyatakan bahwa “More than just that”. Perpustakaan harus disesuaikan dengan life style mahasiswa yang suka berkreasi dan berinovasi.

Bahkan menurut beliau, perpustakaan dapat menjadi sarana berinteraksi dan menyatukan mahasiswa dari berbagai fakultas untuk berkreasi.

Pepustakaan sebagai Sarana Educate, Captivate, dan Connect

Nah, diakhir tulisan ini, saya ingin menyimpulkan bahwa perpustakaan itu ternyata bukan semata sebagai tempat mencari ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki daya tarik tersendiri, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengeksplorasi berbagai potensi yang dimiliki, serta menjadi tempat berinteraksi anatar satu dengan yang lainnya.

Semoga dengan semangat ini (educate, captivate, dan connect) perpustakaan semakin hidup dan memiliki daya tarik tersendiri. Salam.

__________________

Sumber Referensi:

  • Http://www.library.unsyiah.ac.id/
  • Undang-Undang No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *