Imunisasi Lengkap: Lindungi Diri, Keluarga dan Masyarakat

Sumber gambar: tangkapan layar dari informasi kementerian kesehatan

Kami hampir menyerah untuk memberikan imunisasi covid-19 kepada anak kembar kami yang berkebutuhan khusus. Mereka berupaya untuk menghindar dan meronta saat mau melakukan imunisasi.

Berbagai bujuk rayu kami lakukan, tetapi mereka tidak mau ke area pelaksanaan imunisasi.

Sepertinya mereka sangat trauma melihat petugas tenaga kesehatan. Barangkali karena mereka pernah menjalani proses terapi yang sangat panjang.

Untung saja kami mendapat dukungan dari penyelenggara imunisasi dan tenaga kesehatan. Dengan penuh kesabaran, akhirnya anak kami pun mendapatkan imunisasi covid-19, walau dengan menggunakan tenaga empat orang yang harus memegangi mereka.

Begitulah pengalaman kami melakukan imunisasi covid-19 kepada anak kami yang berkebutuhan khusus sebanyak dua kali.

Saya tidak dapat menduga apa yang akan terjadi kalau kami menyerah saat itu. Pasti ada rasa penyesalan. Pasalnya, beberapa bulan kemudian setelah menyelesaikan dua kali imunisasi covid-19, kami sekeluarga pun terpapar covid-19.

Saya sangat yakin, kalau bukan karena imunisasi covid-19, fisik kami pasti tidak kuat melawan virus yang sedang bersarang di dalam tubuh kami.

Memang saat itu kami sempat mengalami demam sehari dan disusul dengan batuk-batuk, tapi setidaknya tidak lagi merasakan gejala berat seperti yang pernah dirasakan orang yang terpapar covid-19 tetapi belum pernah mendapatkan imunisasi.

Bersinergi Menumbuhkan Kesadaran Imunisasi

Berdasarkan pengalaman tersebut, tentu menyadarkan kita semua tentang pentingnya  imunisasi. Hal ini sesungguhnya bukan saja bicara imunisasi covid-19, tetapi begitu halnya dengan imunisasi lainnya.

Sesuai dengan hakikatnya, memang imunisasi tersebut merupakan suatu proses yang membuat orang kebal terhadap penyakit tertentu, seperti hepatitis, polio, tubercolosis, difteri, pertusis, tetanus, meningitis, pneumonia, diare, campak, dan lain sebagainya.

Harus disadari memang, bahwa ada jenis Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi atau sering disebut juga dengan istilah PD3I.

Jadi bisa dibayangkan kalau seseorang mengalami penyakit yang masuk kategori PD3I, tetapi orang yang bersangkutan belum pernah mendapatkan imunisasi yang relevan. Bagaimana tubuhnya akan melawan jenis penyakit tersebut?

Imunisasi memang bukan sesuatu yang baru di dunia dan di negeri kita. Bahkan kalau melihat sejarahnya, imunisasi di Indonesia pertama kali telah mulai dilangsungkan tahun 1956 untuk memberi kekebalan tubuh melawan penyakit cacar.

Kemudian berlanjut dengan imunisasi campak tahun 1963, BCG untuk penyakit TBC tahun 1973, imunisasi tetanus toksoid tahun 1974, imunisasi DPT tahun 1975, imunisasi polio tahun 1981, dan imunisasi lainnya terus berkembang hingga sekarang.

Fakta sejarah memang berkata, bahwa pemberian imunisasi tersebut diakui sebagai salah satu upaya pencegahan yang sangat efektif dalam upaya memerangi wabah penyakit yang sedang berjangkit, bahkan bisa menghindarkan diri dari kecacatan dan kematian. Tetapi fakta tersebut tidak serta merta beriringan dengan tumbuhnya kesadaran seluruh masyarakat.

Hingga saat ini, masih ada saja yang menganggap imunisasi tersebut tidak penting dan genting dilakukan.

Berdasarkan data tahun 2021 yang dirilis WHO, terdapat 25 juta anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap di tingkat global. Angka ini menunjukkan peningkatan 5,9 juta lebih banyak dari tahun 2019. Atau dari segi presentasinya, ada penurunan dari 86% pada tahun 2019 menjadi 81% pada tahun 2021.

Bagaimana dengan keadaan di Indonesia?

Ternyata terdapat sebanyak 1,525,936 anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap sejak tahun 2017 hingga tahun 2021. Atau setara dengan 93,7% pada tahun 2019 menjadi 84,5% pada tahun 2021.

Tetapi kita bersyukur pada tahun berikutnya telah ada peningkatan.

Pada tahun 2022, telah terjadi peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap sebesar 99,6%. Namun bukan tanpa permasalahan, bahwa ternyata pelaksanaan imunisasi tersebut belum merata di setiap wilayah yang ada di Indonesia.

Dari situs sehatnegeriku.kemkes.go.id dikatakan bahwa capaian Imunisasi nasional tahun 2022 belum mencapai target, utamanya disumbang oleh provinsi di luar regional Jawa dan Bali, dimana capaian per provinsi masih dibawah 35%. salah satunya ditandai dengan adanya Kejadian Luar Biasa Polio (KLB) polio di salah satu Kabupaten di Aceh.

Selain itu tantangan di atas, ternyata hingga sekarang masih ada beberapa tantangan lainnya.

Misalnya, masih ada anggapan negatif terhadap imunisasi rutin seperti dapat menimbulkan autisme dan kemandulan, imunisasi tidak aman dan kurang berkualitas.

Ada juga yang beranggapan bahwa imunisasi itu dianggap kurang penting. Dan masih banyak lagi tantangan lainnya.

Masalah dan tantangan yang demikian tentunya menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Mengutip pernyataan Juru bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan, yang utama adalah melindungi generasi kita dari kecacatan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan cara yang paling efektif yaitu dengan Imunisasi”

Tentunya hal ini bukan semata tugas pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Sebaiknya antara pemerintah dan masyarakat harus bersinergi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi tersebut, mengingat itu adalah kepentingan bersama kita pula, untuk meningkatkan kemajuan kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, setidaknya ada beberapa pesan positif yang bisa kita sosialisasikan dan kampanyekan di lingkungan masing-masing.

Bahwa dengan imunisasi lengkap, maka masyarakat Indonesia akan sehat. Dengan melakukan imunisasi lengkap terbukti aman dan efektif melindungi anak dan keluarga dari PD3I.

Kita juga bisa menyampaikan ajakan agar membawa anak ke pos pelayanan imunisasi sesuai jadwal. Kemudian, bagi yang ingin melakukan imunisasi ganda itu ternyata aman dan bermanfaat.

Ada juga pesan untuk memastikan kepada Wanita Usia Subur (WUS) untuk mendapatkan imunisasi yang mengandung Tetanus Toksoid lengkap sebelum hamil.

Serta pastikan bahwa imunisasi rutin lengkap sudah dilakukan pada anak usia sekolah.

Perhatian dan Dukungan untuk Populasi Khusus

Selanjutnya peran dan tugas kita bersama, sesungguhnya bukan saja sebatas bersinergi untuk menumbuhkan kesadaran imunisasi. Tetapi ada juga tugas dan peran yang tidak kalah penting, terutama untuk memberikan perhatian dan dukungan untuk populasi khusus.

Siapa saja populasi khusus yang dimaksudkan?

Tentu kita tidak boleh abai dengan populasi yang barangkali sering kurang mendapat perhatian tersebut seperti kaum disabilitas dan anak jalanan.

Pertanyaannya, mengapa penting memperhatikan dan mendukung populasi khusus yang demikian?

Untuk penyandang disabilitas, barangkali ada yang memiliki risiko terhadap infeksi dan komplikasi penyakit tertentu, karena itu perlu dipastikan apakah mereka sudah mendapatkan semua jenis vaksin yang dianjurkan sesuai usia mereka.

Begitu halnya dengan  anak jalanan. Anak jalanan sering sekali memiliki keterbatasan akses berkaitan dengan perawatan kesehatan. Belum lagi sering hidup di daerah yang kurang mendukung dari sisi kesehatan. Oleh karena itu, imunisasi itu begitu penting untuk memperkuat kekebalan tubuhnya.

Sementara untuk ibu hamil, perlu benar-benar diperhatikan berbagai jenis imunisasi yang akan mendukungnya melahirkan generasi yang sehat. Sebab dengan melahirkan generasi sehat, sama saja sedang menyelamatkan masa depan bangsa.

Itulah beberapa populasi khusus yang memang benar-benar perlu mendapat dukungan.

Pekan Imunisasi Dunia 2023, Momentum Bagi Kita

Nah, beberapa waktu ke depan 4-10 Mei 2023, dunia kembali akan memperingati Pekan Imunisasi Dunia (PID). Kegiatan tersebut sesungguhnya bukan kegiatan baru, tetapi sudah dimulai sejak 2012 yang diprakarsai oleh World Health Assembly (WHA).

Bagi kita, PID tersebut harus kita jadikan sebagai momentum untuk bersinergi meningkatkan kepedulian dan kesadaran bagi diri, keluarga, dan masyarakat tentang pentingnya imunisasi. Tentu senada dengan tujuan dari PID 2023 itu sendiri.

Pertama. Meningkatkan partisipasi aktif masyarakat terutama orang tua dan pengasuh anak dalam mencapai status imunisasi rutin lengkap sesuai jadwal.

Kedua. Mendorong keterlibatan lintas program, lintas sektor, organisasi profesi, Lembaga Swadaya Masyarakat , dunia usaha, dan mitra lainnya dalam program imunisasi melalui inovasi berbasis bukti, guna mencapai eradikasi dan eliminasi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Ketiga. Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kepercayaan masyarakat akan nilai penting dan manfaat imunisasi untuk kesehatan keluarga sepanjang usia.

Harapannya dengan momentum PID kali ini, kita bisa mengajak seluruh elemen bangsa dengan ajakan “Ayo lindungi diri, keluarga dan masyarakat dengan imunisasi lengkap” sesuai tema PID 2023.

Sumber Referensi:

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours