
Dua tahun menjelang pensiun, Sutarno berhadapan dengan tantangan berat. Masa pandemi Covid-19 menuntutnya belajar hal yang baru, mengajar dengan cara daring (online).
Tentu bukan hal yang mudah baginya. Pasalnya, Sutarno bukanlah seorang guru milenial, yang notabene generasi yang melekat dengan teknologi informasi dan komunikasi.
Meskipun demikian, Sutarno tak pernah gentar dan tidak ada kata menyerah dalam kamusnya. Pengalaman mengajar di berbagai masa, ternyata telah menempanya menjadi guru yang adaptif dengan berbagai perubahan. Sutarno sudah terbiasa berselancar di tengah-tengah gelombang perubahan. Kemampuannya beradaptasi, justru menjadi sebuah keunggulan baginya. Bahkan, sering sekali kami guru-guru yang lebih muda berdecak kagum dengan ide-ide dan karyanya dalam mengajar.
Tak dinyana, Sutarno ternyata mampu memadu potensi serta kreativitasnya dengan teknologi terkini.
Selain itu, Sutarno memiliki keunggulan lain dalam merangkai kata dengan suaranya yang khas. Hal itu tentu mampu membuat para siswa terpukau ketika mendengarnya bercerita sejarah. Baik ketika pembelajaran secara daring maupun melalui video pembelajaran yang sudah diunggahnya di berbagai media sosial.
Tidak salah lagi kalau seorang teman kerja (guru) berkata bahwa Sutarno adalah sosok yang berhasil memberikan “nyawa” pada setiap kata-katanya. Bahkan tidak keliru kalau beberapa Lembaga pemerintah seperti Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pernah mengapresiasi karyanya pada masa pandemi ini.
Dari sosok Sutarno, ada dua hal yang perlu dipelajari para guru masa kini. Guru itu harus seorang yang adaptif dan sekaligus pembelajar.
Kita pasti pernah merasakannya, terkadang perubahan itu datangnya tak terduga dan tidak direncanakan. Seperti masa sekarang, pandemi Covid-19 telah mengubah berbagai kebiasaan kita. Bahkan, tidak ada yang menduga cara pembelajaran juga akan berubah, dilakukan secara daring. Sehingga tidak sedikit guru yang siap menghadapi perubahan tersebut.

Guru yang mampu beradaptasi dengan gelombang perubahan adalah guru yang akan terus bertahan. Saya punya keyakinan tersendiri, bahwa bukan guru yang pintar secara keilmuan dan mahir mengajar yang akan bertahan, tetapi mereka yang adaptif dengan perubahan serta memiliki jiwa pembelajar.
Apalagi masa pandemi ini, sebenarnya bisa dibilang bahwa semua guru adalah guru baru. Tidak ada yang senior atau junior. Sama-sama memulai langkah yang sama, belajar cara baru dalam mengajar daring.
Sekali lagi, selama masa pandemi, guru-guru sejatinya harus adaptif dan menjadi seorang pembelajar. Itulah salah satu kemampuan seorang guru abad 21.
Kalau bicara tentang kemampuan adaptasi, maka kita sedang bicara tentang kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan cara atau hal baru.
Ketika ingin menyesuaikan diri dengan perubahan atau melakukan proses adaptasi, maka sesungguhnya kita harus memiliki sikap terbuka. Hati, pikiran dan tindakan terbuka dengan cara atau hal baru tersebut.
Selain sikap terbuka, seorang guru harus memiliki kemampuan “problem solving”. Sebab setiap permasalahan itu harus diselesaikan bukan dihindari. Seorang guru juga harus memiliki kemampuan berkolaborasi dan bekerja sama dengan tim, atau guru-guru lain. Dengan cara bekerja sama dengan tim setidaknya guru-guru bisa bersinergi untuk memecahkan masalah dan memikirkan solusi bersama untuk efektivitas dan efisiensi pembelajaran daring.
Nah, sementara untuk meningkatkan jiwa pembelajar, ada baiknya seorang guru terus membangun rasa ingin tahunya dan sikap kritis. Intinya, guru tidak boleh berhenti belajar. Belajar itu sepanjang hayat. Sebab itulah senjata pamungkasnya untuk mengajar .

Berkenaan dengan guru sebagai pembelajar, tentu tidak terlalu rumit sesungguhnya di era digital seperti sekarang ini. Kita bisa menemukan ada banyak materi pembelajaran, atau platform mengajar. Salah satu misalnya, kita bisa saja mampir di KOCO Schools.
Platform tersebut bisa dibilang sebagai wadah para guru untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi mereka melalui berbagai topik termasuk metode pengajaran, keterampilan mengajar, dan bagaimana menerapkan di kelas nyata.
Bagi guru pembelajar silahkan saja mampir di platform tersebut. Ingat, sebagai guru, jangan pernah berhenti belajar. Sebab untuk memulai sebuah pembelajaran, mari mulai dari guru. Bukan begitu?
tulisannya mudah dipahami, kontennya tersampaikan dengan sangat baik.
Terima kasih telah menginspirasi Pak
Waw…. rangkaian spirit menambah asa guru masa kini. Merdeka Belajar!
Terima kasih sudah mampir Pak. Betul sekali, spirit menambah asa. Salam Merdeka belajar Pak!