Gede Andika, Memilih Panggilan Jiwa Bukan Impian Hati

Sumber Gambar : tangkapan layar dari youtube SATU Indonesia

Masih ingatkah Anda terakhir kali berbuat kebaikan? Berbuat baik memang tidak ada batas waktunya.

Bahkan sejatinya, kita harus berbuat baik sampai kapan pun, di mana kita berada, serta kepada siapa orang tanpa ada kata pandang bulu.

Berbuat baik itu memang merupakan tugas mulia dari manusia yang menggambarkan inti dari kemanusiaan yang ada di dalam diri kita.

Bagi yang menerima kebaikan itu, tentu akan ada rasa terima kasih, serta kebermaknaan dan manfaat yang dirasa.

Melalui kebaikan itu, ada kalanya orang yang menerimanya akan merasa tertolong dan merasa bahwa mereka tidak sendiri berjuang karena ada orang-orang baik yang masih peduli.

Kebaikan ada kalanya menolong orang yang berputus asa, karena terdapat secercah harapan. Bahkan merasakan bahwa Tuhan itu masih peduli, melalui orang yang dengan tulus untuk menolong.

Tindakan kebaikan pun sesungguhnya tidak hanya dirasakan oleh penerima kebaikan.

Saat kita berbuat kebaikan, kita sedang membuka pintu untuk menginspirasi, untuk menciptakan perubahan positif dalam dunia ini.

Tidak peduli seberapa kecil atau besar tindakan itu, berbuat baik memiliki kekuatan untuk mengubah hidup seseorang.

Oleh karena itu, mari kita anggap berbuat baik sebagai tugas mulia yang selalu kita emban dengan tulus dan penuh kasih, karena dalam kebaikan itu, kita akan menemukan makna sejati dalam hidup.

Tentunya sosok yang satu ini layak menjadi inspirasi bagi kita, yang telah menaburkan kebaikan bagi orang lain. Sosok yang saya maksudkan adalah Gede Andika.

Gede Andika adalah seorang penggagas Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan (KREDIBALI) pada Maret 2020.

KREDIBALI itu sendiri adalah kegiatan les Bahasa Inggris bagi anak-anak yang tinggal di Desa Pemuteran, Buleleng Bali Utara.

Adapun kegiatan les ini diperuntukkan untuk tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Berdasarkan pengakuan Gede Andika dalam sebuah acara bincang, bahwa awal pertamanya tergerak untuk menggagas KREDIBALI itu, tidak lepas dari rencananya untuk berpamitan kepada keluarga besarnya  yang ada di Desa Pemuteran.

Layaknya orang yang hendak merantau jauh, umumnya tradisi demikian akan dilakukan. Termasuk meminta dukungan doa dari yang dikasihi.

Hal itulah yang dilakukan juga oleh Gede Andika.

Berpamitan itu dilakukan berkaitan dengan rencananya akan merantau jauh karena akan mengikuti kuliah S2 di Inggris (UK) sekitar 9 bulan hingga 1 tahun. Rencana kuliah itu sendiri didukung karena Gede Andika mendapat kesempatan beasiswa (LOA) saat itu.

Tetapi ketika berencana berpamitan di Desa Pemuteran, menjadi kenangan dengan masa kecilnya. Bahwa saat itu pariwisata tergolong maju di daerah tersebut, turis terlihat di mana-mana.

Berbeda sekali ketika saat dia kembali lagi ke kampung halamannya. Pariwisata tidak lagi maju seperti sediakala.

Di sisi lain, Gede Andika melihat pembelajaran saat itu dilakukan secara daring dari rumah.

Lantas, Gede Andika melihat banyak anak-anak yang tidak lagi bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.

Bahkan mereka banyak yang pada akhirnya ikut ke sawah, mencari rumput untuk sapi orang tua mereka, ada yang ikut ke laut untuk membantu orang tua sebagai nelayan. Hal itu tentu berdampak pada putus sekolahnya anak-anak di Desa Pemuteran.

Intinya, partisipasi belajar saat pandemi Covid-19 di desanya menurun, tentu berkaitan dengan keterbatasan fasilitas media belajar.

Saat itulah muncul gagasan Gede Andika untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak. Tentu bukan perkara mudah, mengingat saat itu ada berbagai ketakutan karena pandemi. serta adanya upaya untuk berbagai aturan menjaga jarak  atau anjuran beraktivitas di rumah saja.

Tetapi berkat dukungan masyarakat maka KREDIBALI yang digagasnya itu dapat berjalan. Sementara untuk dukungan peserta, wajib mengumpulkan sampah plastik rumah tangga, sebagai pengganti biaya les Bahasa Inggris mereka.

Dari gagasan KREDIBALI ini, bukan tanpa pengorbanan hebat. Gede Andika harus membatalkan niatnya untuk mengmbil kuliah S2 di Inggris.

Memang ada kalanya panggilan jiwa itu, memberi pilihan yang sulit. Tetapi panggilan jiwa itu tentu tidak akan membuat seseorang salah dalam memilih. Begitu halnya dengan Gede Andika telah memilih panggilan jiwanya  untuk memajukan pendidikan di desanya, Pemuteran.

Tentu dengan pengorbanan yang demikian tidak keliru kalau Gede Andika pada akhirnya mendapat penghargaan dari Astra, atau Apresiasi SATU Indonesia Awards 2021. Adapun kategori yang diraihnya adalah Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi Covid-19.

Sahabat pembaca, sudah pernah mendengar “SATU Indonesia Award”?

“SATU Indonesia Award” adalah singkatan dari Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia Award, yang merupakan ajang penghargaan Astra bagi generasi muda.

Khususnya bagi mereka yang telah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya, atau juga bagi mereka yang memiliki kepeloporan dan yang telah membawa perubahan kepada masyarakat dalam berbagai bidang.

Adapun bidang-bidang yang dimaksudkan tersebut, seperti bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.

Nah, pada akhirnya berharap tulisan singkat ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk berbuat kebaikan. Salam SATU Indonesia!

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours