Perubahan Iklim dan Peran Kita

dokpri

“Rumahku hancur, atapnya terbang”. Kata adik mamaku di whatsapp group keluarga. Satu persatu anggota keluarga menyampaikan pesan turut prihatin serta kata-kata yang menguatkan dan doa.

Kasihan Inagudaku (panggilanku untuk adik mamaku). Masalahnya, ini bukan hanya terjadi sekali. Tetapi sudah dua kali terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Ternyata pengalaman ini bukan hanya dialami oleh Inangudaku, ada beberapa tetangganya juga yang mengalami hal yang sama.

Hujan deras dan angin puting beliung memang telah melanda daerah Jabodetabek pada awal Maret 2022 lalu.

Berdasarkan informasi dari BMKG yang saya temukan dari sonora.id bahwa penyebab “Hujan lebat disertai angin kencang tersebut dipicu oleh sistem awan konvektif seperti jenis cumulonimbus yang bergerak dari wilayah Barat Banten ke arah Timur menuju Jabodetabek.” kata Kepala Pusat Meteorologi publik BMKG, Fachri Radjab.

“Peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang biasa terjadi terutama di periode akhir musim penghujan dan peralihan musim kemarau, yaitu di bulan Maret, April hingga Mei.” lanjut Fachri.

Setelah membaca penyebab peristiwa tersebut, saya jadinya mengambil sebuah kesimpulan. Katanya kejadian seperti ini masih pertanda periode akhir penghujan dan peralihan musim kemarau. Bagaimana pula kalau yang kita diperhadapkan dengan keadaan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim?

Tentu kita bukan saja lagi berhadapan dengan rumah yang hancur, atapnya terbang. Jauh lebih parah dan lebih serius dari hal itu.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Puncak Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke 72 pada Rabu (30/3/2022), Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa dampak yang bisa ditimbulkan oleh perubahan iklim ada banyak hal. Info tersebut selengkapnya dapat kita baca melalui situs bmkg.go.id

Bahwa “Frekuensi, intensitas dan durasi bencana geohidrometeorologi akan makin meningkat. Daya adaptabilitas tanaman dan produktivitas tanaman semakin menurun dan ini mengancam ketahanan pangan di negara kita,”

sumber: https://www.kompasiana.com/thurneysen

Sudah pernah mendengar istilah geohidrometeorologi?

Geohidrometeorologi merupakan istilah yang popular dan lumayan banyak dibahas akhir-akhir ini, atau tepatnya satu dekade terakhir. Istilah tersebut merupakan bencana yang diakibatkan oleh beberapa parameter seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin.

Adapun beberapa contoh bentuk bencana dari geohidrometerorologi tersebut seperti badai, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, el nino, la nina, longsor, tornado, topan, angin puting beliung, gelombang dingin, gelombang panas, angin fohn, dan lain sebagainya.

Tentu bisa dibayangkan apa yang bakalan terjadi dengan kehidupan kita, jika frekuensi dan durasi dari bencana tersebut terus meningkat. Belum lagi kalau daya adaptabilitas tanaman dan produktivitas tanaman semakin menurun. Hidup kita akan semakin sulit dan susah.

Selanjutnya Presiden Joko Widodo juga menyampaikan bahwa Indonesia adalah satu dari banyak negara yang terdampak perubahan iklim. Adapun sejumlah dampak yang dihadapi negara lain, di antaranya terjadinya peningkatan suhu udara, suhu muka air laut yang semakin menghangat dan terjadi laju kenaikan muka air laut yang membahayakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dari beberapa dampak perubahan iklim yang disampaikan di atas, setidaknya ada beberapa hal yang sudah mulai saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya peningkatan suhu udara. Hal ini sering menjadi bahan diskusi dengan teman di kantor, bahwa suhu udara memang terasa semakit menyengat. Belum lagi perubahan awal musim kemarau dan musim penghujan tidak menentu.

Bagaimana dengan sahabat pembaca?

Barangkali di tempat tinggal sahabat pembaca juga ada yang merasakan hal yang sama. Atau dapat jadi dengan fenomena yang berbeda.

Untuk urusan pencegahan perubahan iklim, kita harus segera memulai dari diri atau keluarga kita. Mulai dari sekarang, tanpa harus menunggu besok hari. Mari kita bertindak segera, jangan sampai menunggu masalah besar terjadi dan menimpa kita.

dokpri

Oleh karena itu, mari kita biasakan beberapa Tindakan berikut!

Pertama. Mari merawat atau menanam pohon di lingkungan atau pekarangan rumah kita. Sebaliknya tidak merusak atau menebangi pohon yang sudah ada.

Kedua. Menggunakan pendingin ruangan (AC) dengan bijaksana. Begitu juga dengan penggunaan listrik agar lebih berhemat. Barangkali dengan menanam berbagai jenis tanaman atau pohon di sekitar rumah akan membantu lingkungan rumah kita lebih segar. Bukankah dengan cara ini kita dapat mengurangi penggunaan AC?

Ketiga. Kita juga dapat mulai memisahkan sampah organik dan anorganik. Atau dengan mencoba mengolah sampah organik dan dijadikan sebagai pupuk bagi tanaman yang ada di lingkungan rumah . Untuk sampah anorganik, bisa di daur ulang atau diserahkan kepada pengelola bank sampah.

Keempat. Membiasakan penggunaan botol minum yang bukan sekali pakai. Setidaknya kebiasaan ini dapat mengurangi sampah anorganik yang sulit terurai oleh tanah atau yang bisa merusak habitat mahluk hidup lainnya.

Tentu masih banyak lagi tindakan lain yang bisa kita coba. Sekali lagi, yuk kita selamatkan bumi kita untuk kita dan masa depan kehidupan di muka bumi ini. Mari kita bersama-sama menjadi #TeamUpforImpact dan senantiasa berkomitmen #UntukmuBumiku

Sumber Referensi:

  1. https://www.bmkg.go.id/
  2. https://www.kompas.com/
  3. https://www.sonora.id/

More From Author

1 Comment

Add yours

+ Leave a Comment