Homo Fabulans di Era Content Creator

Dokpri

Tak kuasa menahan rasa haru. Akhirnya saya berkesempatan mengikuti sebuah syuting iklan layanan masyarakat.

Semuanya berawal dari sebuah cerita yang pernah saya publikasikan di sebuah platform media sosial. Tentang kisah seorang guru yang pernah mengajariku saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Tidak pernah saya duga, kalau kisah itu akan diangkat menjadi iklan layanan masyarakat oleh sebuah perusahaan farmasi nasional. Tepatnya sebagai iklan untuk mengenang Hari Pahlawan dan Hari Guru lima tahun silam.

Tentu saya sangat bersyukur, kisah hidup saya bersama guru sekolah dasarku bisa menjadi kisah yang menginspirasi. Bukan itu saja, saya pun berkesempatan mempersembahkan sesuatu kepada guru yang pernah mendidikku.

Itulah kekuatan dari sebuah cerita. Ternyata cerita yang sederhana itu, telah berubah menjadi konten yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Saya yakin sahabat pembaca pun sesungguhnya memiliki banyak cerita.

Sebab sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak punya cerita. Bahkan, pada dasarnya manusia bisa dibilang sebagai makhluk bercerita atau sering disebut dengan homo fabulans.

Lantas, apakah alasan manusia itu senang atau ingin bercerita?

Ternyata, manusia itu pada umumnya ingin di dengar. Bahkan tidak sedikit manusia yang merasa lega ketika menyampaikan unek-unek yang tersimpan dalam hatinya kepada orang lain.

Ada juga tipikal manusia yang senang bercerita karena ingin mendapat pengakuan dan penghargaan, sehingga begitu bersemangat untuk menceritakan setiap capaian dan keberhasilan dalam kehidupannya.

Selain itu, ada hal yang tak kalah penting.

Dengan bercerita ternyata dapat membantu manusia membangun dan mempererat hubungan satu dengan yang lainnya. Bahkan tidak jarang dengan cerita itu tercipta hubungan yang erat dan mendalam. Ini pula yang membuktikan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial.

Apa pun alasan manusia itu bercerita, setidaknya dari berbagai cerita tersebut ada banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh seseorang. Tidak jarang seseorang mendapatkan moral, hiburan, inspirasi, dan motivasi hidup dari setiap cerita yang pernah didengarnya.

Nah, di tengah-tengah maraknya penggunaan media sosial dan  kemajuan teknologi digital, ternyata semangat bercerita itu tetap melekat pada diri manusia. Bahkan, sering sekali cerita-cerita itu dikemas dalam bentuk konten menarik dan segar.

Uniknya, di era informasi seperti sekarang ini, ada jenis pekerjaan baru bagi mereka yang senang dan kreatif mengolah cerita dan informasi yang dia miliki. Jenis pekerjaan yang saya maksudkan salah satunya adalah content creator.

Sudah pernah dengar istilah content creator?

Bisa dibilang kalau content creator itu adalah orang yang terlibat aktif dalam pembuatan konten. Sementara kalau bicara tentang bentuk konten tersebut bisa saja dalam bentuk tulisan, gambar, audio, dan video.

Kemudian, konten tersebut ditayangkan pada berbagai platform sesuai tujuan dan kepentingannya. Bisa saja ditampilkan di berbagai media sosial seperti blog, facebook, instagram, youtube, dan yang lainnya.

Kalau bicara dari sisi penghasilan, pekerjaan sebagai content creator itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak sedikit content creator yang berhasil meraup keuntungan sebagai hasil kerja kreatifnya. Jadi, sah-sah saja kalau semakin banyak orang yang menggeluti pekerjaan sebagai content creator secara profesional.

Oleh karena itu, tidak kaget lagi ketika Presiden Joko Widodo pernah bertanya kepada seorang pelajar sekolah dasar tentang cita-citanya. Tentu tidak ada yang menduga kalau anak tersebut menjawabnya dengan penuh semangat, bahwa dia ingin menjadi seorang youtuber.

Itu pertanda bahwa pekerjaan sebagai pembuat konten mendapat tempat di hati masyarakat, tentunya karena ada peluang dan harapan yang menjanjikan di sana.

Pertanyaannya, apakah Anda juga tertarik menjadi seorang content creator?

Sesungguhnya, siapa pun memiliki kesempatan menjadi seorang content creator. Bahkan tidak ada batasan umur, gender, profesi, agama, suku, ras, atau yang lainnya untuk menjadi seorang content creator.

Selagi memiliki cerita dan informasi menarik untuk dibagikan, kenapa tidak? Bukankah setiap hidup kita masing-masing memiliki pengalaman hidup yang unik, yang layak menjadi bahan pembelajaran, inspirasi, motivasi, hiburan bagi orang lain?

Sebagai seorang guru, saya tergolong senang dan aktif menulis di berbagai platform. Baik itu konten tentang pengalaman hidup sebagai guru, pendidikan, parenting, humaniora, sosial budaya, teknologi, dan lain sebagainya.

Konten-konten yang saya tulis tersebut, tentu bukan saja bermanfaat untuk khalayak luas, tetapi sering sekali dari konten tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi peserta didik di dalam atau di luar kelas.

Mengingat saya aktif menulis konten, akhirnya saya pun dipercaya menjadi pembimbing ekstrakurikuler di sekolah tempat saya mengajar. Baik itu sebagai pembimbing ekstrakurikuler “Content Creator” maupun  “Blogger Club”.

Menjadi pembimbing ekstrakurikuler tersebut, tentu harus bisa menjadi model bagi peserta didik. Layaknya yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarso Sung Tulodo”. Guru harus menjadi teladan.

Artinya, kalau mau mengajar tentang bagaimana membuat konten yang baik kepada peserta didik, tentu gurunya harus terlebih dahulu melakoninya. Atau jangan hanya menginstruksikan peserta didik membuat konten, tetapi guru sendiri tidak pernah membuat konten.

Bahagianya sebagai pembimbing ekstrakurikuler tersebut, ternyata sudah ada ratusan peserta didik yang pernah saya bimbing membuat konten di kelas ekstrakurikuler. Bukan saja bermanfaat ketika duduk di bangku SMA, ada juga yang masih aktif membuat konten setelah duduk di bangku kuliah atau di dunia kerja.

Selain sebagai pembimbing ekstrakurikuler, saya juga aktif membuat konten untuk kepentingan lomba. Baik itu dalam bentuk blog, foto, video, dan podcast. Dari begitu banyak lomba yang pernah saya ikuti, setidaknya sudah ada lebih dari 70 prestasi tingkat nasional.

Karena aktif menulis konten, saya juga pernah juga menjadi narasumber di sebuah stasiun radio swasta, menjadi juri lomba, membawa pelatihan, serta berkesempatan berkeliling beberapa daerah yang belum pernah saya kunjungi.

Intinya, tidak ada ruginya disiplin dan konsisten membuat konten, untungnya sih banyak. Seperti beberapa hal yang sudah saya paparkan di atas.

Itulah salah satu cerita saya tentang pengalaman menulis konten. Saya sangat senang bisa berbagi cerita melalui konten. Setidaknya ada banyak yang merasakan manfaat dari konten tersebut.

Nah, bagi Anda yang ingin juga menggeluti dunia “perkontenan”, baik sekadar untuk menyalurkan hobi atau memang ingin dilakukan secara profesional, jalanilah sebuah proses. Proses itu bisa panjang atau cepat, karena itu harus tetap bersabar.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan, teruslah belajar, asah kreativitas, perdalam keahlian pendukung sebagai content creator.

Lalu, jangan lupa berkonten rialah dengan intenet provider yang mumpuni. Internet adalah senjata pamungkas yang tidak boleh diabaikan oleh seorang content creator.

Kalau bicara tentang internet provider, maka jawabannya adalah IndiHome. IndiHome sendiri adalah internet provider yang ada di bawah naungan Telkom Indonesia.

Pertanyaannya, mengapa harus memilih IndiHome?

Alasannya karena internet IndiHome itu cepat dan stabil, harga terjangkau, ada berbagai paket yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan, serta memiliki jaringan yang luas di seluruh negeri.

Sekarang, selamat berkonten ria, raihlah impianmu sebagai content creator, dan jadilah berguna bagi banyak orang melalui konten yang berkualitas dan unggul.

 

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours