“Ketika masyarakat tidak lagi peduli dengan budaya bangsanya, sama saja sedang mengaburkan atau menguburkan identitas bangsanya.” (Thurneysen)

Pernahkah Anda berpikir, apa yang mungkin terjadi ketika masyarakat tidak lagi peduli dengan budaya bangsanya? Sama saja sedang mengaburkan atau menguburkan identitas bangsanya. Pertanyaannya, bagaimana mungkin sebuah bangsa dikenali tanpa identitas tersebut?
Jika kita berbicara tentang budaya, maka bangsa kita adalah salah satu negara yang sangat kaya dan beragam budayanya. Bahkan tidak sedikit budaya kita saat ini, miliki nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dalam kurun waktu yang panjang.
Sesungguhnya, apa arti penting budaya itu bagi kehidupan manusia?
Kehidupan manusia dan budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ketika ada kehidupan manusia, di situ pasti hadir budaya. Sebaliknya, budaya itu sendiri sangat berperan penting untuk mendukung kehidupan manusia tersebut.
Tidak dapat dimungkiri, bahwa budaya itu telah mengambil peran dalam mengatur relasi antar sesama (masyarakat), mendukung keberlangsungan lingkungan sekitar (lingkungan alam). Dan lain sebagainya. Intinya, keberadaan budaya itu akan membuat kehidupan manusia itu lebih beradab, bermartabat, harmonis, sejahtera dan masih banyak hal lain yang didukung oleh kebudayaan tersebut.
Nah, dari berbagai ragam budaya yang ada, maka kesenian adalah salah satu unsur budaya yang tidak boleh kita abaikan.
Menariknya, kesenian itu sendiri sebenarnya sama umurnya dengan keberadaan manusia di muka bumi ini. Sementara, kesenian itu sendiri terbukti telah banyak berkontribusi bagi kehidupan umat manusia.
Misalnya saja, kesenian itu dapat membantu manusia untuk mengelola dan mengekspresikan perasaannya, kesenian juga dapat menjadi sarana penghibur dan rekreasi, menyampaikan prinsip-prinsip kehidupan dan melakukan kontrol sosial, mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya, sarana menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas, serta masih banyak lagi.
Mengingat bahwa kesenian itu memegang peranan penting dalam kehidupan kita, sudah selayaknya kesenian itu dirawat dan dikembangkan, sehingga masyarakat luas dapat terus menikmati keberadaannya.
Tentu sejalan dengan sikap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejak dulu telah melihat seni budaya itu sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan, bahkan para seniman diharapkan dapat terus berkontribusi pada keberlanjutan seni budaya. Untuk itulah para seniman tersebut didukung dan difasilitasi agar senantiasa memiliki ruang berkreasi dan berkarya.
Sejarah Taman Ismail Marzuki
Sahabat pembaca, sudah pernah membaca atau mendengar sejarah Taman Ismail Marzuki? Atau jangan-jangan lebih dari itu, sudah pernah berkunjung ke tempat tersebut?
Bagi yang sudah, semoga tulisan ini memperkuat ingatan atau kenangan sahabat pembaca akan Taman Ismail Marzuki. Bagi yang belum, semoga membuat sahabat pembaca semakin penasaran dan segera berencana untuk berkunjung ke Taman Ismail Marzuki.
Berawal dari keluhan para seniman di Jakarta, yang merasakan kurangnya fasilitas untuk menyalurkan bakat kesenian. Keluhan itu pun gayung bersambut. Pasalnya, keluhan tersebut direspon oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Beliau beranggapan bahwa keinginan para seniman tersebut selaras dengan cita-cita untuk menjadikan Jakarta sebagai kota budaya.
Tahu sendiri kan? Bahwa budaya itu adalah identitas. Seperti yang sudah saya paparkan di awal tulisan ini. Karena dia adalah identitas, wajib kita melestarikan dan melanjutkannya.
Nah, untuk mewujudkan keluhan para seniman itu, Gubernur Ali Sadikin pun menyetujui gagasan tersebut. Kemudian, Pemprov DKI Jakarta akan menyediakan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan fasilitas penunjang operasional untuk Taman Ismail Marzuki. Sedangkan, pengelolaannya diserahkan kepada seniman dan budayawan.
Gubernur Ali Sadikin kemudian membentuk Badan Pembina Kebudayaan yang menjadi cikal bakal Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan diketuai oleh Trisno Soemardjo. Pada 1968, ada 25 anggota pertama Badan Pembina tersebut yang berasal dari berbagai unsur seni budaya. Ada yang berasal dari pelukis, sastrawan, penata tari, musikus, penyair, pemain teater penulis, kritikus sastra, sutradara film dan sineas), penulis naskah drama, dan perupa.
Pembangunan Taman Ismail Marzuki pun berhasil dilaksanakan di area seluas kurang lebih delapan hektar. Selanjutnya diresmikan langsung oleh Ali Sadikin pada 10 November 1968. Perlu diketahui bahwa pada awalnya, lahan itu merupakan ruang rekreasi umum Taman Raden Saleh serta kebun binatang Jakarta (sudah dipindahkan ke Ragunan).
Pada awalnya, Taman Ismail Marzuki hanya memiliki dua gedung teater, satu teater terbuka (area pameran) serta gedung Planetarium yang sudah lebih awal dibangun. Lalu seiring perjalanan waktu, semakin banyak fasilitas yang tersedia, yakni tiga gedung teater (Graha Bakti Budaya, Teater Besar, Teater Kecil), dua galeri seni (Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III), dua plaza (Plaza Pancasila dan Plaza Teater Kecil), serta sarana penunjang lainnya.
Kehadiran Taman Ismail Marzuki ini adalah bukti nyata dari komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam memperhatikan keberlanjutan seni budaya dan aktivitas para seniman dan budayawan tersebut.
Bahkan keseriusan itu pun berlangsung hingga saat ini. Pemerintah Provinsi DKI sekarang tidak berhenti melakukan pembenahan, salah satunya dengan cara melakukan revitalisasi Taman Ismail Marzuki.
Sahabat pembaca, kalau ingin melihat bagaimana revitalisasi dari Taman Ismail Marzuki itu, dapat sejenak melihat video “Master Plan Revitalisasi Taman Ismail Marzuki” berikut.
Bagaimana, keren bukan? Tempat ini bakalan cocok menjadi “TIM urban tourism” ke depannya. Lokasi sangat cocok untuk para pecinta seni dan budaya dan lokasi yang “instagramable”. Bukankah spot-spot menarik seperti yang ada di Taman Ismail Marzuki menjadi incaran para pelaku swafoto?
Nah, sebagai informasi tambahan, kira-kira sudah tahu sejauh mana progres pembangunan Taman Ismail Marzuki? Berdasarkan data per tanggal 5 Desember 2021, beginilah kira-kira perkembangan dari pembangunan (Revitalisasi TIM) tersebut.
1. Planetarium dan Pusat Latihan Seni: 49,48%
2. Galeri Annex: 93,78%
3. Graha Bhakti Budaya: 62,97%
4. Teater Halaman: 40,50%
5. Gedung Perpustakaan, Galeri dan Wisma Seni (interior): 82,16%
Peran TIM dalam Dinamika Budaya
Saat ini, revitalisasi Taman Ismail Marzuki masih terus berlangsung, berharap dengan proses ini dapat mewujudkan “Wajah Baru TIM” yang dinanti masyarakat. Dengan wajah baru itu, akan menjadi daya tarik bagi siapa pun yang berkunjung ke Taman Ismail Marzuki. Terutama generasi milenial dan generasi terkini.
Selanjutnya, keberadaan Taman Ismail Marzuki diharapkan mampu berperan juga untuk memperkuat kembali nilai-nilai seni dan budaya lokal. Proses ini tentu begitu penting di tengah-tengah maraknya globalisasi budaya. Dari waktu ke waktu, gempuran budaya asing itu terus bertubi-tubi datang ke negeri kita. Kalau kita tidak serius mencermati penyebaran budaya global yang sedang terjadi, bukan tidak mungkin budaya kita tergerus. Pada akhirnya, secara perlahan identitas kita pun turut meredup.
Ingat, budaya itu juga dinamis. Oleh karena itu, masyarakat pemilik budaya tersebut sejatinya lebih kreatif dan inovatif untuk melestatikan dan mempertahankan budaya luhurnya. Itulah sesungguhnya satu arti pentingnya revitalisasi dalam hal budaya. Membuat budaya luhur tersebut tetap diminati dan menarik bagi masyarakat pada masa yang berbeda.
Pada akhirnya, semua pihak berharap agar dengan revitaslisasi Taman Ismail Marzuki, negeri kita menjadi salah satu pusat kebudayaan dan kesenian dunia. Masyarakat kita tetap mencintai dan menghargai budaya sendiri. Serta generasi penerus tidak kehilangan identitas budayanya karena tidak memiliki sarana yang memperkenalkan budaya.
Biarlah dengan revitalisasi Taman Ismail Marzuki ini, kita dapat mewujudkan keberlanjutan seni dan budaya luhur kita. Semoga saja.
Sumber Referensi:
+ There are no comments
Add yours