Strategi “Survive” dan Meningkatkan “Added Value” Masa Pandemi

Survive” dan “Added Value” merupakan dua kunci menyiasati pandemi Covid-19 yang sedang kita hadapi. Demikian disampaikan Aldy Amir (Senior Manager Work Program SKK Migas) pada acara Temu Netizen Daring Ngopi Ngegas (Ngopi Bareng Ngebahas Gas) pada hari Selasa (27/10/2020) lalu.

Atau selengkapnya, Aldy menyampaikan “Bagaimana agar bisa tetap produktif di era pandemi? Walau mungkin banyak sekali tantangan, baik secara internal dan eksternal yang harus dihadapi. Kita harus melakukan inovasi-inovasi untuk survive. Kita harus berusaha untuk meningkatkan added value bagi diri kita dan orang lain.”

Aldy kemudian melanjutkan, bahwa hampir semua sektor era pandemi ini memang merasakan dampak. Semua aktivitas drop. Mobilitas manusia menurun. Termasuk penerbangan. Ini juga pasti berakibat pada menurunnya permintaan energi (minyak dan gas).

Menurunnya permintaan energi secara otomatis akan memengaruhi turunnya produksi dan juga harga. Ini menjadi tantangan terberat yang harus dihadapi sektor migas (SKK Migas) di era pandemi, bukan saja di Indonesia tapi di seluruh belahan dunia.

Tetapi SKK Migas tetap optimis. Aldy menyampaikan bahwa Indonesia masih merupakan market demand yang tinggi. Minyak dan gas masih dominan penggunaannya di negeri ini. Konsumsi nasional masih jauh lebih tinggi daripada produksi nasional.

Nah, Aldy memperkirakan bahwa tahun depan dan berikutnya, permintaan migas pasti kembali membaik. Untuk itu, harus menggenjot produksi migas, harus diupayakan tetap naik.

Mau tidak mau, SKK Migas harus tetap juga mengoptimalkan Industri Hulu Migas. Baik itu melalui aset yang sudah ada atau mencari (eksplorasi) sumber daya baru di seluruh Indonesia. Kita harus tetap memperjuangkan mimpi besar Indonesia bersama SKK Migas dengan 1 juta barel/hari. Papar Aldy Amir.

Untuk mencapai target tersebut, bagaimana mewujudkannya? SKK Migas telah merancancang sebuah Rencanaan Strategis Indonesia Oil & Gas (IOG) 4.0 yang diantaranya terdapat 10 pillars and enablers, 22 key program, 80+ target, 200+ action plans.

Sebelum mengakhiri sesinya, Mas Aldy menyampaikan sebuah kesimpulan. Ketika berhadapan dengan tantangan “global disruption”, misalnya pandemi Covid-19 atau bisa juga dalam bentuk lain, maka harus tahu bagaimana harus berespon.

Setidaknya dalam situasi seperti itu harus memiliki karakter flexible (fleksibel) dan agile (tangkas) untuk beradaptasi, bertansformasi dan berautomasi (mengoptimalkan teknologi digital yang dimiliki). Dengan demikian diharapkan produkstivitas akan meningkat.

Apa yang disampaikan oleh Aldy Amir, tidak saja berlaku pada sebuah perusahaan atau lembaga. Hal itu berlaku juga kepada kita sebagai pribadi. Tentu semua kita sedang berhadapan dengan dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Untuk itu, kita harus tetap survive dan meningkatkan added value.

Bagaimana agar kita tetap survive dan meningkatkan added value? Nah, silahkan lanjutkan membaca tulisan ini, narasumber berikutnya akan menjawab kedua hal tersebut dengan gamblang.

Prita Hapsari Ghozie yang berlaku sebagai narasumber kedua, mengajak netizen untuk survive dengan cara mengatur uang di masa pandemi.

Pada awal pembicaraannya, Prita memberikan sebuah simulasi singkat kepada netizen tentang pilihan seandainya memiliki gaji 15 juta. Apakah menyicil untuk tiket liburan, gadget atau mobil?

Melalui simulasi singkat itu, Prita menegaskan bahwa dampak dari pilihan akan menentukan keuangan kita. Misalnya ketika uang dialokasikan untuk aset konsumsi seperti mobil dan gadget, maka siap-siap saja nilainya akan terus menerus berkurang. Sementara uang yang menyicil aset konsumsi tersebut, akan menimbulkan kewajiban sampai waktu cicilan yang telah ditetapkan. Begitu juga ketika menyicil tiket liburan, tidak akan masuk aset sama sekali, sebaliknya akan menjadi kewajiban juga sampai waktu yang telah ditetapkan.

Pilihan-pilihan seperti itu, tentu beresiko kalau sampai mengabaikan aset tunai dan likuid seperti kas dan tabungan. Begitu pula ketika melalaikan aset investasi. Bukan tidak mungkin kekayaan sampai titik nol, bahkan minus.

Kalau begitu, bagaimana seharusnya trik mengatur uang terutama di masa pandemi seperti sekarang? Nah, yang pertama kali harus dilakukan yaitu mengidentifikasi sumber pemasukan. Misalnya dari gaji bulanan atau dari hasil mengelola uang pada aset aktif. Aset aktif itu sendiri terdiri atas dua bagian yaitu aset portofolio dan aset produktif.

Pernah mendengar apa yang membedakan aset portofolio dan aset produktif? Aset portofolio yang disebut juga sebagai aset keuangan, artinya tanpa dikerjakan pun hasilnya bisa datang. Misalnya bunga tabungan, kupon obligasi, dan deviden saham. Sementara aset produktif merupakan aset yang harus tetap diusahakan seperti menyewakan kontrakan, mobil usaha dan bisnis online.

Selanjutnya, dari gaji bulanan dan hasil aset aktif tersebut kita harus bijaksana mengelolanya, khususnya yang akan digunakan sebagai pengeluaran. Idealnya, kita seharusnya mengalokasikannya pada kebutuhan bukan keinginan.

Selain itu, Prita juga menyarankan 5 tips dan trik untuk mengelola keuangan. Pertama, if you cannot pay cash, then you cannot affort it. Prinsipnya, perlu pemahaman tentang barang apa yang sesungguhnya perlu dibeli atau tidak dengan cicilan.

Kedua. Start small, but start now. Jangan berpikir tunggu memiliki uang besar baru mulai mengatur keuangan atau mulai berinvestasi.

Ketiga. Make Automatic savings. Buat tabungan yang otomatis tersimpan dengan sistem, sehingga setiap awal bulan ketika mendapatkan gaji sudah terlebih dulu disisihkan. Ini merupakan cara mendisiplinkan diri dalam menabung.

Keempat. Tambah earning Power. Pada saat kita sudah kesulitan melakukan penghematan, bisa jadi karena kewajiban sudah terlalu banyak. Kalau sudah demikian, pasti kita kesulitan untuk menghemat kebutuhan maupun keinginan. Dengan demikian sudah saatnya memaksimalkan diri untuk meningkatkan penghasilan.

Kelima. Side hustle. Ketika ingin melakukan pekerjaan sampingan, tetaplah memperhatikan aturan pekerjaan utama, agar tidak melanggar aturan yang ada. Bagi Prita, untuk mengukur atau mengevaluasi pekerja sampingan tersebut selalu menggunakan formula 4E, enjoy, excellent, easy, earn.

Nah dari narasumber berikutnya, Alexander Thian. Khusus pada narasumber ketiga ini kita dapat belajar bagaimana meningkatkan added value.

Sejak pandemi Covid-19, ternyata Alex adalah salah seorang yang merasakan dampaknya. Dari bulan Februari hingga September 2020, ternyata harus membatalkan sekitar 7 trip yang telah direncanakannya sebelumnya. Alex pun berpikir, selama di rumah saja kira-kira apa yang bisa dilakukan?

Ternyata ide membuat webinar pun muncul. Tentu sesuai dengan apa yang sudah dialaminya selama 10 tahun yakni tentang “Personal Branding” serta “Marketing & Story Telling”.

“Masa-masa pandemi seperti ini memang kita butuh kejelian dan kepekaan”. Ujarnya

Pada kesempatan ini, Alex juga menyampaikan bagaimana kita menambah added value melalui “personal branding”. Misalnya, ketika berada di media sosial, lakukan akun kita itu layaknya sebuah perusahaan. Kita harus tetap menjaga nama baik. Selanjutnya harus menentukan: apa yang kamu jual? siapa kamu di sosial media?

Selanjutnya, harus memperhatikan USP (unique selling poin) di media sosial kita. Untuk membantu, kita dapat merefleksikan pertanyaan ini. Apa yang membuat kamu berbeda? mengapa orang harus follow kamu? apa yang kamu tawarkan, yang orang lain tidak punya? apa value yang ingin kamu kasih di akun tersebut? apa yang kamu suka dan bisa kamu kembangkan?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu akan menjawab keinginan kita membangun personal branding yang kuat serta meningkatkan added value.

Caraku Membuat Ka(r)ya di Masa Pandemi

Nah, kalau di atas sudah saya disajikan tentang cara survive dan meningkatkan added value oleh tiga narasumber, maka saya juga tidak mau ketinggalan untuk berbagi pengalaman menyiasati masa pandemi Covid-19 ini.

Memasuki bulan kedelapan masa pandemi, tidak menyurutkan untuk tetap semangat berkarya. Salah satu yang saya lakukan adalah tetap disiplin dan konsisten menulis.

Bagi saya, menulis adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Bukan saja untuk menyalurkan bakat, ternyata menulis dapat juga menambah penghasilan untuk mengisi pundi-pundi keluarga.

Selama pandemi misalnya, saya sering mengikuti lomba menulis. Dari berbagai lomba tersebut, setidaknya ada beberapa yang karya tulis yang berhasil jadi pemenang.

Misalnya sebagai juara tiga “blog competition” yang diselenggarakan Bank Indonesia-Kompasiana, juara kedua lomba menulis yang diselenggarakan M-News, juara pertama “writing competition” yang diselenggarakan Bisnis Muda (Bisnis Indonesia Group), juara favorit “blog cempetition” yang diselenggarakan blibli.com, juara tiga lomba blog yang diselenggarakan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Dan seterusnya.

Selain mengikuti lomba menulis, saya juga aktif mengikuti webinar yang dapat menunjang profesi saya sebagai guru, penulis dan topik-topik yang relevan dengan kebutuhan pengembangan diri serta memperluas pengetahuan. Dari berbagai webinar, ternyata tidak sedikit memberikan kenang-kenangan buku karena dianggap sebagai peserta terbaik.

Bahkan yang tidak kalah menarik, bahwa pengalaman tersebut tidak sedikit yang mendapat pengakuan dari pihak lain. Bahkan diundang untuk menjadi narasumber webinar diberbagai tempat. Salah satunya, pernah menjadi narasumber (berbagi pengalaman) di webinar yang diselenggaran oleh Bank Indonesia-Kompasiana.

Jadi, sangat sepakat dengan apa yang disampaikan oleh ketiga narasumber pada Temu Netizen Daring Ngopi Ngegas. Untuk tetap survive kita tidak boleh berhenti berinovasi dan belajar. Terus meningkatkan nilai tambah diri dan membangun personal branding. Kembangkan setiap potensi dan bakat yang dimiliki.

Kalau hal itu sudah dilakukan, yakinlah bahwa kita akan terus berkembang dan mencapai titik impian. Akhir kata, saya ucapkan selamat membuat ka(r)ya.

2 Replies to “Strategi “Survive” dan Meningkatkan “Added Value” Masa Pandemi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *