
Sebagai orang tua, pernahkah merasa khawatir kalau anak Anda sedang mengalami ketergantungan atau kecanduan pada gadget?
Ternyata, itu bukan hanya masalah Anda. Ada banyak orang tua yang merasa khawatir anak mereka sedang mengalami ketergantungan atau kecanduan pada gadget, atau memanfaatkannya untuk aktivitas yang negatif atau yang tidak bermanfaat.
Lantas, apakah kita akan menyalahkan kehadiran gadget di zaman sekarang? Atau berupaya menjauhkan gadget dari tangan anak kita?
Saya rasa tidak demikian konsepnya.
Kita sudah melihat bersama, bahwa gadget bagi seorang anak (siswa) ternyata sangat penting untuk mendukung pendidikan mereka.
Masih ingat bukan? Ketika dunia dilanda pandemi covid-19, dunia pendidikan adalah salah satu yang merasakan betapa penting dan gentingnya teknologi digital seperti smartphone, tablet, laptop, atau komputer.
Saya sendiri sebagai guru, merasakan hal tersebut. Bahwa untuk melakukan pembelajaran daring, setidaknya di tangan guru dan siswa harus ada gadget sebagai sarana pendukung untuk berinteraksi.
Tidak mungkin selama dua tahun saya tetap dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab saya sebagai guru dengan baik tanpa adanya gadget di tangan siswa.
Sekali lagi, pokok permasalahannya sesungguhnya bukan gadget, tetapi bagaimana gadget yang ada di tangan anak (siswa) bisa dimanfaatkan untuk perkembangan dan kemajuan diri serta menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat.
Gadget tentu tidak salah, tergantung kita yang memanfaatkannya. Ibarat pisau, yang sangat bermanfaat untuk mengupas bawang, tetapi dapat juga melukai. Kita pilih yang mana?
Oleh karena itu, edukasi tentang pemanfaatan gadget teramat penting bagi para anak (siswa). Tentunya keluarga dan sekolah memegang peranan penting untuk hal ini.
Sebagai orang tua atau guru, mulailah memperkenalkan literasi digital sejak dini.
Ngomong-ngomong sudah pernah mendengar istilah literasi digital?
Menurut UNESCO, bahwa literasi digital itu merupakan kecakapan (life skills). Tidak hanya melibatkan kemampuan penggunaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, tapi juga melibatkan kemampuan dalam bersosialisasi, sikap berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetisi digital.
Atau bisa juga dibilang bahwa literasi digital tersebut melibatkan hal-hal berikut, seperti membaca, memahami, menulis, dan mengkaryakan sesuatu sebagai sebuah pengetahuan maupun konten baru dengan media teknologi digital.
Sementara, untuk meningkatkan kecakapan dalam berliterasi digital, pemerintah kita, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memperkenalkan empat pilar literasi digital. Kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital.
Nah, ketika anak (siswa) sudah melek literasi digital, berharap gadget di tangan anak (siswa) diperuntukkan untuk hal yang baik, penting, dan berguna.
Sebagai orang tua dan guru, kita wajib tetap mendampingi anak dalam hal memanfaat gadget tersebut, membentuk prosedur atau aturan yang jelas, serta keteladanan dalam pemanfaatan gadget.
Berdasarkan pengalaman sebagai guru, saya mencoba menularkan semangat pemanfaatan gadget bagi para siswa untuk hal yang baik dan positif.
Misalnya, melalui ekstrakurikuler “Blogger Club” yang saya bimbing di sekolah, saya berupaya agar siswa untuk berkarya dengan mempublikasikan tulisan di blog, baik itu berupa pengetahuan, pengalaman, atau hal-hal yang dapat menginspirasi orang lain.
Begitu juga sebagai orang tua di rumah, saya tetap mendidik dan membimbing anak, agar tetap memanfaatkan gadget dengan baik dan benar untuk keperluan pendidikan.
Sekali lagi, pendampingan dan keteladanan adalah salah satu cara paling bijak yang dapat membantu agar anak saya menggunakan gadget untuk hal-hal yang bermakna.
Oleh karena itu, hasilnya terlihat jelas dan nyata, tidak sedikit siswa yang menghasilkan karya dan prestasi di media online, begitu juga dengan anak saya di rumah.
Dengan demikian, kalau mereka sudah memanfaatkan gadget dan jaringan internet untuk hal yang baik dan berguna, maka tidak ada hal yang sia-sia ketika mencoba memfasilitasi anak dengan gadget dan jaringan internet dari internet provider berkualitas.
Barangkali, tidak akan ada ruginya ketika mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar internet provider dan memanfaatkan jasa internet provider tersebut.
Bahkan dengan sikap dan tanggung jawab yang sudah teruji, sebaiknya anak harus difasilitasi dengan internet provider yang dapat memaksimalkan potensi dan karya mereka.
Nah, kalau kita berbicara tentang internet provider, maka IndiHome adalah salah satu internet provider yang banyak dipercaya di negeri ini. Alasannya tentu karena kualitas jangkauan, pengalaman, dan inovasi yang tidak pernah berhenti.
Apalagi IndiHome itu, ada di bawah perusahaan Telkom Indonesia, yang sudah dikenal luas di negeri kita.
Akhir kata, semoga kehadiran internet provider dan gadget yang ada di tangan anak kita, dapat melahirkan berbagai karya untuk memajukan masyarakat kita.
Sumber Referensi:
https://perpustakaan.bsn.go.id/index.php?p=news&id=1640
+ There are no comments
Add yours