Menjaga Pasar sebagai Etalase Keragaman dan Kekayaan Rakyat

Guru dan ibuku adalah dua sosok utama yang pertama kali memperkenalkanku dengan pasar. Guruku berkata kalau pasar itu adalah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli. Sementara Ibuku mengajarkan secara langsung tentang cara berinteraksi dengan orang lain di pasar.

Mengingat orang-orang yang ada di pasar itu sangat beragam latar belakangnya, maka sangat perlu pengalamanan khusus melakukan interaksi di pasar. Barangkali hal itu tidak akan pernah didapatkan di bangku sekolah, tetapi ketika seseorang itu terjun ke pasar.

Sejak kecil, ibuku memang rajin membawa kami anak-anaknya ke pasar secara bergantian. Pengalaman itu tentu membekas dan menaruh makna tentang pasar dalam diri kami anak-anaknya. Sejak saat itu, saya pribadi dapat mengerti arti pentingnya pasar bagi rakyat.

Pasar ternyata dapat mengajarkan kita untuk bergaul dengan beragam latar belakang, tanpa melihat perbedaan status dan identitas seseorang. Melalui pasar kita dapat melihat sosok-sosok pekerja keras yang sangat menghargai waktu. Ketika kita masih tidur, ada banyak orang yang sudah menjalankan aktivitasnya di pasar sejak subuh. Di pasar juga kita dapat melihat solidaritas yang kuat antar sesama pedagang. Masih banyak lagi hal lain yang bisa kita pelajari di pasar.

Jadi, pasar ternyata bukan lagi semata-mata bicara tentang tempat pertemuan penjual dan pembeli. Memaknai pasar itu harus holistik. Harus melihat dari berbagai sudut pandang.

Senada dengan yang disampaikan Swandajani Gunadi (Direktur SDM dan Marketing Adira Finance) bahwa pasar rakyat merupakan posisi yang strategis, di mana merupakan tonggak perekonomian para UKM dan juga sekaligus sarana mengembangkan ekonomi kerakyatan yang kreatif, edukatif dan berbudaya.

Beliau juga menyampaikan bahwa pasar rakyat merupakan etalase kekayaan daerah sebagai tempat kuliner, miniatur budaya dari sebuah kota, memberikan sebuah karakter dari sebuah daerah, dan saat ini sering juga dijadikan sebagai destinasi wisata yang unik untuk dikunjungi oleh para wisatawan.

Dari pemaparan tersebut tentu kita bisa melihat keholistikan dari pasar yang saya maksudkan. Mengingat banyaknya peran dan fungsi pasar tersebut, maka pasar sejatinya dikembangkan dan dihidupkan.

Nah, kalau kita lihat tantangan pasar rakyat akhir-akhir ini, tentunya bukan semakin mudah, terutama pasar rakyat yang ada di perkotaan. Sekarang ada banyak pilihan rakyat untuk berbelanja, mulai dari mall, swalayan, pedagang online, dan yang lainnya. Tidak sedikit pula rakyat yang enggan ke pasar karena terkesan kotor, kumuh dan becek. Ini merupakan tantangan serius pihak pemangku kepentingan dan pelaku pasar rakyat. Harus benar-benar membenahi pasar agar orang tetap tertarik  ke pasar.

Belum lagi masyarakat sudah banyak mulai terbiasa dengan transaksi digital, terutama di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Penggunaan transaksi digital ternyata semakin disenangi untuk meminimalkan penyebaran Covid-19. Untuk itu, pasar pun harus mulai menerapkan penggunaan transaksi digital tersebut. Tentu untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pembeli.

Tapi perlu diingat, bukan berarti dengan penggunaan transaksi digital tersebut tiba-tiba mengakibatkan omzet pasar rakyat itu langsung meledak. Tapi dengan adanya digitalisasi tersebut menambah saluran penjualan atau volume penjualan. Sesungguhnya pemanfaatan teknologi digital itu memang sebuah keniscayaan. Terutama masa pandemi Covid-19 ini, maka dapat mempercepat proses penjualan. Demikian disampaikan Niko Kurniawan Bonggowarsito (Direktur Penjualan, Pelayanan dan Distribusi Adira Finance).

Di tengah-tengah tantangan pasar yang semakin kompleks, kita bersyukur masih ada pihak-pihak yang tetap memberikan perhatian khusus pada pasar. Diantaranya Adira Finance.

Sejalan dengan brand yang diusung Adira Finance “Sahabat Setia Selamanya”, sebagai wujud peduli kepada pedagang pasar rakyat, upaya mengemban visi “Menciptakan Nilai Bersama untuk Meningkatkan Kesejahteraan”, serta wujud tanggung jawab sosial, maka Adira Finanace menyelenggarakan Festival Pasar Rakyat (FPR) 2020. FPR ini dilakukan selama bulan November dan Desember 2020.

Sesungguhnya FPR bukanlah sesuatu yang baru, tetapi sudah mulai dilaksanakan sejak 2015. Bedanya, kali ini didominasi dengan aktivitas yang berbasis online.

Adapun program yang diusung pada FPR 2020 ini yakni Sosialisasi Pencegahan Covid-19 misalnya dengan pembagian masker gratis dan edukasi pencegahan Covid-19 untuk ekosistem di pasar rakyat. Sebanyak 50.000 masker akan dibagikan ke 30 lokasi pasar rakyat yang tersebar di 6 kota Indonesia.

Selain itu ada juga pelaksanaan webinar untuk meningkatkan pengetahuan ekosistem di pasar rakyat, mengenai pentingnya pemahaman dan penggunaan sarana online untuk membantu mengembangkan usaha.

Serta program pendampingan untuk memberikan dampak positif sehingga dapat semakin berkembang dan memperkaya pengetahuan mereka tentang dunia usaha.

Berharap dengan program FPR 2020 Bangkit Bersama Sahabat, mendorong masa depan pasar yang semakin cerah dan mampu bersaing di era digitalisasi.

____________

Sumber Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *