Merajut Asa: Anak Didik Jadi Sastrawan dan Ilmuan Terpandang

Siang itu, sebelum sesi ekstrakurikuler dimulai, seorang peserta didik datang menghampiriku. Wajahnya terlihat gembira. Sepertinya sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar penting. Ia pun mulai membuka pembicaraan.

“Pak Thur, kemarin saya dapat email dari penyelenggara Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan Bank Indonesia.” Ujar Rionanda.

“Isinya tentang apa Nak?” tanyaku penasaran.

“Bank Indonesia meminta ijin agar artikel yang kutulis ikut dibukukan.” Sembari Rionanda membuka email di laptopnya.

“Katanya, buku itu setelah dicetak akan dibagikan untuk kalangan internal Bank Indonesia sebagai bagian dari kebanggaan Indonesia menjadi tuan rumah IMF-WBG Annual Meetings 2018, serta ke berbagai perguruan tinggi sebagai sarana pembelajaran mahasiswa dan masyarakat.” Begitu Rionanda melanjutkan informasinya.

“Wah hebat sekali kamu nak, tidak sia-sia perjuanganmu selama ini. Selamat ya Rionanda! Tetap giat berlatih dan terus menginspirasi teman-temanmu.” Sambil ikut membaca email dari pihak penyelenggara.

Rionanda adalah salah seorang peserta Ekstrakurikuler Menulis. Rionanda mulai bergabung sejak awal tahun ajaran 2018/2019, tepatnya setelah duduk di bangku kelas XII.  Sebelumnya, Rionanda adalah anak Ekstrakurikuler Olimpiade Sain Nasional (OSN). Ekstrakurikuler tersebut telah digelutinya sejak duduk di bangku kelas X dan XI. Tapi pada tahun ajaran 2018/2019, Ekstrakurikuler OSN akan melakukan regenerasi. Alasannya karena tahun ajaran ini, OSN sudah tidak mungkin lagi diikuti oleh siswa kelas XII. Rionanda pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Ekstrakurikuler Menulis. “Hitung-hitung mencoba tantangan baru”. Begitulah alasan Rionanda.

Tidak lama berselang, setelah bergabung dengan Ekstrakurikuler Menulis, Rionanda menunjukkan prestasi yang cemerlang. Tidak kalah dengan prestasinya ketika masih aktif di Ekstrakurikuler OSN. Salah satunya, seperti yang sudah diceritakan diawal. Sebuah artikel yang dikerjakan di kelas ekstrakurikuler ternyata mendapat apresiasi dari pihak penyelenggara Lomba Menulis Artikel Bank Indonesia. Walau tidak berhasil menjadi juara, tapi setidaknya karya tersebut menjadi artikel pilihan yang turut dibukukan oleh pihak penyelenggara lomba. Tentu hal ini tidak lepas dari kualitas dan kebermanfaatan tulisannya bagi khalayak umum.

Disamping itu, Rionanda juga memiliki berbagai prestasi lainnya. Rionanda pernah menjuarai Lomba Penulisan Esai Tingkat SMA/Sederajat Se-Jabodetabek sebagai Juara Ketiga. Lomba ini diselenggarakan oleh Museum Nasional Perumusan Proklamasi (Munasprok) dalam rangka menyambut HUT RI Ke-73. Sebagai Juara Ketiga Lomba Karya Jurnalistik Humas Kabupaten Bekasi dalam rangka menyambut hari jadi Kabupaten Bekasi yang ke-68. Juara pertama Lomba Esai yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bekasi yakni dalam rangka memaknai momentum sejarah Sumpah Pemuda bagi generasi milenial. Serta Juara Pertama Lomba Esai Sejarah yang bertema Generasi Milenial sebagai Pahlawan Masa Kini yang diselenggarakan di SMA 5 Tambun, Bekasi. Bahkan hingga sekarang Rionanda semakin gemar menulis di sosial blog seperti Kompasiana dan Qureta.

Selain Rionanda, ada juga temannya yang berprestasi di Ekstrakurikuler Menulis. Diantaranya, Michael CB, Rebecca dan Verga. Michael CB pernah menjadi juara harapan dua ketika mengikuti lomba di Munasprok serta juara dua pada Lomba Menulis Esai di SMA 5 Tambun, Bekasi. Sementara Rebecca dan Verga berhasil menulis buku antologi yang bertemakan “Cinta Sejatiku” yang telah diterbitkan oleh sebuah penerbit indie di Kediri.

Itulah sebagian prestasi dari peserta Ekstrakurikuler Menulis di tahun ajaran yang sedang berjalan, 2018/2019. Sementara di tahun ajaran sebelumnya, 2016/2017 dan 2017/2018, prestasi peserta didik Ekstrakurikuler Menulis juga tidak kalah dengan prestasi peserta didik tahun ajaran ini.

Tapi bagiku sebagai pembimbing, prestasi peserta didik seperti juara lomba, bukan tujuan utama dari Ekstrakurikuler Menulis. Walaupun penting sebagai gambaran perkembangan peserta didik. Tapi, ada satu hal yang jauh lebih penting dari hal itu. Perubahan yang terjadi pada peserta didik. Misalnya, dari seluruh peserta didik, ternyata ada peserta didik yang telah memiliki inisiatif dan kemandirian dalam menulis. Artinya, tanpa penugasan pun sudah dengan senang hati menulis di luar kegiatan ekstrakurikuler. Ada juga yang semakin senang mendiskusikan hal-hal yang berbau literasi. Serta ada juga yang kemampuan menulisnya semakin berkembang. Inilah kebahagianku sebagai pembimbing.

Berawal dari Training di Rumah Perubahan

Mungkin pembaca ada yang ingin bertanya, bagaimanakah proses lahirnya Ekstrakurikuler Menulis di tempatku mengajar? Apa peranku dalam mengembangkan ekstrakurikuler tersebut? Oh iya, sebelumnya saya mau memberitahu kalau saya mengajar di SMA Dian Harapan Lippo Cikarang. Sekolah ini adalah salah satu sekolah swasta yang ada di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.

Sekitar tiga tahun yang lalu, tepatnya di awal tahun 2016, saya pernah berdiskusi dengan kepala sekolah agar menambah Ekstrakurikuler Menulis. Mengingat hal tersebut merupakan kebutuhan peserta didik yang memiliki minat dan bakat menulis. Saya sendiri melihat bahwa ada potensi tersebut di kalangan peserta didik ketika mengadakan berbagai penugasan dalam pembelajaran di kelas. Bahkan aku pernah memberikan tantangan penugasan kepada siswa kelas XII untuk mengirimkan karyanya di harian nasional. Ternyata tantangan tersebut disanggupi oleh beberapa orang siswa. Tidak tanggung-tanggung, karya mereka dimuat di harian Kompas cetak pada waktu itu. Ada juga yang dimuat di majalah.

Menurut saya, peserta didik yang memiliki minat dan bakat di bidang penulisan tentu butuh bimbingan, motivasi dan inspirasi. Berharap mereka berani dan mau disiplin untuk menulis. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kepala sekolah akhirnya menerima saran yang saya ajukan dan diberikan kesempatan membuka Ekstrakurikuler Menulis. Saya sendiri yang dipercaya menjadi pembimbing dari ekstrakurikuler tersebut.

Keberanian menerima tantangan dan tanggung jawab menjadi pembimbing ekstrakurikuler bukan tanpa alasan atau sekedar coba-coba. Setidaknya saya memiliki semangat yang kuat untuk mengembangkan diri terlebih dahulu. Bahkan sebagai guru yang harus “ing ngarso sung tulodo” saya harus memberikan contoh. Sebelum memberi tugas menulis kepada anak, maka saya harus terlebih dahulu menulis. Sebelum berharap anak disiplin dan konsisten menulis, maka saya harus terlebih dahulu disiplin dan konsisten menulis.

Teman pembaca, saya ingin menceritakan bagaimana titik balik kebangkitanku dalam menulis. Setelah puluhan tahun vacum dari dunia tersebut.

Diakhir bulan Februari 2011, saya mendapatkan kesempatan mengikuti sebuah training menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Perubahan yang didirikan oleh Prof. Rhenald Kasali, PhD. Training tersebut bertema “Guru Bisa Menulis — Anak Didik Jadi Sastrawan dan Ilmuwan Terpandang”.

Saya tidak menyangka kalau ternyata memiliki kesempatan mengikuti training sehebat itu. Berkat usaha penyelenggara mencari beberapa sponsor, maka training tersebut akhirnya dapat dinikmati para guru tanpa dikenakan biaya sepeser pun. Padahal kalau dihitung dari segi biaya, maka training menulis seperti itu tentu berbiaya mahal. Jika aku bandingkan dengan penyelenggara training menulis di tempat yang lain, maka training tersebut diperkirakan biayanya sampai mencapai tiga jutaan. Apalagi training ini diselenggarakan oleh pihak yang profesional dan kompeten di bidangnya.

Sesudah dua hari mengikuti training tersebut, saya memiliki cara pandang berbeda tentang dunia kepenulisan. Kalau sebelumnya, saya menganggap menulis itu hanyalah menjalankan hobi semata, tapi kali ini perlu lebih serius menekuninya dan dikembangkan secara maksimal. Kalau dulu saya memiliki kemampuan menulis yang cetek, sekarang saatnya untuk diperdalam.

Saya pun mulai menyadari sebagai seorang guru, sudah saatnya memengaruhi dan menginspirasi peserta didik untuk mau menulis. Bukan hanya sekedar, tapi lebih serius menekuninya. Untuk itulah, penulis terbilang sering “memprovokasi” peserta didik agar menulis. Sering aku gunakan jurus pamungkas dari Pramudiya Ananta Tour, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Berharap dengan penggalan kalimat tersebut, peserta didik terguguh untuk menekuni dunia kepenulisan.

Tentang itu, saya pun memiliki kisah menarik. Seorang mantan peserta didikku yang sedang mengambil program doktoral (PhD) di Belanda, pernah mengirimi pesan singkat. Ia berkata bahwa kebiasaannya menulis saat ini, tidak luput karena “provokasi” yang pernah saya sampaikan di kelas puluhan tahun yang lalu.

Selanjutnya, saya pun ingin melunasi hutang komitmenku. Harus menjadi guru yang menularkan semangat menulis kepada peserta didik, karena saya sendiri sudah mendapatkan ilmu yang banyak dari Rumah Perubahan tersebut.

Akhirnya, saya berharap untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti ini, banyak peserta didik yang memiliki kesadaran untuk giat dalam hal literasi. Melalui ekstrakurikuler menulis ini tumbuh dan berkembang semangat, disiplin dan konsistensi peserta didik untuk menulis. Setidaknya itulah tujuan jangka pendeknya. Sementara untuk jangka panjangnya, seperti tema dari training yang penulis pernah ikuti yakni “Anak Didik Jadi Sastrawan dan Ilmuwan Terpandang”. Berharap mereka menjadi insan yang senang berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui tulisan-tulisan di masa depan mereka kelak.

*) Pengalaman menjadi pembimbing ekstrakurikuler di SDH LC

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *