Terbang Tinggi Ketika Pandemi Pergi

Sikap kita akan menentukan siapa diri kita sesungguhnya.

Begitu halnya ketika kita sedang berhadapan dengan pandemi Covid-19 seperti masa sekarang. Apakah kita menjadi pribadi yang bersyukur? Atau sebaliknya, memilih menggerutu ketika berhadapan dengan situasi sekaligus dampak yang ditimbulkan oleh pandemi yang sedang terjadi.

Apakah kita menjadi pribadi yang berupaya melihat hikmah dari pandemi? Atau barangkali hanya merasakannya sebagai sebuah masalah saja.

Selanjutnya, apakah kita mencoba menjadi pribadi yang fokus pada solusi? Atau, fokus pada masalah saja.

Sekali lagi, pilihan kita akan menentukan sikap kita. Sekaligus menentukan jati diri kita.

Orang yang mampu bersyukur pada masa sulit seperti sekarang dan melihat hikmah di balik pandemi, sesungguhnya adalah orang yang sedang menunjukkan kualitas dirinya.

Berbeda dengan orang yang melihatnya sebagai suatu masalah dan selalu menggerutu dengan keadaan. Mereka cenderung tidak menemukan pembelajaran hidup dalam situasi seperti sekarang. Bahkan merekalah yang cenderung akan menyerah ketika berhadapan dengan berbagai masalah yang ditimbulkan pandemi seperti sekarang.

Saya jadi teringat dengan sebuah perenungan pribadi masa pandemi ini. Pada akhirnya saya membuat sebuah kesimpulan bahwa,

“Kata menyerah adalah harta terakhir kaum pesimis. Sementara kaum optimis memiliki kata berserah sebagai harta pertamanya.” (Thurneysen)

Masa pandemi, sejatinya kita berserah kepada Tuhan. Sebab itulah sesungguhnya kekuatan kita untuk menjalani hari-hari di tengah ketidakpastian ini. Memilih berserah kepada Tuhan, justru akan membuka pintu keajaiban, optimisme dan harapan. Hal itu adalah sebagai dasar penyemangat kita untuk terus berjuang, belajar, dan berkarya.

Secara manusiawi, memang adakalanya masa-masa pandemi ini bahwa kita tidak luput dari berbagai kesedihan, kejenuhan dan kekhawatiran.

Barangkali diantara kita, ada yang bersedih karena kehilangan anggota keluarga, kerabat atau sahabat yang dicintai karena terpapar covid-19. Hidup memang tidak ada yang mengetahuinya, hanya Tuhan pemilik kehidupan yang lebih tahu dari diri kita.

Tentu tidak sedikit juga yang merasakan kejenuhan karena harus mengikuti berbagai aturan dan protokol kesehatan yang sangat ketat demi kebaikan bersama. Saban hari kita harus menggunakan masker, tidak boleh bersalaman, menghindari kerumunan, hingga membatasi berbagai aktivitas.

Di tengah kondisi yang demikian, sesungguhnya kita sedang dilatih dengan sebuah kecerdasan mengubah tantangan ( masalah ) menjadi peluang ( kesempatan ). Paul G. Stoltz mengatakan ini sebagai AQ (Adversity Quotion).

Saya pribadi harus melatih kecerdasan tersebut dalam diri. Tetap memilih sikap yang positif, hal yang baik dan memegang prinsip yang benar ketika harus berhadapan dengan berbagai masalah atau kesulitan masa pandemi ini. Saya pun harus memanfaatkan situasi yang demikian untuk terus belajar. Untuk itu saya harus terus berbenah diri, baik dari segi pengetahuan dan keahlian.

Menurut saya, belajar juga adalah cara kita untuk terus bertahan dalam berbagai gelombang perubahan. Tanpa belajar, tentu akan sulit beradaptasi dengan banyaknya cara-cara baru yang kita hadapi semasa pandemi ini. Atau barangkali kita tidak akan mampu mengikuti dinamika yang terjadi ketika kita berhenti belajar.

Ilustrasi (dokumentasi pribadi)

 

Tentunya belajar saja tidak cukup. Apa yang kita pelajari harus sesegera mungkin kita aplikasikan dalam kehidupan. Kita pun harus berkreasi atau berkarya nyata. Selain karena kita dapat terus bertumbuh dan berkembang di dalamnya, kita pun dapat menjadi berkat dan menularkan berbagai manfaat kepada orang lain.

Senada dengan hal tersebut, saya pun tetap berkomitmen, tidak akan pernah berhenti berkarya. Menularkan semangat yang dapat menginspirasi bagi orang lain. Misalnya, melalui tulisan-tulisan selama pandemi ini. Saya yakin akan ada banyak orang di luar sana yang dapat merasakan manfaat dari karya saya tersebut.

Barangkali ada yang akan beranggapan bahwa karya itu sangat sederhana. Tetapi kita tidak boleh surut semangat. Saya yakin, kalau hal itu terus menerus dikerjakan dengan tulus dan konsisten, tentu tidak akan ada yang sia-sia. Tulisan-tulisan itu akan bertemu dengan “jodohnya”.

Nah, kaitannya dengan belajar dan berkarya, setidaknya ada puluhan seminar, pelatihan dan talkshow yang saya ikuti masa pandemi ini. Baik itu yang berhubungan dengan tema pendidikan, kebangsaan, dan ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan diri dalam hal teknologi digital.

Sementara dalam hal karya, saya aktif menulis di berbagai platform dan mengikuti lomba menulis selama pandemi ini. Menariknya, ternyata ada puluhan tulisan saya yang dinyatakan menjadi pemenang lomba tingkat nasional. Berikut adalah beberapa prestasi yang saya torehkan selama pandemi ini.

 

1. Juara 3 Lomba Blog, Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), Maret 2020

2. Juara Favorit Blog Competition Blibli.com, April 2020

3. Juara 1 Writing Competition Bisnis Muda (Bisnis Indonesia), Ags. 2020

4. Juara 2 Lomba Menulis M-News, Agustus 2020
5. Juara 3 Blog Competition Bank Indonesia – Kompasiana, Sept. 2020

6. Nominasi Lomba Blog Puspeka – Kemdikbud RI, Oktober 2020.

7. Juara Harapan, Lomba Blog Guruinovatif.Id, HAFECS, Nov. 2020.

8. Finalis Bank Indonesia Digital Content Competition, Februari 2021

9. 10 Konten Pilihan pada workshop BI Netifest 2021, Februari 2021.

10. Penulis teraktif minggu pertama Maret pada platform Guraru, Maret 2021

11. Pemenang “Get Knowledge Get Prize” periode pertama Perpustakaan Bank Indonesia (Perpusbi), Maret 2021

12. Pemenang Favorit Lomba Menulis Ditjen SDA (PUPR) – Tempo, Maret 2021

13. Penulis teraktif bulanan pada platform Guraru, April 2021

14. Juara Harapan Lomba Blog Guruinovatif.id, April 2021

15. 30 Kompasianer Terbaik Mengajar di Kompasiana, Juli 2021

16. Juara Favorit Writing Competition Bisnis Muda, Agustus 2021

17. Juara Terbaik Lomba Menulis “Indonesia Bangkit” MiNews, Sept 2021

Dll

Pemenang Blog Competition (Bank Indonesia – Kompasiana) sekaligus menjadi salah seorang Narasumber “Berbagi Tips menang Lomba”

Jadi, tidak ada alasan saya untuk menunggu situasi lebih baik baru memulai untuk giat belajar dan berkarya. Saya tidak akan membiarkan diri untuk direnggut oleh yang namanya kemalasan atau kalah dengan nikmatnya rebahan.

Belajar dan berkarya selama pandemi, tentu merupakan cara yang paling tepat ketika kita hendak mempersiapkan diri memasuki masa “new normal” atau ketika pandemi sudah berakhir. Dengan belajar, artinya kita sedang mempersipkan diri untuk “terbang tinggi” ketika pandemi ini pergi. Kita harus siap memulai sesuatu yang baru, siap berkreasi dengan karya-karya yang lebih mumpuni.

Jadi, bagi saya pribadi, tidak ada kata berhenti untuk belajar dan berkarya. Bahkan, memasuki usia keempat puluh enam pun tahun ini, sesungguhnya tidak menjadi alasan bagi saya untuk menyatakan tidak perlu belajar dan berkarya lagi. Selagi masih hidup, harus terus belajar dan berkarya.

Belajar dan berkarya sesungguhnya tidak mengenal situasi dan tempat. Maksudnya, dalam situasi apa pun dan di mana pun, sesungguhnya kita bisa belajar dan berkarya. Termasuk ketika kita harus menghabiskan banyak waktu di rumah, seperti anjuran di awal masa pandemi bekerja, belajar dan beribadah dari rumah.

Menurut hemat saya, hal ini yang menjadi bentuk merdeka belajar dan berkarya. Intinya, usia, situasi, dan tempat tidak dapat membatasi kita lagi untuk belajar dan berkarya.

Akhirnya selagi masih pandemi, teruslah belajar dan berkarya. Sesungguhnya, yang kita lakukan masa pandemi ini, sejatinya menjadi bagian dalam pembangun harapan diri kita ketika kelak kita merdeka dari pandemi alias pasca pandemi.

Kalau begitu, apa harapanmu ketika pendemi sudah berakhir? Bagaimana mewujudkannya? Mari kita pikirkan dan lakukan dari sekarang. Salam.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours