
Beberapa waktu lalu, saya membaca tentang daftar “20 Negara Paling Bahagia di Dunia 2021 Versi United Nation” dari sebuah media. Dari 20 negara yang diklaim bahagia berdasarkan survei tahunan yang dilakukan Sustainable Development Solutions Network itu, ternyata saya tidak menemukan negara kita.
Jujur, kebahagian saya tidak akan terpengaruh dengan peringkat itu. Tidak akan berkecil hati kalau negara kita tidak ada pada peringkat tersebut. Pasalnya, setiap hari saya masih bisa melihat senyum, canda dan tawa di negeri ini. Bukankah senyum, canda dan tawa itu adalah bagian dari kebahagian juga?
Tetapi sebaliknya, kita tidak boleh juga abai dengan peringkat itu. Peringkat itu bisa dijadikan sebagai bahan introspeksi diri, serta pemacu untuk tetap merawat kebahagian dari diri kita masing-masing.
Saya tetap optimis, ketika masih ada orang yang mau berbagi dan peduli dengan sesama, negeri ini tidak akan kekurangan kebahagiaan. Sesulit apa pun keadaan atau masalah seseorang, ketika masih ada mau berbagi dan peduli, saya yakin kebahagiaan itu akan tetap hadir dan menular.
Pertanyaannya, siapkah kita berbagi dan peduli dengan sesama?
Ngomong-ngomong kalau bicara tentang berbagi dan peduli, ternyata ada banyak cara yang bisa kita lakukan.

Saya jadi ingat dengan Kang Maman (Maman Suherman). Barangkali nama ini tidak asing bagi sahabat pembaca. Beliau adalah seorang penulis buku dan pegiat literasi. Di tengah berbagai kesibukan, ternyata masih saja memikirkan serta menyempatkan diri untuk berbagi dengan saudara-saudara kita yang ada di berbagai pelosok negeri.
Beliau sangat aktif melakukan aktivitas pengiriman buku kepada mereka yang membutuhkan. Bahkan beberapa kali aktivitas itu tertangkap mata saya melalui lini masa media sosial. Menariknya, beliau ternyata terjun langsung mengirim buku-buku tersebut ke berbagai pelosok negeri melalui jasa pengiriman JNE yang notabene memiliki tagline Connecting Happiness
“Bahagia Bersama dengan Literasi” itu memang menarik. Mampu membahagiakan pemberinya dan juga penerimanya.

Nah, saya sendiri pernah juga merasakan kebahagian itu, ketika ikut serta menggagasi dan menggerakkan para siswa kami untuk berbagi buku kepada mereka yang membutuhkan. Tak disangka, saat itu buku-buku yang disumbangkan anak sangat banyak yang terkumul. Puas rasanya. Pasalnya, dari mata para siswa kami pun terlihat kebahagiaan ketika mereka bisa memberi dan berbagi buku.
Sebagai penutup, siapkah kita membangun bahagia itu bersama dengan literasi? Yuk kita buktikan!
+ There are no comments
Add yours