“Maaf Pak! Anak Bapak positif Covid. Semoga lekas pulih iya!”
Sontak saya kaget ketika menerima hasil swab antigen dari seorang petugas klinik. Betapa tidak? Selama ini, hampir semua aktivitas anak kami masih dilakukan di dalam rumah. Termasuk belajarnya yang masih menerapkan sistem daring (online). Kalau pun keluar rumah, biasanya hanya untuk berjemur dan berolah raga ringan, itu pun dilakukan di tempat yang sepi.
Pagi itu (19 Februari 2022), kami memang sengaja membawa anak sulung kami ke sebuah klinik untuk melakukan tes swab antigen. Pasalnya, ada sebuah keperluan anak kami yang membutuhkan hasil tes swab antigen. Jadi, tes swab antigan saat itu bukan karena ada gejala yang sedang dialami berhubungan dengan Covid-19.
Setelah menerima hasil tes swab antigen yang menyatakan positif itu, awalnya kami masih ragu. Saya dan istri masih sempat ingin mencoba melakukan swab antigen di tempat lain untuk lebih meyakinkan kami. Tetapi niat itu kami urungkan. Kami berpikir, barangkali ini yang disebut dengan OTG (Orang Tanpa Gejala). Apalagi dokter sudah mengatakan kalau akurasi swab antigen tersebut bisa dipercaya koq.
Sepulang ke rumah, kami pun mulai mempersiapkan isolasi mandiri untuk anak sulung kami. Melakukan berbagai protokol kesehatan. Anak sulung kami mulai menjaga jarak dengan kami dan mulai menjalankan aktivitasnya seorang diri di kamar yang terpisah.
Sore harinya, anak sulung kami ternyata mulai mengeluh kalau tubuhnya meriang dan tenggorokannya agak gatal. Kami menyarankannya untuk mengukur suhunya, ternyata mencapai 37.5 derajat celsius. Memang suhunya tidak terlalu tinggi. Bahkan suhu tertingginya paling mencapai 38 derajat celsius. Itu pun tidak berlangsung lama.
Hari berikutnya (20 Februari 2022), batuknya pun mulai muncul dan semakin sering saja terdengar. Nah, dari perubahan-perubahan yang dialami tersebut, kami semakin yakin bahwa anak kami memang benar-benar terkena Covid-19.
Tidak lama berselang, masalahnya berbeda lagi. Dua adiknya, saya dan istri pun secara bergantian mulai mengalami hal yang sama. Tenggorokan gatal, batuk, flu, dan demam. Karena itu, kami segera menghubungi pihak puskesmas terdekat dan berkonsultasi untuk masalah tersebut.
Untuk memastikannya, pihak puskesmas meminta kami sekeluarga untuk menjalani tes PCR . Ternyata oh ternyata, dari hasil PCR di Puskesmas, kami berlima dinyatakan Positif Covid-19.
Wah, kami mulai panik. Bagaimana dengan pengobatannya? Pihak puskesmas memang sudah memberikan obat, tetapi ada yang perlu penambahan. Sementara dengan kondisi isoman, kami tidak mungkin keluar rumah untuk berobat, hal itu tentu bisa menimbulkan penularan kepada orang lain.
Beberapa informasi dari teman dan juga setelah mencarinya dari berbagai sumber di intenet, bahwa bagi mereka yang sedang melakukan isoman karena Covid-19, ada bentuk dukungan obat dari pemerintah, yakni bisa mendapatkannya dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Singkat cerita, akhirnya saya menghubungi pihak Kemenkes. Benar saja, pihak Kemenkes segera berespon. Bahkan menyampaikan bahwa kami telah terdata dalam sistem Kemenkes sebagai pasien Positif Covid-19.
Selanjutnya pihak Kemenkes menyarankan kami untuk melakukan konsultasi keadaan kesehatan secara online kepada dokter telemedicine guna mendapatkan resep digital. Setelah itu, baru kami bisa melakukan penebusan paket obat yang diresepkan dokter telemedicine melalui link yang sudah disediakan oleh pihak Kemenkes.

Berkaitan dengan telemedicine tersebut, Kemenkes saat itu memberikan enam pilihan kepada kami, salah satunya yang tertera di sana adalah SehatQ.
Prosesnya ternyata tidak sulit. Kita cukup mengunduh salah satu aplikasi telemedicine yang telah dianjurkan pemerintah. Kemudian melakukan konsultasi dengan dokter telemedicine tersebut. Setelah berkonsultasi dengan dokternya, kita pun akan diberikan resep digital.
Resep itulah yang akan kita digunakan untuk menebus obat dari Kemenkes. Setelah itu, obat yang kita butuhkan akan segera dikirimkan melalui apotik terdekat yang telah ditunjuk oleh pihak Kemenkes. Sekali lagi, prosesnya ternyata tidak begitu sulit dan tidak memakan waktu lama. Bahkan sangat membantu mereka yang sedang menjalani isoman atau yang tidak memungkinkan pergi keluar rumah.

Sekarang kami sekeluarga sudah pulih dari Covid-19, sudah bisa beraktivitas ke luar rumah lagi, tentu setelah menjalani isolasi mandiri lebih dari sepuluh hari.
Untuk memastikan hal yang kami lakukan pasca isoman, maka saya tetap menyempatkan diri untuk melakukan konsultasi dengan salah seorang dokter SehatQ. Saya bertanya tentang hal-hal yang kami lakukan pasca isoman, apakah masih ada vitamin atau obat yang perlu dikonsumsi.
Respon dokter SehatQ memang tergolong cepat dan proses penggunaan aplikasinya tergolong mudah. Sementara untuk hasil konsultasinya juga sangat memuaskan. Salah satu petikannya seperti berikut.
“Baik, apabila tidak ada keluhan, baiknya tidak konsumsi obat dan vitamin. Balik ke pola makan, pola tidur dan kebersihan tubuh dan lingkungan”. Kata dokter tersebut sambil mengakhiri perbincangan kami.
Transaksi Produk dan Layanan Kesehatan di SehatQ, Amankah?

Harus diakui bahwa era digitalisasi seperti sekarang, hampir semua aktivitas kegiatan sehari-hari mulai terhubung dengan perangkat digital dan internet. Begitu halnya dengan dunia medis. Bahkan untuk mengakses berbagai layanan kesehatan kita sesungguhnya semakin dimudahkan. Hal ini tidak terlepas dengan perkembangan dan kemajuan berbagai aplikasi telemedicine
Melalui aplikasi telemedicine, sekarang banyak orang yang dimudahkan melakukan konsultasi dengan dokter hingga membeli obat dan vitaminnya.
Tak bisa dimungkiri, keadaan memang terkadang menuntut kita untuk melakukan konsultasi dengan dokter melalui telemedicine. Misalnya, ketika pandemi semakin marak, tidak sedikit orang sakit menunda berobat ke rumah sakit atau klinik. Selagi masih bisa ditangani (untuk golongan sakit tertentu), mereka mencoba menkonsumsi obat dan vitamin saja. Alasannya takut tertular Covid-19.
Saya sendiri pernah mengalami hal itu, tidak berani ke rumah sakit walau dalam keadaan sakit. Bahkan dengan cerita yang sudah saya sampaikan di atas, bagaimana kami bisa berkonsultasi dengan dokter ketika sedang melakukan isoman di rumah. Untung saja ada telemedicine.
Nah, salah satu layanan telemedicine yang pernah saya gunakan, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya adalah SehatQ.
Bagi sahabat pembaca yang ingin mencoba atau sekedar mengenalinya lebih jauh, bisa saja berkunjung langsung ke website SehatQ.com. Di sana akan kita temukan berbagai menu layanan kesehatan yang ditawarkan. Misalnya, chat dokter, booking dokter, beli obat atau vitamin, dan yang lainnya.
Barangkali sahabat pembaca ada yang bertanya. Bagaimana tingkat keamananan transaksi produk dan layanan kesehatan di SehatQ?
Untuk hal tersebut, tentu tidak perlu terlalu khawatir. SehatQ sebagai telemedicine yang sudah berdiri sejak November 2018 ini, ternyata memiliki tingkat keamananan transaksi produk dan layanan kesehatan yang terpercaya. Hal itu bisa kita buktikan dengan kepemilikan sertifikasi PSEF.
Sudah pernah mendengar sertifikasi PSEF?
Sertifikasi PSEF atau singkatan dari Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi merupakan bentuk badan hukum yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan sistem elektronik farmasi untuk keperluan fasilitas pelayanan kefarmasian yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.
Jadi, bisa dikatakan bahwa sertifikasi ini merupakan regulasi untuk penjualan obat secara online yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Nah, untuk kepemilikan PSEF tentu bukan hal yang mudah. Harus memenuhi beberapa persyaratan. Misalnya, memiliki surat tanda Penyedia Sistem Elektronik (PSE) dari Kementerian Informatika (Kominfo), akses pengawasan pemerintah, dan izin dari Kementerian Kesehatan. Artinya ketika SehatQ telah memiliki sertifikasi PSEF, sudah barang tetu memenuhi berbagai persyaratan yang dimaksud.
Bersadarkan fakta tersebut, kini kita yakin bahwa SehatQ bisa menjadi pilihan kita. Terutama bagi yang ingin mendapatkan layanan kesehatan dan membeli obat tetapi dengan berbagai alasan harus tetap di rumah atau mungkin tidak bisa meninggalkan aktivitas tertentu.
Akhirnya mari kita nikmati kemudahan ini untuk hidup lebih aman, nyaman dan lebih sehat. (TS)
___________
Sumber Referensi : PSEF
+ There are no comments
Add yours