Klinik Asiki, Wujud Peduli Korindo Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

Kami sekeluarga terbangun dari tidur. Ratap tangis dari rumah tetangga membuat hati pilu. Betapa tidak, anak kecil itu telah membisu dan terkujur kaku. Padahal kemarin masih bermain gundu sembari bersenda gurau.

Beda lagi kisah seorang ayah teman yang sakit. Harus ditandu berpuluh kilometer menuju kecamatan, untuk mendapat pertolongan medis. Untungnya masyarakat di kampung dengan tulus menolong dan bergantian untuk menandu.

Itu dua kisah yang pernah terjadi di kampung yang pernah kami tempati, saat saya masih kecil. Walau peristiwanya sudah sangat lama, tapi masih melekat dalam benak.

Desa kami memang tergolong sebagai desa tertinggal. Faktanya, banyak fasilitas dasar yang belum terpenuhi. Seperti sarana listrik yang belum masuk ke desa, transportasi yang hanya sekali dalam seminggu, hingga fasilitas kesehatan yang belum ada.

Nah, seandainya saat itu di kampung kami sudah ada tenaga medis dan fasilitas kesehatan, anak itu seharusnya tidak akan meninggal. Itulah penyesalan terbesar keluarga yang tidak sempat mendapat pertolongan dari pihak medis. Begitu pula dengan ayah teman, harusnya tidak perlu menambah derita karena ditandu berpuluh kilometer untuk mencari sarana pengobatan.

Pernah menetap di sebuah desa tertinggal, membuatku mengerti betul perjuangan sebagian besar masyarakat pedalaman yang tidak didukung fasilitas kesehatan dengan baik.

Tantangan dan Urgensi Solusi Masalah Kesehatan

Kondisi seperti itu sesungguhnya masih banyak kita temukan di negeri ini. Ada banyak daerah pedalaman yang masih minim fasilitas kesehatannya atau mungkin tidak ada sama sekali. Padahal kita tahu bahwa sarana kesehatan itu adalah salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi. Bahkan dapat dikategorikan sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat.

Mengingat permasalahan kesehatan yang masih kompleks, seperti yang dibahas pada rapat kerja tahunan atau Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2020 setidaknya ada 5 fokus masalah kesehatan di negeri kita. Kelima masalah tersebut yaitu, Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI/AKB), pengendalian stunting, pencegahan dan pengendalian penyakit, Germas, dan tata kelola sistem kesehatan.

Untuk itulah, urgensi solusi masalah kesehatan harus tetap menjadi prioritas. Sebab masalah kesehatan tentu akan berpengaruh pada berbagai aspek, seperti produktivitas. Sementara produktivitas akan berbanding lurus dengan kesejahteraan keluarga, masyarakat, dan kemajuan sebuah bangsa.

Di negeri kita, penyelesaian masalah kesehatan tentu bukan sesuatu yang mudah. Mengingat masih banyaknya daerah yang masuk kategori 3T (tertinggal, terdepan dan terluar).

Pemerintah sendiri tentu telah berupaya untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Tetapi berbagai keterbatasan tentu menjadi alasan yang mengakibatkan penanganan sarana dan prasarana di daerah tersebut belum maksimal.

Sebenarnya, seberapa banyakkah daerah tertinggal di negeri kita?

Kalau melihat Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2020 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024, setidaknya tercatat 62 kabupaten yang ditetapkan sebagai daerah tertinggal, yang tersebar di sejumlah provinsi seperti Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua dan Papua Barat.

Adapun yang menjadi dasar ditetapkannya daerah tersebut sebagai daerah tertinggal tentu dengan memperhitungkan kriteria, perekonomian masyarakat; sumber daya manusia; kemampuan keuangan daerah; aksebilitas; karakteristik daerah; dan sarana dan prasarana.

Lantas, permasalahan ini tanggung jawab siapa? Apakah kita hanya berkata ini tanggung jawab pemerintah semata?

Kita bersyukur, bahwa di negeri ini ada saja pihak-pihak yang peduli dengan permasalahan bangsa dan masyarakat. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan di pedalaman. KORINDO adalah salah satu perusahaan yang menunjukkan kontribusi nyata pada masyarakat dan bangsa.

Korindo Bukan Sekedar Cari Untung, Tapi Memperhatikan Tanggung Jawab Sosial

Sahabat pembaca, sudah pernahkah mendengar nama perusahaan Korindo?

Korindo adalah perusahaan Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1969. Awalnya perusahaan ini fokus utamanya bergerak dalam pengembangan hardwood, kemudian beralih ke plywood/veener (1974), kertas koran (1984), perkebunan kayu (1993), dan sekarang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit sejak 1995.

Selengkapnya sahabat pembaca dapat menyaksikan video singkat ini, untuk mengenal Korindo lebih jauh lagi.

Perusahaan yang memiliki visi “Mewujudkan bisnis berkelanjutan dan selangkah di depan dalam menghormati semua nilai di bumi” ini, ternyata berkomitmen terhadap pembangunan negara dan rakyat Indonesia. Korindo juga berupaya maksimal untuk menciptakan dampak yang berarti di masyarakat tempat mereka bekerja.

Berikut adalah beberapa dampak nyata yang dilakukan Korindo sebagai bagian tanggung jawab sosialnya.  Seperti, tetap mendukung fasilitas pendidikan. Menciptakan peluang usaha di dalam masyarakat untuk mengurangi kemiskinan. Secara aktif menciptakan program – program baru untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Dan yang lainnya.

Kalau berbicara tentang pelayanan kesehatan, maka Korindo hadir dan sangat memperhatikan kesehatan yang baik untuk sesama. Salah satu wujudnya adalah dengan kehadiran Klinik Asiki.

Klinik Asiki Wujud Peduli Korindo

Selama beroperasi di Indonesia (50 tahun), Korindo telah melakukan banyak upaya untuk membangun masyarakat berkelanjutan di berbagai bidang melalui program-program Corporate Social Contribution-nya (CSC). Salah satunya, program yang berhubungan dengan kesehatan

Dalam hal kesehatan, Korindo telah bekerja sama dengan KOICA (Korea International Cooperation Agency), dan telah berhasil mendirikan Klinik Asiki di Kampung Asiki, Kabupaten Boven Digoel, Propinsi Papua, yang memiliki gedung seluas 1.100m2.

Klinik yang dikategorikan sebagai klinik modern ini ternyata telah memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti ruang rawat jalan, rawat inap, ruang bersalin, perawatan bayi/perinatologi, IGD, ruang bedah minor, USG, farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan ambulans.

Kehadiran Klinik Asiki tentu akan sangat membantu masyarakat setempat. Apalagi pengobatan di klinik ini dipersembahkan secara gratis bagi putra daerah Papua dan masyarakat tidak mampu sebagai kontribusinya dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan.

Saya bisa membayangkan, bagaimana seandainya di daerah yang berada di pedalaman  tidak didukung fasilitas kesehatan seperti Klinik Asiki. Apa yang terjadi dengan masyarakat yang sedang sakit atau mungkin sekarat. Sebab saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri, ada yang sakit tetapi tidak dapat tertolong karena ketiadaan fasilitas kesehatan, seperti cerita pengalaman pribadi di awal tulisan ini.

Bagiku masyarakat yang tinggal di Asika atau sekitarnya, sungguh sangat beruntung, walaupun berada di pedalaman tetapi memiliki fasilitas kesehatan yang memadai, karena keberadaan Klinik Asiki. Apalagi Klinik Asiki, bukan sekedar ada. Tetapi dapat menunjukkan kualitas pelayanan yang terbaik. Bahkan keberadaan Klinik Asiki ini benar-benar hadir sebagai bentuk kepedulian terbaik bagi masyarakat.

Sebagai fakta, silahkan simak video singkat berikut yang berisi tentang profil dan prestasi dari Klinik Asiki. Kalau membandingkan klinik Fasililitas Kesehatan (Faskes) tingkat 1 di tempat saya yang tergolong kota, ternyata masih kalah dengan Klinik Asiki yang berada di pedalaman.

Nah, sudah melihat prestasi dari Klinik Asiki bukan?

Sejak tahun 2017 Klinik Asiki telah menjadi klinik terbaik se-Papua dan Papua Barat, kemudian prestasi tersebut terulang kembali di tahun 2018.

Selanjutnya tahun 2019, Klinik Asiki mendapat sebuah penghargaan tingkat nasional (juara kedua) sebagai FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Sungguh ini adalah prestasi yang luar biasa. Seperti yang disampaikan oleh Firman Jawawijaya, Manager Klinik Asiki, bahwa “Di Indonesia ada 23.000 FKTP yang berkerja sama dengan BPJS, untuk kategori klinik ada 6800 sekian”. Wajar saja kalau ini menjadi sebuah kebanggaan. Prestasi atas kerja keras menjadikan Klinik Asiki layak dijadikan sebagai model.

Apa yang telah dilakukan Korindo melalui Klinik Asiki tentu merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang dicanangkan pemerintah yang merupakan bagian kesepakatan global dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, poin nomor 3 yaitu “Kehidupan Sehat dan Sejahtera“.

Melalui keberadaan Klinik Asiki, tentu kita semakin mengerti apa yang pernah disampaikan mantan Presiden Amerika, John F. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan bagi negara.”

Akhir kata selamat melayani Klinik Asiki, selamat mengabdi Korindo.


Daftar Bacaan :

  1. Daerah Tertinggal Menurut Perpres
  2. Klinik Asiki
  3. Kontribusi Sosial Korindo
  4. Lima Fokus Masalah Kesehatan
  5. Profil Korindo
  6. SDGs

Related Post

One Reply to “Klinik Asiki, Wujud Peduli Korindo Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *