Masuklah Lorong Waktu, Temukan Kehebatan Bangsa Kita

Air matanya terus mengalir. Tatapannya lekat pada sang Merah Putih, saat menyaksikan bendera kebanggaan dinaikan seraya diiringi lagu Indonesia Raya. Air mata itu adalah air mata bahagia. Pasalnya, Susi Susanti berhasil mengakhiri “kutukan” tanpa medali emas di ajang olimpiade sejak bergabung dari tahun 1952.

Walau Susi sempat tertinggal pada set pertama, tidak membuat semangatnya surut. Dengan gaya yang tenang dan mental juara yang dimilikinya, Susi Susanti berhasil membalikkan kedudukan. Bang Shoo Hyun pemain “top” asal Korea Selatan akhirnya takluk pada set kedua dan ketiga.

Hari itu, sorak gempita ada di mana-mana. Semua anak bangsa larut dalam bahagia. Tak terkecuali keluarga kami. Walau hanya menyaksikan melalui siaran langsung layar kaca hitam putih 17 inch, namun tidak mengurangi euforia kemenangan.

Itulah sepenggal kisah dari Olimpiade Barcelona 1992. Kini, peristiwa itu telah menjadi kenangan dan sejarah. Sejarah kejayaan olahraga bangsa kita. Bagi generasi sepertiku, tidak sulit merekonstruksi peristiwa tersebut. Setidaknya, memori kemenangan itu, masih terekam dengan baik. Tapi, bagaimana dengan generasi masa kini? Mereka tidak pernah menyaksikannya secara langsung. Mungkinkah mereka bisa merekonstuksi peristiwa tersebut?  Bagaimana euforia kemenangan itu dihidupkan kembali?

Kita beruntung. Setidaknya pemerintah telah mencoba memfasilitasi sebuah Museum Olahraga Nasional yang luas, lengkap dan “instagramable” (istilah kekinian sebagai tempat yang menarik untuk berpose). Kita berharap, kehadiran museum menjadi sarana yang dapat menginspirasi dan memotivasi generasi muda untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa, terutama dalam bidang olahraga.

Rekan pembaca, sebelum panjang lebar berbicara tentang Museum Olahraga, ada baiknya kita kembali mengulas hakikat museum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring, museum itu adalah gedung yang digunakan sebagai tempat pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno.

Sementara Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum (Pasal 1 ayat 1) menyatakan bahwa Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.

Nah, dari kedua sumber tersebut, setidaknya ada persamaan hakikat dari museum. Museum hadir untuk kebutuhan dan kepentingan masyarakat umum. Sementara pembedanya, museum itu dapat berlaku sebagai tempat dan sebagai lembaga.

Museum sebagai tempat, berfungsi sebagai sarana pameran benda-benda, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno. Sementara sebagai lembaga berfungsi untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

Merujuk pada kedua sumber, maka sesungguhnya tidak jauh beda dengan defenisi Museum Olahraga. Hanya, Museum Olahraga lebih fokus sebagai tempat memamerkan benda-benda, dokumen maupun informasi yang berkaitan dengan olahraga, seperti sejarah olahraga, filosofi olahraga, jenis olahraga, perjuangan bangsa dalam berbagai kegiatan olahraga baik nasional maupun internasional, memamerkan alat olahraga dan penghargaan berupa medali dan piala para atlet yang telah mengharumkan nama bangsa, dan lain sebagainya.

Museum Olahraga sebagai Lorong Waktu

Setiap memasuki libur semester sekolah, saya pasti meluangkan waktu membawa anak berkunjung ke museum. Liburan kali ini, kami pun sepakat berkunjung ke Museum Olahraga Nasional yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sebagai orangtua, berharap dengan kunjungan ini, anak kami memperoleh berbagai informasi berharga dan berupaya merekonstruksi kejayaan olahraga bangsa kita di masa lalu. Sehingga tumbuh sikap menghargai setiap usaha dan prestasi para atlet, serta tertanam rasa nasionalis dan patriotis di dalam dirinya.

Sesungguhnya, bukan perkara mudah untuk mengajak anak kami yang berasal dari generasi Z (generasi yang lahir antara 1995-2010). Sepertinya, mereka kurang tertarik dengan urusan benda-benda dan dokumen masa lalu. Sangat berbeda antusiasnya ketika diajak ke tempat-tempat pameran yang ada berhubungan dengan komputer dan smartphone. Sebagai orangtua, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Orangtua harus memiliki pendekatan khusus kepada generasi Z agar mereka mau belajar ke museum tanpa harus merasa terpaksa.

Tapi, kenyataannya pengalaman kali ini berbeda. Ketika memasuki halaman depan Museum Olahraga Nasional yang berada di atas tanah seluas 1,5 ha dengan bangunan 3.000 m2 itu, mampu menarik hati anak saya. Dia penasaran dengan bangunan museum yang berbentuk bola. Bahkan, dia berkali-kali meminta dirinya untuk diabadikan dengan latar bangunan museum. Kalau anak-anak “zaman now” bilang, bangunan seperti itu, lumayan “instagramable”.

Dengan bermodalkan rasa penasarannya, saya mencoba membantu menjelaskan beberapa informasi tentang Museum Olahraga tersebut berdasarkan literasi yang pernah saya baca.  Misalnya, informasi tentang pembangun museum. Bahwa museum ini sudah mulai dibangun sejak tahun 1987 atau ketika masa kepemimpinan Menteri Muda Urusan Pemuda dan Olahraga (Menpora) Abdul Gafur. Untuk peresmiannya sendiri, dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1989. Kemudian baru mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 7 Mei 1989. Semenatara untuk penjelasan informasi yang lainnya, saya langsung mengajaknya menuju lobi dan lantai satu museum. Tentu setelah membeli tiket terlebih dahulu.

Nah, apa saja yang bisa kami saksikan di lobi dan lantai satu ini? Pengunjung akan menyaksikan lobi yang “colourfull”, ada tulisan motto yang mencerminkan nilai hakiki olahraga yakni sportivitas dan perjuangan, hingga sebuah patung atlet renang nasional, Zoraya Perucha (1973-1977), dengan adegan loncat indah.

Setelah bergerak dari lobi, kami menuju pintu masuk “Ruang Sejarah Olahraga”. Di sana akan ada sapaan yang terdengar dari sebuah TV monitor, “Selamat datang di Museum Olahraga, di sini Anda akan melintasi waktu dari saat sejarah olahraga dimulai hingga legenda para juara olahraga di Indonesia”. Sapaan itu sepertinya sedang mempersiapkan kami untuk berpetualang melalui sebuah lorong waktu, yang siap mengantarkan kami ke masa lalu.

Tidak jauh dari TV monitor pertama, kami menemukan TV monitor yang kedua. Pada TV monitor yang kedua kami menyaksikan dan mencoba mengenang orang-orang yang berjasa dalam kemajuan olahraga di tanah air, yakni para menteri olahraga yang pernah menjabat di negeri ini. Mulai dari menteri olahraga yang pertama hingga yang sekarang.

Ketika menyusuri lantai satu, ada banyak “insight” dari tulisan yang ada di dinding. Salah satu tulisan yang penting menurutku, bahwa olahraga adalah sebuah dunia multidimensi. Sesungguhnya olahraga tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu berkaitan dengan aspek hidup manusia lainnya. Olahraga tidak lagi hanya bicara untuk mendapatkan tubuh yang sehat, tetapi telah bergeser menjadi ajang silaturahmi, pergaulan, saling berbagi info, dan sosialisasi. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya membentuk komunitas sesuai bidang olahraga yang diminati.

Setelah menikmati suasana lantai satu yang berisi tentang filosofi olahraga, sejarah olahraga antar bangsa, sejarah olahraga nasional, tokoh yang berkecimpung di bidang olahraga, perjuangan bangsa Indonesia dalam mengikuti kegiatan olahraga internasional seperti Olimpiade dan Asian Games, permainan olahraga tradisional, pernak-pernik olahraga, kami pun beranjak menuju lantai dua.

Ternyata di lantai dua tidak kalah menariknya. Kami dapat menyaksikan pameran dari berbagai alat olahraga dan penghargaan berupa medali dan piala para atlet yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Bagi yang tertarik dengan sejarah perkembangan sepakbola nasional, lantai ini sangat cocok untuk Anda, karena di sini koleksinya sangat lengkap.

Nah, saatnya beranjak ke lantai ketiga. Ternyata di lantai tiga “aroma” Sang Juara pun sangat kentara. Di sini kita akan dapat menyaksikan sosok atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa serta peninggalan yang pernah mereka gunakan dalam bertanding, seperti racket tenis dan badminton, busur panah, sepatu dan yang lainnya.

Setelah puas menikmati dan menjalani ketiga lantai, kami akhirnya dapat menyimpulkan dua hal. Pertama, Museum Olahraga adalah sebuah lorong waktu untuk masuk ke masa lalu yang dapat membantu merekonstruksi sejarah olahraga bangsa. Imajinasi pun mulai mempertemukan kami dengan orang-orang yang melegenda di negeri ini dan merasakan bagaimana usaha dan pengorbanannya untuk bangsa. Kedua, kalau ada yang beranggapan bahwa museum identik dengan sesuatu yang kuno, maka itu keliru. Museum Olahraga Nasional mematahkan pendapat tersebut. Barang-barangnya memang boleh dari masa lalu, tapi cara menampilkannnya sangat kekinian.

Lihat saja bagaimana Museum Olahraga Nasional menunjukkan tampilan dan teknologi sesuai selera generasi terkini, seperti “Automatic Display Slider” yang dapat digunakan untuk menjelajah banyak hal tentang olahraga nasional dengan berinteraksi melalui monitor yang telah disediakan museum. Bahkan siapa pun pun dapat menjelajah Museum Olahraga dengan menggunakan aplikasi “SiJi” yang terlebih dahulu  diunduh (download) dari Google Playstore secara gratis. Menarik bukan?

Akhirnya, untuk urusan teknologi, Museum Olahraga memang keren dan terdepan. Pasti menjadi daya pikat bagi pengunjungnya. Tidak terkecuali dari generasi Z, seperti anak saya. Sekarang tugas kita bersama, yuk ajak generasi muda berkunjung ke museum dan menggali “harta terpendam” yang ada di sana demi kejayaan bangsa kita. Salam Olahraga.

————–

*)Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Essay yang diselenggarakan Museum Olahraga Nasional

Sumber Referensi :

https://kbbi.web.id/museum

http://kemenpora.go.id/index/preview/berita/2319

http://www.tamanmini.com/pesona_indonesia/museum-museum/museum-olahraga

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/05/PP_NO_66_2015_2.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *